SIVANA, BALIKPAPAN – Hutan mangrove yang kini tumbuh rapat di kawasan Graha Indah, Balikpapan, bukan hasil pekerjaan singkat. Kawasan seluas sekitar 150 hektare di bagian utara Teluk Balikpapan itu tumbuh melalui proses panjang sejak awal 2000-an, diwarnai kegagalan berulang dan ketekunan yang dijaga selama lebih dari dua dekade.
Agus Bei mulai menanam mangrove pada 2001, ketika kawasan pesisir Graha Indah masih dipandang sebagai lahan sulit. Sebagian wilayah berada di bawah permukaan laut, dengan karakter tanah berpasir dan terpengaruh pasang surut air laut. Pada masa itu, upaya menanam mangrove di kawasan tersebut kerap dianggap tidak lazim dan dipandang sebagai pekerjaan yang sia-sia. Ia pun mengingat, respons sosial yang ia terima justru berupa keraguan bahkan ejekan. Upaya yang dilakukan tanpa contoh keberhasilan sebelumnya membuatnya dianggap melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
“Kalau orang melakukan sesuatu yang baru, biasanya dianggap aneh. Karena mereka tidak tahu prosesnya, akhirnya jadi bahan tertawaan,” kata Agus saat dikunjungi Sivanamedia.com, di lokasi Mangrove Center Graha Indah, Kamis (22/1/2026).
Agus bukan berlatar belakang akademisi kehutanan. Pengetahuannya mengenai mangrove ia bangun secara otodidak. Ia mempelajari kualitas bibit, karakter media tanam, pasang surut air laut, hingga cara merawat mangrove di lahan ekstrem.
Pada fase awal, kegagalan menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Banyak bibit mati karena tidak mampu beradaptasi dengan kondisi tanah berpasir. Sebagian lainnya rusak akibat gelombang dan perubahan muka air laut. Namun, Agus tidak menghentikan upaya tersebut. Ia terus melakukan percobaan, mengevaluasi kegagalan, lalu mencoba kembali dengan pendekatan berbeda.
“Saya trial terus. Gagal, bangkit lagi. Sampai ketemu metode yang paling memungkinkan,” ujarnya.
Salah satu inovasi yang kemudian dikembangkan adalah penggunaan buis pot dan rekayasa media tanam. Metode ini memungkinkan akar mangrove bertahan di lahan yang tidak mampu mengikat secara alami, sehingga tanaman dapat tumbuh meski berada di wilayah yang sebelumnya dianggap tidak layak.
Disebutkan, kawasan ini tumbuh sekitar 40 jenis mangrove, dengan dominasi jenis Rhizophora mucronata. Tidak hanya vegetasi, kawasan tersebut juga menjadi habitat satwa endemik Kalimantan, salah satunya bekantan (Nasalis larvatus), primata berhidung mancung dengan bulu berwarna oranye yang kerap terlihat di sekitar hutan mangrove.
Agus menjelaskan, mangrove yang tumbuh bukan sekadar luasan kawasan atau jumlah pohon. Setiap tanaman memiliki keterikatan emosional karena dirawat melalui proses panjang.
“Menanam itu pakai hati. Bukan sekadar nanam. Ada hubungan batin,” tuturnya.
Rasa kehilangan muncul ketika tanaman yang dirawat bertahun-tahun rusak dalam waktu singkat akibat aktivitas tertentu.
“Bukan soal biaya tanamnya. Yang hilang itu generasi. Dan generasi berikutnya harus menunggu lagi,” tegasnya.
Perubahan kondisi lingkungan perlahan mengubah wajah Graha Indah. Kawasan yang sebelumnya sepi mulai dikenal sebagai lokasi edukasi dan wisata mangrove. Aktivitas susur sungai dengan perahu, pengamatan satwa, dan pembelajaran ekosistem pesisir mulai berkembang.
Namun Agus menegaskan, penanaman mangrove tidak pernah berangkat dari tujuan ekonomi. Ia menyebut, fokus awalnya adalah memulihkan lingkungan. Ketika kondisi alam membaik, dampak lain akan mengikuti secara alami.
“Saya fokus ke lingkungan. Kalau lingkungannya pulih, dampak lain akan mengikuti, termasuk ekonomi,” sebutnya.
Bagi Agus, pendekatan yang sejak awal berorientasi ekonomi justru berpotensi merusak. Ia menyinggung aktivitas ekonomi tertentu yang memberi keuntungan bagi segelintir pihak, tetapi meninggalkan dampak ekologis bagi masyarakat luas.
Sebaliknya, mangrove memberi manfaat lintas makhluk hidup, mulai dari perlindungan pesisir hingga ruang hidup bagi satwa dan manusia. Ketika mangrove mulai memiliki nilai ekonomi sebagai objek wisata, tantangan baru muncul. Agus mengingatkan agar pengelolaan kawasan tidak berhenti pada aspek hiburan semata. Ia menilai, destinasi wisata belum tentu mencerminkan kualitas lingkungan yang baik jika tidak dibarengi konsep edukasi.
“Yang harus didorong itu ekonomi hijau, tanpa merusak apa pun,” pesan Agus.
Menurutnya, wisata mangrove seharusnya menjadi ruang belajar tentang ekosistem, keanekaragaman hayati, dan hubungan manusia dengan alam. Tanpa pendekatan tersebut, wisata justru berisiko menimbulkan tekanan sosial dan ekologis di kemudian hari. Dalam perjalanannya, Agus juga kerap berhadapan dengan persoalan kebijakan dan lemahnya pengawasan. Ia menyoroti praktik pembangunan yang mengantongi izin, tetapi mengabaikan dampak ekologis terhadap kawasan mangrove.
“Kalau hanya karena punya surat lalu merasa boleh merusak, di situ pemerintah seharusnya lebih bijak,” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa lingkungan telah diciptakan dalam kondisi seimbang. Jika satu unsur dirusak, dampaknya akan menjalar ke persoalan lain yang akhirnya dirasakan masyarakat. Kesadaran itulah yang membuatnya tetap bertahan, meski upaya pelestarian sering kali berjalan berlawanan dengan kepentingan jangka pendek.
Kini, di usia 57 tahun, Agus tidak berbicara soal bangunan atau warisan fisik. Ia berharap yang tertinggal adalah cara berpikir tentang lingkungan. Ia ingin semakin banyak orang memahami bahwa menjaga alam tidak selalu berangkat dari kebijakan besar, melainkan dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Kalau saya tidak ada, yang saya tinggalkan itu pola pikir. Lingkungan ini dijaga, bukan ditunggu rusak dulu baru bertindak,” imbuhnya.
Agus mengaku, menjaga mangrove bukan pekerjaan singkat. Ia merupakan proses jangka panjang yang penuh risiko, kegagalan, dan kesabaran. Di sisi lain, lanjut Agus, penting untuk memastikan pesisir Teluk Balikpapan tetap menjadi ruang hidup yang layak bagi generasi yang akan datang.












