IAI Kaltim Kupas Konsep Kawasan Islamic Center Kutai Timur, Dari Respon Kontur hingga Kesiapan Teknis

0-0x0-0-0#

SIVANA, KALIMANTAN TIMUR – Beberapa rancangan kawasan pendukung Islamic Center Kutai Timur dibedah secara menyeluruh dalam forum Bedah Karya Arsitektur yang digelar oleh Ikatan Arsitek Indonesia Kalimantan Timur di Long April Samarinda, Sabtu (7/2/2026) malam.

Berbeda dari forum pengumuman pemenang pada umumnya, kegiatan ini disusun sebagai ruang pembahasan naratif dan teknis atas seluruh pendekatan desain yang masuk tahap kurasi.

Panel gambar dipajang mengelilingi ruangan, sementara arsitek, akademisi, dan mahasiswa membahas dari satu karya ke karya lain untuk membedah cara tiap peserta membaca tapak, merumuskan fungsi ruang, serta merespons karakter alam Kutai Timur.

Diskusi mengalir dari hal mendasar seperti orientasi bangunan terhadap matahari dan angin, hingga isu kompleks berupa sistem pengelolaan air hujan, hubungan ruang publik dengan area ibadah, serta kesiapan struktur menghadapi kontur tanah yang tidak rata.

Ketua IAI Kaltim, Wahyullah Bandung, menjelaskan bahwa pendekatan sayembara sejak awal dirancang agar gagasan kawasan tidak langsung terkunci pada skema teknis proyek pemerintah.

Menurutnya, banyak proyek publik kerap kehilangan kekuatan konsep karena perencanaan langsung masuk tahap Detail Engineering Design (DED) tanpa fondasi gagasan ruang yang matang.

“Gagasan besar kawasan harus lahir lebih dulu. Dari situlah DED diterjemahkan. Kalau konsep awalnya kuat, proses teknis akan mengikuti arah yang jelas, bukan sekadar menyusun gambar kerja,” ujarnya saat diwawancara usai kegiatan tersebut.

Ia mengatakan, keterbukaan sayembara memungkinkan banyak perspektif arsitektur saling berhadapan dan diuji.

“Arsitek muda bisa bertemu gagasan profesional senior. Pemerintah akhirnya memiliki beragam cara membaca tapak dan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.

Puluhan karya yang masuk kurasi memperlihatkan pendekatan yang sangat beragam. Sejumlah peserta menjadikan lanskap sebagai struktur utama kawasan, memanfaatkan ruang terbuka hijau sebagai pengikat antar fungsi.

Ada pula konsep yang menempatkan sistem drainase terbuka sebagai elemen arsitektur, air hujan dialirkan kembali ke area vegetasi untuk menjaga kelembapan tanah sekaligus mengurangi limpasan.

Beberapa desain mengeksplorasi penggunaan panel surya sebagai sumber energi kawasan, sementara lainnya mengembangkan koridor pejalan kaki teduh sebagai tulang punggung sirkulasi publik.

Setiap pendekatan tidak hanya dipaparkan, tetapi dikritisi secara teknis, yakni apakah sistem tersebut realistis dibangun, bagaimana perawatannya, hingga dampaknya terhadap biaya jangka panjang.

Benang merah yang muncul hampir di seluruh karya merupakan respon terhadap masjid utama Islamic Center yang telah berdiri sebagai struktur existing.

Para peserta tidak diberi ruang untuk mengalahkan bangunan utama tersebut, melainkan diminta merancang kawasan pendukung yang justru memperkuat peran masjid sebagai pusat visual dan spiritual.
Solusi yang lahir sangat variatif.

Sebagian memilih membagi massa bangunan menjadi volume kecil agar tidak terasa masif. Ada yang menurunkan ketinggian bangunan secara bertahap mengikuti kontur tanah. Ada pula yang memaksimalkan ruang terbuka sebagai jarak visual antara fasilitas pendukung dan masjid.

Namun satu karya mencuri perhatian karena hampir sepenuhnya membiarkan kontur alam menjadi pembentuk ruang utama.

“Juara pertama tidak meratakan lahan secara ekstrem. Bangunan pendukung ditempatkan lebih rendah dari masjid dan mengikuti geografi tapak,” terang Wahyullah.

Pendekatan tersebut membuat struktur baru tidak mendominasi kawasan, melainkan menjadi bagian dari lanskap.

Lebih jauh, komposisi ruangnya dirancang berlapis mulai dari area publik yang ramai, zona diskusi dan edukasi, ruang kontemplasi yang lebih tenang, hingga inti aktivitas religius.

Struktur berjenjang itu pun dipahami sebagai terjemahan nilai tawadu atau kerendahan hati dalam konteks arsitektur.

Dalam setiap pembahasan, fasilitator forum terus menarik diskusi kembali pada aspek teknis. Terkait, bagaimana sistem struktur bekerja di tanah berkontur, apakah material yang dipilih mudah diperoleh di daerah, dan
Seberapa besar biaya konstruksi dan perawatannya.

“Desain yang menarik di atas kertas belum tentu bisa diwujudkan. Keterbangunan dan kewajaran anggaran menjadi syarat utama,” tegas Wahyullah.

Beberapa konsep dinilai unggul dalam gagasan ekologis, namun membutuhkan rekayasa struktur yang mahal.

Sebaliknya, ada desain yang tampak sederhana tetapi sangat realistis untuk diterapkan dalam jangka pendek.

Forum tersebut kemudian berfungsi sebagai pemetaan nyata, yakni mana ide yang siap dibangun, mana yang masih perlu pengembangan. Salah satu isu krusial yang mengemuka adalah risiko hilangnya konsep dasar saat proyek memasuki tahap teknis.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah daerah direncanakan akan melibatkan tim perancang juara sebagai pendamping teknis dalam penyusunan DED.

Dengan cara ini, gagasan kawasan yang lahir dari proses sayembara tidak tereduksi oleh kebutuhan teknis semata, tetapi justru diterjemahkan secara utuh dalam gambar kerja dan konstruksi.

Forum bedah karya ini juga menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa arsitektur dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan Timur.

Mereka tidak hanya menyimak presentasi visual, tetapi terlibat langsung dalam diskusi teknis seputar kontur lahan, sistem penghawaan alami, hingga cara desain merespons iklim tropis.

Salah satu peserta, Norfadela Issa, mahasiswa semester enam dari Institut Teknologi Kalimantan, mengungkapkan bahwa pembahasan karya memberi gambaran nyata bagaimana konsep arsitektur diterjemahkan menjadi kawasan yang menyatu dengan kondisi tapak.

Ia menyoroti karya juara yang memilih tidak meratakan kontur tanah secara ekstrem, melainkan menempatkan bangunan mengikuti bentuk alami lahan.

“Bangunannya diletakkan di bawah kontur yang ada, jadi tidak memaksakan tanah diratakan. Fungsinya tetap berjalan, tapi alamnya tidak dihilangkan,” ucapnya.

Menurut Dela, pendekatan tersebut membuka pemahaman baru tentang bagaimana desain bisa bekerja sejalan dengan lingkungan, termasuk dalam pengaturan iklim mikro kawasan.

Ia juga tertarik pada pemanfaatan vegetasi sebagai bagian dari sistem penghawaan alami.

“Tadi dijelaskan bagaimana angin bisa masuk, bagaimana vegetasi membantu sirkulasi udara. Itu menarik karena tidak hanya bergantung pada bangunan tertutup atau sistem buatan,” ungkap Dela.

Selain membaca konsep ruang, mahasiswa juga diajak memahami proses berpikir arsitek dalam mengambil referensi desain dari berbagai preseden internasional, lalu menyesuaikannya dengan konteks Kutai Timur.

Diskusi ini, menurut Dela, memberi gambaran bahwa merancang kawasan publik tidak sekadar membuat bentuk menarik, tetapi harus mempertimbangkan fungsi, iklim, struktur tanah, hingga keberlanjutan jangka panjang.

Ia pun mendorong mahasiswa arsitektur untuk lebih aktif terlibat dalam sayembara desain.

“Sayembara itu ruang belajar besar. Jangan takut mencoba, mulai dari skala kecil sampai besar, karena di situ kita belajar membaca masalah nyata,” tekan Dela.

Dengan adanya rangkaian diskusi panjang tersebut, IAI Kaltim menempatkan perencanaan Islamic Center Kutai Timur sebagai proses bertahap yang tidak berhenti pada satu proyek fisik.

Kawasan itu diarahkan berkembang sebagai ruang publik religius sekaligus sosial, tempat ibadah, edukasi, interaksi masyarakat, dan aktivitas budaya bertemu dalam satu lanskap terpadu.

Pendekatan berbasis sayembara dan pembahasan mendalam ini menjadi salah satu pola perencanaan kawasan strategis yang diuji dalam forum tersebut.

Dengan cara itu, Islamic Center Kutai Timur tidak hanya dibangun sebagai kompleks bangunan, namun sebagai kawasan yang tumbuh dari dialog antara ide kreatif, kondisi alam, dan kebutuhan masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *