SIVANA, BALIKPAPAN – Intensitas hujan di Balikpapan dipastikan berada pada level tertinggi sepanjang tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan menyatakan, Januari 2026 merupakan fase puncak musim hujan yang berpotensi memicu berbagai kejadian hidrometeorologi.
Ketua Tim Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Carolina Meylita Sibarani, menjelaskan kondisi tersebut telah terpantau sejak beberapa bulan sebelumnya dan kini mulai menunjukkan dampak nyata di lapangan.
“Januari memang menjadi puncak musim hujan di Balikpapan. Peningkatan curah hujan sudah sesuai dengan pola yang kami prediksi sejak Oktober 2025,” ujar Carolina, Minggu (11/1/2026).
BMKG mencatat, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Kota Balikpapan. Kondisi ini meningkatkan potensi banjir di kawasan dataran rendah, longsor di wilayah berbukit, serta kejadian pohon tumbang akibat tanah jenuh air.
Seiring dengan meningkatnya risiko, pemerintah kota telah melakukan langkah antisipatif dengan pemasangan rambu peringatan banjir di beberapa titik rawan. Namun BMKG menegaskan, kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi elemen penting dalam pengurangan risiko bencana.
“Upaya mitigasi tidak hanya bergantung pada pemerintah. Masyarakat perlu lebih waspada, terutama yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor,” jelas Carolina.
Sementara itu, untuk wilayah perairan Balikpapan dan sekitarnya, BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut masih relatif rendah, berkisar antara 0,5 hingga 1 meter dalam sepekan ke depan. Meski demikian, potensi angin kencang tetap perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kondisi perairan secara cepat.
“Angin kencang dapat meningkatkan tinggi gelombang dan berpengaruh terhadap aktivitas pelayaran maupun nelayan,” pungkasnya.
BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin memantau informasi cuaca resmi dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Langkah sederhana seperti membersihkan saluran air dan menghindari aktivitas di area rawan dinilai dapat mengurangi risiko selama periode cuaca ekstrem ini.












