SIVANA, BALIKPAPAN – Kinerja intermediasi perbankan di wilayah kerja Bank Indonesia Balikpapan sepanjang 2025 menunjukkan pertumbuhan kuat dan menjadi salah satu penopang utama pergerakan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global.
Wilayah kerja ini meliputi Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser. Total penyaluran kredit perbankan tercatat mencapai Rp41,68 triliun atau tumbuh 19,62 persen (year on year), berbalik signifikan dibandingkan 2024 yang sempat terkontraksi 7,05 persen dengan nilai Rp34,84 triliun.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan pertumbuhan kredit yang tinggi menunjukkan fungsi intermediasi perbankan berjalan optimal dalam mendorong aktivitas ekonomi.
“Kuatnya pertumbuhan kredit ini menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Ini menunjukkan prospek usaha di Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser terus berkembang sehingga mendorong perbankan lebih percaya diri menyalurkan pembiayaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, 13 Februari 2026.
Ia menerangkan, kualitas kredit juga tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) pada 2025 tercatat 2,25 persen, sedikit meningkat dari 2,10 persen pada 2024, namun masih jauh di bawah ambang batas aman 5 persen.
Berdasarkan jenis penggunaannya, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh kredit investasi yang melonjak 72,21 persen (yoy) hingga mencapai Rp16,78 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan terus bergulirnya proyek industri hilirisasi dan meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi.
Sementara itu, kredit konsumsi tetap tumbuh stabil sebesar 7,33 persen (yoy) dengan nilai Rp14,47 triliun. Secara struktur, pembiayaan masih didominasi sektor produktif. Sekitar 65,29 persen kredit terserap untuk kegiatan usaha melalui kredit investasi dan modal kerja, sedangkan 34,71 persen dialokasikan untuk kredit konsumsi.
“Struktur pembiayaan ini menunjukkan aktivitas usaha masih menjadi penggerak utama permintaan kredit di daerah,” ucap Robi.
Dilihat dari sektor usaha, penyaluran kredit masih terpusat pada tiga lapangan usaha utama. Sektor konstruksi menyerap porsi terbesar 18,97 persen, disusul perdagangan 13,41 persen, dan pertanian 12,75 persen.
Komposisi tersebut sejalan dengan struktur ekonomi kawasan, di mana Balikpapan menjadi pusat perdagangan, sementara Penajam Paser Utara dan Paser berperan sebagai sentra pertanian, serta tingginya aktivitas pembangunan yang menopang sektor konstruksi.
Kualitas kredit pada ketiga sektor ini juga terjaga, dengan NPL tetap di bawah 5 persen.
Penyaluran kredit untuk pelaku UMKM tercatat Rp12,85 triliun, relatif stabil dibandingkan 2024 yang sebesar Rp12,95 triliun. Pembiayaan masih didominasi kredit modal kerja dengan porsi 53,7 persen, sementara investasi sebesar 46,3 persen.
Dari sisi skala usaha, kredit mikro dan kecil menjadi tulang punggung dengan pangsa masing-masing 37,59 persen dan 38,71 persen, sedangkan kredit menengah sebesar 23,70 persen.
“Berbagai program pemberdayaan dan penguatan kapasitas UMKM turut menjaga stabilitas penyaluran kredit di sektor ini,” sebut Robi.
Rasio NPL kredit UMKM pada 2025 tercatat 3,8 persen, meningkat dari 2,8 persen pada 2024, namun tetap berada dalam batas aman.
Di sisi lain, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan pada 2025 tercatat Rp52,88 triliun atau tumbuh 1,85 persen (yoy), melambat dibandingkan 2024 yang tumbuh 6,02 persen.
Struktur DPK masih didominasi tabungan sebesar 49,12 persen, diikuti giro 34,86 persen, dan deposito 16,02 persen.
“Dengan pertumbuhan kredit yang kuat dan kualitas pembiayaan yang tetap terjaga, sektor perbankan terus menjadi penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Robi.












