SIVANA, BALIKPAPAN – Jauh sebelum duduk di kursi Wakil Ketua Dewan, Budiono pernah menjadikan masjid sebagai tempat berteduh.
Biasanya, perjalanan seorang politisi dimulai dari organisasi, keluarga, atau pendidikan politik.
Nah, cerita hidup Budiono amat jauh dari itu semua.
Kisah epiknya, justru bermula dari keputusan sederhana merantau seorang diri.
Budiono lahir di Ngawi, Jawa Timur, 15 Maret 1970. Ia menamatkan pendidikan Sekolah Guru Olahraga di Kota Madiun, pada 1989.
Setahun berjalan, memutuskan meninggalkan Jawa dan merantau ke Balikpapan.
Tak ada keluarga yang menunggunya. Tidak ada pula pekerjaan yang sudah disiapkan.
Ia datang hanya dengan keberanian mencoba hidup di kota yang sama sekali baru.
Setibanya di Balikpapan, Budiono mencari masjid terdekat.
Lantas, menemukan sebuah masjid di kawasan Prapatan. Masjid itu menjadi tempatnya tinggal.
Budiono membantu membersihkan masjid sekaligus menjalani aktivitas sebagai kaum.
Dari sana, ia perlahan mencari pekerjaan untuk menyambung hidup.
“Tahun 1990, saya memutuskan merantau ke Kota Balikpapan. Di sini, tidak punya keluarga satu pun. Sampai di Balikpapan, cari masjid terdekat.”
“Tinggal di masjid, membantu membersihkan masjid, jadi kaum,” tutur Budiono kepada Sivanamedia.com.
Budiono mengenang awal langkahnya di kota, yang kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Setelah itu, ia bekerja sebagai kuli bangunan. Upah yang diterimanya ketika itu sekitar Rp6.000 sehari.
Nominal tersebut menjadi bagian dari kehidupan Budiono sebagai perantau.
Ia tak langsung menemukan pekerjaan mapan, apalagi jalan menuju gedung parlemen.
Budiono mengenang perjalanannya yang pernah menjalani pekerjaan kasar dan belajar bertahan hidup di kota orang.
Pada 1992, Budiono mulai aktif di PDI. Saat itu, partai tersebut belum menggunakan nama PDI Perjuangan.
Ia bergabung sebagai anggota dan aktif sebagai satuan tugas atau Satgas PDI.
Namun keterlibatannya dalam politik tidak serta-merta membuat kehidupan ekonominya berubah.
Budiono tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sekitar 1994, ia bekerja dalam proyek pembangunan pabrik di kawasan perminyakan.
Pekerjaan tersebut dijalaninya hingga sekitar 1997 di Bontang. Setelah itu, ia bekerja di Bandara Sepinggan Balikpapan.
Di tempat itulah jalan hidupnya mempertemukannya dengan Thohari Aziz, politikus PDIP Balikpapan.
Thohari inilah sosok yang kelak menjadi Ketua DPC PDIP Balikpapan sekaligus Wakil Wali Kota Balikpapan terpilih.
Pertemuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan politik Budiono.
Thohari mengenalkannya lebih jauh pada dunia partai dan politik.
“Sejak tahun 1997 saya ketemu Pak Thohari Aziz. Diajari tentang politik, tentang partai. Dari situ akhirnya saya masuk pengurus,” ujar Budiono.
Sejak itu, Budiono mulai dipercaya masuk dalam struktur partai.
Sekitar 2005, Budiono mulai menjadi pengurus di tingkat kecamatan atau PAC.
Lima tahun kemudian, ia naik ke tingkat DPC dan dipercaya menjadi bendahara. Setelah itu, ia menjadi sekretaris DPC.
Jalannya menuju parlemen, ternyata tidak langsung mulus.
Tahun 2009, Budiono ditugaskan partai untuk maju sebagai calon legislatif.
Namun ia tidak terpilih. Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti.
Di medio 2014, ia kembali mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Kali ini, namanya berhasil masuk ke DPRD Balikpapan.
“Tahun 2009 saya sudah ditugaskan partai menjadi caleg legislatif, tetapi tidak terpilih. Saya ulang lagi di 2014, menjadi caleg dan terpilih,” kisahnya.
Perjalanan yang dimulai dari merantau, tinggal di masjid, menjadi kuli bangunan, bekerja di proyek perminyakan.
Kemudian di bandara, akhirnya membawanya masuk ke gedung parlemen.
Akan tetapi perjalanan politiknya belum berhenti.
Politik Tak Harus Selalu Sepakat
Setelah terpilih menjadi anggota DPRD, Budiono dipercaya menjalani sejumlah posisi.
Ia pernah menjadi ketua fraksi dan kemudian Wakil Ketua Komisi I.
Pada periode berikutnya, ia kembali terpilih.
Karir politiknya juga mengalami perubahan setelah Thohari Aziz, ditugaskan partai menjadi calon Wakil Wali Kota Balikpapan.
Thohari terpilih bersama Rahmad Mas’ud di Pilkada 2020.
Namun Thohari meninggal dunia sebelum dilantik setelah terpapar Covid.
Budiono kemudian dipercaya meneruskan kepemimpinan DPC PDIP Balikpapan.
Ia juga ditugaskan menjadi Wakil Ketua DPRD.
Di balik perjalanan panjang tersebut, Budiono memiliki pandangan sendiri mengenai politik.
Baginya, politik bukan sekadar perebutan posisi.
“Politik itu bagi saya, keterlibatan kita bagi yang mempunyai harapan memperjuangkan masyarakat yang lebih baik lagi,,” jelas Budiono.
Ia mengingatkan tugas DPR, yang membuat regulasi, membahas dan menyepakati APBD, serta mengawasi pelaksanaan APBD.
Budiono juga memandang perbedaan sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari demokrasi.
Menurutnya, perbedaan pendapat bukan alasan untuk saling meniadakan.
Justru dari perbedaan itulah: keputusan bersama seharusnya dicari.
“Kalau politik itu hanya sejalan, orang bilang iya terus, tidak ada perbedaan, menurut saya itu bukan demokrasi,” tandasnya.
Demokrasi, menurut Budiono, ada perbedaan, tetapi tetap satu tujuan untuk kebersamaan.
Bung Karno dan Cara Melihat Indonesia
Ketertarikan Budiono terhadap politik juga tidak lepas dari sosok Soekarno.
Ia mengaku banyak membaca pemikiran dan buku-buku Bung Karno.
Baginya, gagasan Pancasila yang disampaikan Soekarno pada 1 Juni menjadi salah satu hal yang menarik dipelajari.
Ia melihat Pancasila sebagai gagasan yang mencoba mempertemukan berbagai perbedaan dalam satu bangsa.
Sebab itu, ia memandang agama dan kebudayaan tidak harus dipertentangkan.
Kemudian, lanjutnya, menjadi bagian dari agama tertentu tidak berarti harus kehilangan identitas sebagai orang Indonesia.
Pandangan itu, kemudian ia hubungkan dengan demokrasi.
Budiono menilai demokrasi Indonesia seharusnya tetap memberi ruang bagi perbedaan.
Katanya, sebisa mungkin keputusan ditempuh melalui musyawarah untuk mufakat.
Ia menegaskan bahwa demokrasi bukan tentang siapa yang paling keras suaranya, melainkan bagaimana perbedaan dapat menemukan titik temu.
Hari ini, Budiono duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan.
Posisi itu tidak datang dalam satu lompatan.
Ia melewati pekerjaan, kegagalan, dan tahun-tahun panjang sebagai perantau.
Mungkin, dari sanalah cara pandangnya tentang politik terbentuk.
Bahwa, sebelum berbicara kepentingan banyak orang, seseorang perlu tahu dulu bagaimana rasanya berjuang untuk dirinya.
Budiono bahkan pernah merasakan proses hidup sebagai kuli bangunan dengan upah Rp6.000 sehari.
Dan mungkin, ia tak pernah menyangka: proses itu bisa dilaluinya.
Apalagi sampai bisa menjadi wakil rakyat yang terhormat. Yang gajinya, beribu-ribu kali lipat. Menebar banyak manfaat.
Memberi ruang-ruang kemanfaatan lebih luas. Pada keluarga, konstituen dan masyarakat yang telah dibantunya.
Salsa
