Masjid Terlalu Sibuk Tampil Megah, Fauzan Noe’man Pertanyakan Arah dan Tanggung Jawabnya

SIVANA, KALTIM – Pembangunan masjid di berbagai daerah dinilai masih terjebak pada logika simbol dan kemegahan, sementara aspek keberlanjutan, fungsi ibadah, dan kesiapan pengelolaan justru sering tertinggal. Akibatnya, tidak sedikit masjid berdiri besar di awal, namun kesulitan bertahan secara operasional dalam jangka panjang.

Isu tersebut mengemuka dalam diskusi Perancangan Masjid di Indonesia: Antara Syariat, Budaya, dan Arsitektur yang digelar di Hitam Manis Heritage, Balikpapan, Selasa (13/1/2026). Forum ini menghadirkan arsitek, akademisi, hingga pemerhati ruang publik.

Arsitek Fauzan Noe’man, IAI, menilai problem utama pembangunan masjid bukan terletak pada kurangnya dana atau teknologi, melainkan pada cara pandang sejak tahap perencanaan.

Masjid, ucapnya, kerap diperlakukan sebagai monumen, bukan sebagai sistem ibadah yang harus hidup dan terawat.

“Banyak masjid selesai dibangun, tapi tidak siap dijalankan. Tidak ada perhitungan soal operasional, perawatan, dan keberlanjutan,” ujar pria yang akrab disapa Fauzan itu.

Ia menegaskan, dalam Islam, bangunan ibadah tidak berdiri sendiri sebagai objek fisik. Masjid adalah ruang amanah yang menuntut tanggung jawab sejak perencanaan hingga pemanfaatan jangka panjang.

Oleh karena itu, desain masjid semestinya berangkat dari kebutuhan jamaah dan konteks lingkungan, bukan ambisi visual.

Fauzan mengkritisi kecenderungan meniru bentuk-bentuk masjid dari luar konteks Indonesia, termasuk penggunaan elemen arsitektural yang tidak relevan dengan iklim tropis.

Bagi Fauzan, pendekatan semacam itu justru melahirkan bangunan yang boros energi dan sulit dirawat.

“Islam tidak mengajarkan pemborosan. Kalau bangunan menyulitkan jamaah dan pengelola, di situ ada yang keliru,” tuturnya.

Ia juga menyoroti penggunaan simbol-simbol arsitektur, seperti kubah, yang sering diposisikan sebagai keharusan. Padahal, kubah bukan bagian dari syhintaan syariat, melainkan hasil perkembangan teknologi struktur pada masa tertentu.

Masalah muncul ketika elemen tersebut hanya menjadi tempelan visual tanpa fungsi struktural maupun iklimatik. Dalam pandangan Fauzan, kejujuran fungsi dan material merupakan bagian dari etika Islam dalam membangun.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya memahami relasi bangunan masjid dengan alam. Prinsip ini, menurutnya, sejalan dengan ayat-ayat kauniyah yang mengajarkan manusia untuk membaca hukum alam, bukan melawannya.

“Arsitektur yang merusak lingkungan, boros sumber daya, dan mengabaikan iklim setempat bertentangan dengan nilai Islam,” tegasnya.

Dalam diskusi tersebut, Fauzan juga menyinggung fungsi masjid pada masa Rasulullah yang bersifat multifungsi yakni sebagai ruang ibadah, pendidikan, hingga sosial.

Kendati demikian, ia menekankan bahwa fungsi tersebut tidak bisa disalin mentah-mentah, melainkan harus disesuaikan dengan konteks ruang dan kebutuhan masyarakat hari ini.

Ia mencontohkan pentingnya ketepatan arah kiblat sebagai aspek mendasar yang tidak bisa dikompromikan. Dengan teknologi modern yang tersedia, kesalahan kiblat dinilai tidak lagi bisa ditoleransi sebagai kelalaian teknis.

Menutup paparannya, Fauzan menegaskan bahwa niat baik saja tidak cukup dalam membangun masjid. Ilmu, perencanaan, dan tanggung jawab sosial adalah bagian dari ibadah itu sendiri.

“Masjid bukan sekadar berdiri, tapi harus bermakna. Kalau tidak dipikirkan dengan benar, niat baik bisa berakhir jadi beban,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *