SIVANA, BALIKPAPAN – Wahyullah Bandung pernah membayangkan dirinya mengenakan seragam tentara. Sejak kecil, dunia militer tampak seperti jalan pengabdian yang ingin ditempuhnya.
Ia bahkan sempat mengikuti seleksi Akademi Militer. Administrasi dan tahapan awal berhasil dilewati. Namun, cita-cita itu berhenti ketika persoalan penglihatan membuatnya tersingkir dari proses seleksi.
Kegagalan tersebut tidak serta-merta membuat langkahnya terhenti. Anak bungsu dari keluarga guru itu justru menemukan jalan lain.
Ia berkenalan dengan dunia arsitektur, menghabiskan masa muda di Makassar, bekerja dari bangku kuliah, lalu menyeberang ke Kalimantan Timur.
Di Balikpapan, ia membangun karier sebagai arsitek sebelum akhirnya memasuki dunia politik.
Jauh sebelum duduk di kursi DPRD Balikpapan, Wahyullah adalah anak kampung yang terbiasa mengurus dirinya sendiri.
Wahyullah Bandung lahir pada 8 November 1977. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai bekal utama. Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru di kampung halaman mereka, Sidrap, Sulawesi Selatan.
Ia merupakan anak terakhir dalam keluarga. Sejak kecil, Wahyullah sudah memahami bahwa hidup tidak selalu menyediakan segala sesuatu dengan mudah.
Keluarganya bukan keluarga yang membangun masa depan dengan kemewahan. Modal utama yang mereka punya adalah pendidikan.
“Orang tua saya guru. Jadi, pendidikan itu memang menjadi modal utama keluarga,” ucap Wahyullah kepada Sivanamedia.
Kedekatannya dengan buku bermula dari rumah. Buku-buku yang datang dari Kementerian Pendidikan kerap lebih dahulu singgah di rumah orang tuanya sebelum dibawa ke perpustakaan sekolah.
Dari situ, Wahyullah memiliki kesempatan membaca lebih banyak dibandingkan anak-anak lain seusianya.
Buku agama, majalah, hingga berbagai bacaan lain menjadi teman masa kecilnya. Kebiasaan itu berlangsung sejak sekolah dasar sampai kelas enam.
Buku-buku tersebut tidak selalu dibaca karena tugas sekolah. Sebagian justru dibuka karena rasa ingin tahu.
Dari halaman-halaman bacaan itu, dunia Wahyullah perlahan menjadi lebih luas daripada lingkungan kampung tempat ia tumbuh.
Pendidikan formalnya dimulai di Sidrap. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan di Parepare. Jarak antara Sidrap dan Parepare sekitar 60 kilometer.
Pada masa itu, perjalanan tersebut bukan sekadar perpindahan tempat belajar. Wahyullah juga harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan tinggal bersama keluarga.
Ia bersekolah di SMP Negeri 1 Parepare, kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 1 Parepare. Kota Parepare kala itu dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan setelah Makassar.
Bagi Wahyullah, perpindahan itu menjadi bagian penting dari proses menuju kemandirian.
Sejak sekolah dasar, ia sudah terbiasa hidup tanpa banyak bergantung kepada orang lain. Mencuci pakaian, mengurus keperluan sendiri, dan menyelesaikan pekerjaan rumah bukan hal asing baginya.
Kebiasaan tersebut kelak terbawa ketika ia meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan tinggi.
Cita-cita yang Berhenti di Seleksi Akmil
Seperti banyak anak laki-laki pada masanya, Wahyullah pernah bercita-cita menjadi polisi atau tentara. Seragam, kedisiplinan, dan gagasan tentang pengabdian kepada negara membuat dunia militer terlihat menarik baginya.
Ketertarikan itu kemungkinan tidak datang begitu saja. Sejak kecil, Wahyullah juga senang mengikuti kegiatan pramuka.
Dunia yang dekat dengan kedisiplinan, kebersamaan, dan aktivitas di luar ruang tersebut menjadi salah satu pengalaman yang ikut membentuk bayangannya tentang kehidupan sebagai tentara atau polisi.
Ketika duduk di bangku SMA, ia mencoba mendaftarkan diri ke Akademi Militer. Tahap administrasi berhasil dilewati. Ia juga lolos pada tahap awal seleksi.
Namun, langkah itu kemudian terhenti karena persoalan mata. Penglihatannya tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Cita-cita menjadi tentara pun harus dikubur.
Kegagalan itu menjadi salah satu titik balik dalam hidupnya. Wahyullah tidak lagi bisa menggantungkan masa depan pada rencana yang sejak kecil dibayangkan. Ia harus mencari jalan lain.
Di masa SMA pula, ada dunia lain yang mempertemukannya dengan kehidupan yang lebih luas, yakni bola basket.
Wahyullah bukan sekadar bermain untuk mengisi waktu luang. Ia menekuni olahraga tersebut dengan serius. Ia bahkan pernah mewakili Tim Basket Kota Parepare dalam Pekan Olahraga Wilayah se-Sulawesi Selatan.
Lapangan basket membawanya bertemu banyak orang, bepergian ke kota lain, dan melihat kehidupan di luar lingkungan sekolah. Olahraga juga mengajarinya tentang persaingan, kerja sama, dan menerima hasil pertandingan.
Sehari sebelum ujian, ia masih berada di lapangan. Pagi harinya harus menghadapi Ebtanas, tetapi sore hingga malam ia tetap mengikuti latihan basket.
Bagi sebagian orang, ujian sekolah mungkin menjadi alasan untuk menghindari pertandingan. Namun, bagi Wahyullah, basket sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya ketika masih sekolah.
Dari olahraga itu, ia mulai mengenal kehidupan kota. Ia melihat bagaimana ruang publik digunakan, bagaimana fasilitas dibangun, dan bagaimana sebuah kota memberi tempat bagi aktivitas masyarakat.
Saat itu, mungkin ia belum membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian ia akan mempelajari dan membicarakan kota dari sudut pandang arsitektur maupun kebijakan publik.
Menemukan Arsitektur di Makassar
Setelah lulus SMA, Wahyullah melanjutkan pendidikan ke Makassar. Ia memilih jurusan arsitektur di Universitas Hasanuddin (Unhas).
Ia mulai kuliah pada 1995 dan menyelesaikan pendidikan sekitar 2002. Masa studinya berlangsung kurang lebih tujuh tahun.
Arsitektur bukan pilihan yang lahir dari kebiasaan menggambar sejak kecil. Wahyullah justru tertarik setelah melihat perjalanan seorang pamannya.
Sang paman merupakan arsitek, dosen, sekaligus konsultan. Dari sosok itulah Wahyullah melihat bahwa ilmu arsitektur bisa membuka banyak jalan.
Seorang arsitek tidak hanya bekerja menggambar bangunan. Ia bisa mengajar, menjadi konsultan, mengerjakan proyek, dan terlibat dalam proses pembangunan.
“Paman saya arsitek, dosen, dan konsultan. Saya melihat dari situ bahwa arsitektur bisa menjadi profesi,” tuturnya.
Pilihan tersebut kemudian membawanya ke dunia yang lebih luas. Di bangku kuliah, Wahyullah tidak hanya belajar tentang bentuk bangunan.
Ia pun mulai memahami bahwa arsitektur berkaitan dengan banyak hal. Seperti kehidupan sosial, kondisi ekonomi, matematika, fisika, budaya, hingga lingkungan.
Wahyullah berpandangan arsitektur tidak bisa dipersempit menjadi urusan menggambar denah atau membuat tampilan bangunan. Bangunan selalu berdiri di tengah kehidupan masyarakat.
Ketika sebuah bangunan dibangun, lanskap berubah. Ruang terbuka bisa berkurang. Aliran air dapat terganggu. Aktivitas warga ikut bergeser.
Karena nya, pekerjaan arsitek tidak berhenti pada bagaimana bangunan terlihat, tetapi juga bagaimana bangunan tersebut memengaruhi lingkungan di sekitarnya.
Pandangan itu tumbuh perlahan selama masa kuliah. Wahyullah membaca, berdiskusi, mengikuti perkembangan sosial, dan menyaksikan perubahan politik yang terjadi pada akhir 1990-an.
Ia bukan aktivis yang selalu berada di barisan depan demonstrasi. Namun, ia mengikuti diskusi-diskusi mahasiswa, termasuk pembicaraan tentang reformasi dan perubahan politik.
Sebagian aktivitas itu berlangsung di lingkungan masjid kampus dan kelompok-kelompok mahasiswa.
Di luar kegiatan akademik, Wahyullah juga mulai bekerja. Ia tidak menunggu sampai lulus untuk mengenal dunia profesi.

Pada semester-semester awal, terutama sekitar semester satu sampai lima, Wahyullah mulai memperoleh pekerjaan arsitektur melalui dosen dan teman-temannya.
Pekerjaan itu menjadi pengalaman penting. Ia mulai berhadapan dengan kebutuhan klien, gambar teknis, pengawasan, dan persoalan lapangan. Teori yang dipelajari di kampus perlahan bertemu dengan kondisi nyata.
Salah satu pekerjaan awalnya berkaitan dengan pembangunan gerbang di kompleks TNI Angkatan Udara. Ia juga pernah terlibat dalam pengawasan rumah dinas pejabat TNI Angkatan Laut.
Selain itu, ia mengerjakan sejumlah proyek rumah tinggal bersama senior maupun dosennya.
Dari proyek-proyek tersebut, Wahyullah belajar bahwa gambar di atas kertas tidak selalu berjalan mulus ketika masuk ke lapangan.
Ukuran lahan bisa berubah. Begitupun dengan ketersediaan material yang tidak selalu sesuai rencana. Keinginan pemilik bangunan kadang bertabrakan dengan anggaran. Pekerja di lapangan memiliki cara kerja sendiri.
Semua itu menuntut seorang arsitek untuk mampu berkomunikasi dan mengambil keputusan.
Pengalaman tersebut membuatnya semakin memahami arsitektur sebagai pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan manusia.
Ia tidak hanya dituntut menghasilkan bangunan yang baik secara teknis. Ia juga harus memahami kebutuhan orang yang akan menggunakan bangunan tersebut.
Setelah menyelesaikan kuliah pada 2002, Wahyullah mulai menjajal dunia kerja di luar Makassar.
Ia sempat pergi ke Berau, Kalimantan Timur, untuk mengunjungi saudaranya. Rencana awalnya hanya berlibur. Namun, kesempatan kerja datang lebih cepat dari yang diperkirakan.
Di Berau, ia terlibat dalam pekerjaan proyek PDAM sebagai drafter dan bagian engineering. Pekerjaan itu berlangsung selama beberapa bulan hingga sekitar satu tahun.
Pengalaman di Berau menjadi pintu masuk pertamanya ke Kalimantan Timur.
Setelah itu, ia kembali ke Makassar dan bekerja di sebuah perusahaan konsultan. Ia terlibat dalam proyek Indosat dan sejumlah pekerjaan lainnya.
Namun, Makassar bukan tempat terakhir yang dipilihnya.
Pindah ke Balikpapan
Pada Mei 2004, Wahyullah memutuskan pindah ke Balikpapan. Keputusan itu dipengaruhi oleh informasi dari teman-temannya mengenai peluang kerja dan penghasilan di kota minyak tersebut.
Menurut cerita yang ia dengar, penghasilan arsitek di Balikpapan bisa beberapa kali lipat dibandingkan di Makassar.
Dua perusahaan sempat menawarkan pekerjaan. Wahyullah kemudian memilih bergabung dengan sebuah perusahaan pengembang. Ia bekerja di perusahaan tersebut sekitar satu tahun.
Balikpapan memberinya pengalaman baru. Kota ini sedang tumbuh sebagai pusat industri, jasa, perdagangan, dan kegiatan pemerintahan. Pembangunan berlangsung di banyak tempat. Kebutuhan terhadap tenaga arsitektur pun terbuka lebar.
Wahyullah sempat mempertimbangkan bekerja di sektor pertambangan atau minyak dan gas karena penghasilannya dianggap menjanjikan. Namun, ia tetap memilih arsitektur.
Ada alasan yang lebih personal di balik pilihan itu. Arsitektur sudah menjadi bidang yang ia pahami sejak kuliah. Ia merasa memiliki kemampuan dan pengalaman untuk berkembang di sana.
“Kalau soal penghasilan, memang ada bidang lain yang lebih besar. Tetapi saya merasa arsitektur ini bidang saya,” sebutnya.
Di Balikpapan, ia mulai membangun jaringan profesional. Ia tidak hanya bekerja sebagai arsitek, tetapi juga mulai berkenalan dengan organisasi profesi.
Jalan itu kelak membawanya masuk ke Ikatan Arsitek Indonesia dan mempertemukannya dengan berbagai persoalan pembangunan kota.
Kariernya di Balikpapan kemudian berkembang melalui sejumlah proyek, termasuk keterlibatan dalam pekerjaan yang berkaitan dengan fasilitas publik dan kawasan pelabuhan.
Kendati demikian, pekerjaan arsitektur saja tidak membuat perjalanannya berhenti.
Wahyullah mulai melihat bahwa seorang arsitek tidak bisa sepenuhnya memisahkan bangunan dari kebijakan. Sebuah gedung bisa dirancang dengan baik, namun tetap bermasalah jika tata ruangnya tidak tepat.
Begitu juga dengan jalan yang bisa dibangun, tetapi menimbulkan persoalan baru jika tidak terhubung dengan sistem transportasi. Permukiman dapat berdiri, tetapi menyisakan masalah banjir apabila lingkungan dan drainase tidak diperhitungkan.
Dari situlah pandangannya tentang kota mulai terbentuk.
Arsitektur, menurut Wahyullah, bukan hanya tentang bagaimana sebuah bangunan didirikan. Ia juga menyangkut bagaimana manusia hidup di dalam ruang yang sama.
Setelah menetapkan pilihan pada dunia arsitektur, Wahyullah mulai membangun pengalaman dan jaringan yang kelak membentuk perjalanan hidupnya di Balikpapan.
Salsa












