Indeks

Dari Dapur ke Gerakan Hijau, Kisah Revalusya Menolak Hidup Serba Instan

SIVANA, BALIKPAPAN – Perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung kampanye, seminar lingkungan, atau gerakan massal. Kadang ia justru bermula dari ruang paling sunyi di dalam rumah yakni dapur.

Di tempat itulah Revalusya memulai perjalanan yang kemudian membentuk cara hidup baru. Bukan hanya untuk dirinya dan keluarga, tetapi juga menjadi pesan kecil tentang bagaimana menjaga bumi bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari.

Perempuan asal Balikpapan itu kini dikenal sebagai owner Mama Sayapp, usaha produk natural yang lahir dari kegelisahan pribadi sekaligus kesadaran untuk hidup lebih selaras dengan alam.

Awalnya bukan soal bisnis. Pada 2024, Revalusya dihadapkan pada kondisi anaknya yang memiliki kulit sensitif. Ia mencari alternatif perawatan yang dirasa lebih aman dan minim bahan tambahan kimia.

Dari pencarian itu, ia mulai mencoba meracik beberapa minyak alami sebagai pelembap kulit, dengan botol-botol kecil racikan rumahan itulah semuanya berubah.

“Awalnya karena anak saya punya kulit sensitif. Dari situ saya mulai mencari alternatif dan akhirnya meracik beberapa minyak. Bersamaan dengan itu, saya mulai beralih kembali ke alam dan hidup lebih berkesadaran,” urainya.

Kesadaran yang dimaksud Revalusya tidak berhenti pada produk perawatan tubuh. Ia mulai menata ulang pola hidup secara menyeluruh. Makanan yang dikonsumsi, kebiasaan harian, rutinitas olahraga, hingga apa yang ia lihat dan dengarkan, perlahan ikut berubah.

Baginya, manusia sering tidak sadar bahwa tubuh dan lingkungan saling terhubung. Ketika pola hidup terlalu jauh dari alam, maka dampaknya dirasakan sekaligus oleh kesehatan dan bumi.

Oleh sebab itu, ia percaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya dengan bicara soal sampah. Menurutnya, perubahan juga harus dimulai dari apa yang masuk ke tubuh setiap hari.

Ia juga mendorong masyarakat untuk lebih dekat dengan real food, makanan utuh yang minim proses dan lebih alami.

“Perbanyak makan real food agar badan bernutrisi dan mampu berpikir lebih jernih,” tuturnya.

Pandangan itu menjadi benang merah dari gerakan kecil yang ia bangun. Menjaga bumi, menurut Revalusya, bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi membangun kesadaran hidup yang utuh.

Revalusya mengaku, ide-ide usaha yang kini dijalankannya tidak datang dari rencana besar. Semua tumbuh dari kebiasaan kecil yang terus dilakukan.

“Semua lahir secara tidak sengaja. Dimulai dari hal-hal kecil, lalu ide bermunculan,” sebutnya kepada Sivanamedia.com.

Saat mulai mengubah pola hidup, ia justru menemukan banyak peluang baru. Dari sanalah Mama Sayapp berkembang sebagai usaha berbasis bahan alami dengan semangat minim limbah.

Salah satu produk yang paling mencerminkan misi tersebut adalah Minyak Handaka. Produk itu dibuat dari bahan alami dan menggunakan essential oil sebagai aroma.

Baginya, banyak produk di pasaran memakai label alami, tetapi belum tentu dibarengi proses yang sadar lingkungan. Kemudian, ia pun berusaha memastikan usaha yang dibangunnya tidak berhenti pada klaim semata.

Ia juga memilah sampah rumah tangga yang masih bisa dimanfaatkan. Sampah anorganik dikirim ke bank sampah, sementara limbah organik diolah kembali agar memiliki nilai guna.

Salah satu kebiasaan yang rutin ia lakukan adalah mengolah sisa bahan pangan menjadi eco enzyme. Kulit nanas, misalnya, difermentasi menjadi cairan serbaguna yang dapat dipakai untuk kebutuhan rumah tangga, termasuk pembersih pakaian.

Bagi sebagian orang, kulit buah mungkin hanya sampah. Namun bagi Revalusya, limbah sering kali hanya benda yang belum diproses dengan cara tepat.

Cara pandang itu yang menurutnya masih belum banyak tumbuh di masyarakat. Banyak rumah tangga terbiasa membuang semua sisa konsumsi ke tempat sampah tanpa memilah atau memikirkan dampaknya. Padahal, jika dimulai dari rumah, volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan bisa jauh berkurang.

Revalusya mengungkapkan tantangan terbesar saat ini bukan semata kurangnya kampanye lingkungan, tetapi budaya serba instan yang semakin mengakar.

Dimana, orang ingin cepat, praktis, murah, dan mudah. Akibatnya, plastik sekali pakai dipilih terus-menerus, barang dibeli tanpa kebutuhan jelas, makanan serba kemasan dianggap biasa, dan sampah terus bertambah setiap hari.

Ia mengatakan, bahwa kesadaran lingkungan sulit tumbuh jika masyarakat belum memahami alasan mendasar mengapa perubahan perlu dilakukan.

“Kita mesti paham dulu kenapa, baru kita bisa mengubah perilaku,” tekannya.

Ia mencontohkan kebiasaan sederhana yang masih sering terlihat di jalanan kota, seperti berkendara sambil merokok lalu membuang sisanya sembarangan. Tindakan kecil yang dianggap biasa, padahal menunjukkan rendahnya kepedulian terhadap ruang bersama.

Meski demikian, Revalusya tetap optimistis. Ia percaya kesadaran kolektif akan terus tumbuh, meski berjalan perlahan.

Ia menyebut, gerakan ramah lingkungan tidak bisa dibebankan pada segelintir orang yang mau repot memilah sampah atau mengurangi plastik sendiri. Perlu dukungan lebih luas dari pemerintah, komunitas, hingga masyarakat umum.

Edukasi yang konsisten, fasilitas pengelolaan sampah yang mudah diakses, dukungan bagi usaha ramah lingkungan, dan ruang kolaborasi warga dinilai penting agar perubahan tidak berhenti sebagai tren sesaat.

“Pergerakan masyarakat memang masih minim, tapi kesadaran kolektif akan selalu tumbuh. Hanya saja perlu dukungan yang lebih besar agar prosesnya lebih cepat,” ungkapnya.

Revalusya berpesan, menjaga alam tidak harus menunggu punya usaha besar atau ikut komunitas tertentu. Langkah paling realistis justru dimulai dari rumah masing-masing.

Dari memilih makanan yang lebih baik. Dari membawa wadah sendiri. Dari memilah sampah. Dari membeli seperlunya. Dari mengurangi kebiasaan yang merusak tanpa disadari.

Pesan itu pula yang ingin ia sampaikan kepada warga Balikpapan dan perempuan lain yang ingin memulai perubahan kecil.

“Jagalah alam seperti kita menjaga diri sendiri. Mulai dari diri sendiri dulu,” tandasnya.

Di tengah kota yang terus tumbuh dan semakin sibuk, pesan dari dapur kecil itu memang terdengar sederhana. Namun sering kali perubahan terbesar memang lahir dari keputusan paling sederhana, dengan berhenti hidup serba instan.

Exit mobile version