12 Ribu Mangrove Ditanam di Lamaru, Tantangannya Bukan Lagi Menanam

SIVANA, BALIKPAPAN – Dua belas ribu bibit mangrove ditanam di Pantai Lamaru, Balikpapan, pada Minggu (26/7/2026). Jumlah itu terdengar besar. Namun bagi ekosistem pesisir, pekerjaan sebenarnya justru dimulai setelah bibit-bibit tersebut masuk ke tanah.

Sebab, menanam mangrove hanya satu bagian dari pekerjaan panjang memulihkan kawasan pesisir. Bibit yang hari ini ditanam tetap membutuhkan perawatan, pemantauan, dan perlindungan agar tidak berhenti sebagai angka dalam laporan kegiatan.

Pantai Lamaru menjadi lokasi kegiatan peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 tingkat Kalimantan Timur. Penanaman dilakukan secara bertahap dengan target 12 ribu bibit, melibatkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Balikpapan, Forkopimda, instansi vertikal, komunitas lingkungan, hingga pelajar. Akan tetapi, pekerjaan rumahnya tidak berhenti di sana.

Secara nasional, pemerintah pada momentum yang sama melakukan penanaman lebih dari satu juta bibit mangrove di 162 titik yang tersebar di 37 provinsi. Total area yang menjadi sasaran penanaman mencapai 364,11 hektare dengan keterlibatan lebih dari 25 ribu peserta.

Angka tersebut menunjukkan skala besar gerakan penanaman mangrove tahun ini. Tetapi semakin besar jumlah bibit yang ditanam, semakin penting pula memastikan apa yang terjadi setelah kegiatan berakhir.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup sendiri menyebut ekosistem mangrove masih menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari alih fungsi lahan, pencemaran, hingga eksploitasi yang tidak terkendali.

Pemerintah kemudian menyiapkan kebijakan perlindungan dan pengelolaan mangrove jangka panjang melalui Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional 2026-2055.

Di Balikpapan, persoalan tersebut menjadi relevan karena kawasan pesisir tidak hanya berfungsi sebagai ruang ekologis. Mangrove menjadi bagian dari benteng alami yang membantu melindungi garis pantai sekaligus menjadi habitat berbagai biota.

Pelaksana Tugas Asisten Administrasi Umum Setdaprov Kaltim, Muhaimin, yang mewakili Gubernur Kaltim, mengatakan mangrove memiliki fungsi penting bagi kawasan pesisir. Selain membantu melindungi pantai dari abrasi dan gelombang, ekosistem ini juga berperan dalam menyerap karbon, menjaga habitat biota laut, serta mendukung kehidupan masyarakat pesisir.

“Semua pihak harus ikut mengambil peran untuk menjaganya,” ucap Muhaimin saat membacakan sambutan Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Muhammad Jumhur Hidayat.

Pernyataan tersebut menjadi penting jika diterjemahkan ke persoalan yang lebih konkret. Yakni, siapa yang memastikan 12 ribu bibit di Lamaru tetap hidup setelah seremoni selesai?

Sebab, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak cukup diukur dari berapa banyak bibit yang ditanam dalam satu hari. Yang lebih menentukan adalah berapa banyak yang tumbuh, bagaimana kawasan tersebut dirawat, dan apakah ekosistemnya benar-benar pulih.

Di sejumlah daerah, pemerintah mulai mengaitkan penanaman dengan perawatan jangka panjang.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, misalnya, menyatakan penanaman mangrove tidak hanya dilakukan ketika memperingati hari besar, tetapi diupayakan berlangsung rutin.

Di Kalimantan Timur sendiri, Kabupaten Kutai Kartanegara juga menanam 10 ribu bibit mangrove secara bertahap di kawasan pesisir Muara Badak sepanjang 22-30 Juli 2026.

Artinya, penanaman mangrove mulai bergerak dari sekadar agenda satu hari menuju program yang membutuhkan kesinambungan.

Untuk Balikpapan, Pantai Lamaru menjadi salah satu titik dari pekerjaan tersebut. Dua belas ribu bibit sudah ditanam. Tinggal memastikan bibit-bibit tersebut bukan hanya tumbuh di dalam foto dokumentasi.

Sebab, mangrove tidak bekerja dalam sehari. Ia membutuhkan waktu untuk tumbuh dan membentuk ekosistem. Manfaatnya bagi pesisir juga baru terasa jika kawasan tersebut benar-benar terjaga.

Peringatan Hari Mangrove Sedunia tahun ini memang membawa pesan tentang menjaga mangrove demi generasi mendatang. Tetapi pesan itu baru memiliki arti jika setelah acara selesai, ada yang tetap datang ke pesisir untuk merawatnya.

Karena tantangan terbesar setelah menanam 12 ribu mangrove bukanlah menghitung berapa bibit yang masuk ke tanah. Melainkan memastikan berapa yang tetap hidup ketika seremoni sudah lama selesai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *