SIVANA, MOJOKERTO – Keindahan alam di Desa Wisata Ketapanrame di Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh warga. Perekonomian yang berbasis masyarakat ini tumbuh menjadi salah satu kekuatan desa melalui pengembangan sektor wisata dan UMKM yang melibatkan warga setempat.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari kolaborasi bersama Bank Indonesia (BI). Dukungan yang diberikan dinilai mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi desa sekaligus memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal.
Kepala Desa Ketapanrame, Zainul Arifin mengatakan bahwa peran BI, khususnya BI Surabaya, tidak hanya sebatas membantu promosi destinasi wisata desa.
Ia menyebut, BI turut membangun ekosistem usaha masyarakat melalui berbagai pendampingan, mulai dari proses produksi, pengolahan produk UMKM, pengurusan legalitas usaha, hingga membantu pemasaran produk agar mampu menjangkau pasar internasional.
“Dukungan Bank Indonesia sangat-sangat bermanfaat. Di tahun 2022-2023 kami pernah mengalami puncak keramaian, lalu setelah itu mengalami penurunan karena faktor kompetitor dan pesaing yang semakin banyak, sehingga kami harus membuat kreasi dan inovasi baru. Saat itu BI memberikan semangat dan motivasi kepada kami,” kata Zainul.
Adapun dukungan yang diberikan BI tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga bantuan sarana dan prasarana penunjang bagi Desa Wisata Ketapanrame.
Pendampingan secara khusus dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk UMKM lokal, mulai dari aspek produksi, pengemasan, hingga daya saing produk agar mampu memiliki nilai tambah dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dari dukungan tersebut, produk olahan yang dihasilkan desa wisata Ketapanrame kian dikenal. Bahkan, produk turunan dari olahan kopi sempat mendapat permintaan dari luar negeri.
“Dari pendampingan yang diberikan BI kami diajak turut serta di berbagai pameran dan juga festival, sehingga produk olahan kami semakin dikenal,” ucapnya.
Lebih lanjut, Zainul menerangkan bahwa dukungan yang diberikan Bank Indonesia membawa dampak signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Ketapanrame.
Berkembangnya sektor pariwisata mendorong perputaran ekonomi desa semakin hidup, mulai dari usaha kuliner, penginapan, penjualan tiket destinasi wisata, hingga pemasaran produk UMKM lokal.
Salah satu inovasi yang diterapkan desa adalah skema investasi berbasis masyarakat melalui program urun dana. Melalui program tersebut, warga diberi kesempatan menjadi bagian dari pengembangan destinasi wisata desa dengan nominal investasi mulai Rp1 juta.
Masyarakat pun sangat antusias mengikuti program tersebut. Ini terbukti dari dana yang berhasil dihimpun dari masyarakat yang menembus lebih dari Rp4 miliar dan dikelola melalui BUMDes.
Hasil usaha kemudian dibagikan secara terbuka dan rutin setiap bulan kepada warga yang berpartisipasi.
Zainul menyebutkan, masyarakat yang menanamkan modal sebesar Rp10 juta rata-rata mampu memperoleh tambahan penghasilan lebih dari Rp500 ribu per bulannya.
Di momen high season, seperti libur sekolah ataupun hari raya IdulFitri, keuntungan yang diterima warga dalam satu bisa capai jutaan rupiah.
Disamping dorongan dalam meningkatkan usaha, BI turut mengajak masyarakat untuk transformasi digital dengan menerapkan sistem pembayaran QRIS di desa wisata Ketapanrame.
Meski awalnya masyarakat kesulitan beradaptasi dan belum sepenuhnya menerima sistem pembayaran tersebut, perlahan BI bersama pemerintah desa memberikan edukasi kepada pelaku usaha.
“Kekhawatiran masyarakat itu salah satunya karena takut uang belum masuk dan adanya notifikasi SMS perbankan yang mengenakan biaya,” terangnya.
Nah, selain pelaku usaha lokal, para petani dan pedagang turut diajak bertransformasi digital dengan menggunakan QRIS dan memiliki rekening Bank.
Seiring berjalannya waktu, ribuan warga desa kini menerima transformasi digital dan telah terbiasa melakukan transaksi nontunai.
“Di lokasi wisata sekarang hampir semua stan sudah menggunakan QRIS,” sebutnya.
Transformasi tersebut menjadi langkah penting dalam mendorong desa wisata yang lebih modern, inklusif, dan mampu mengikuti perkembangan zaman.
Desa Wisata Ketapanrame kini tidak hanya berkembang sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga menjadi contoh pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat yang mampu menciptakan kesejahteraan secara berkelanjutan.












