Tiga Jam di Loka 

Sivanamedia
Awak media Sivana, singgah di kedai Loka. (Sivanamedia)

SIVANAMEDIA, BALIKPAPAN – Belasan warga asyik masyuk di kedai sederhana Jalan Pattimura Batu Ampar, Balikpapan Utara. 

Anak-anak muda tampak bercengkrama. Ada pula beberapa pria paruh baya. 

Ledak tawa sesekali menggema dari ruang-ruang di deretan meja. 

Kedai sederhana itu, bernama: Loka. 

Warung kopi ini agak berbeda dengan kebanyakan cafe serupa. 

Harganya murah meriah. Untuk minuman dibandrol Rp10-12 ribu per porsi. 

Cemilan Rp10-15 ribu. Bahkan satu porsi pecel ayam hanya dibandrol Rp15 ribu. 

Mejanya tak begitu banyak. Tapi menyediakan colokan listrik untuk mencharge handphone atau laptop. 

Ada pula televisi yang menggantung di dinding atas dekat ruang kasir. 

Yang spesial di sana, laman parkirnya. 

Terbilang luas, cukup untuk tujuh mobil, belasan motor. 

Di sana ada mesin untuk mencharge kendaraan listrik. 

Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPLKU) mini, tampak berdiri kokoh di dekat pintu masuk. 

SPKLU mini tersebut menggunakan mesin fast atau ultra-fast charging berkapasitas besar, sekitar 120 kW hingga 600 kW. 

Pada Jumat 11 September 2026 malam, media ini singgah di sana. 

Kala itu, tampak empat pengunjung membuka laptopnya. 

Yang lain asyik dengan gadget mereka masing-masing. Ada pula beberapa pria yang ngobrol ngalor ngidul. 

“Di sini tenang, harganya murah,” tutur Agung, salah satu pengunjung. 

Di antara pengunjung malam itu, ada pula seorang wanita asyik memainkan game di gawainya. 

Sesekali membuat kaget. Sebab, tiba-tiba ia berteriak, laiknya gamer di era warnet. 

Tak lama setelah itu..

“Coco punch nya, dua ya,” suara lembut lalu datang dari bibir pria yang melayani kedai tersebut. 

Slruuuuuppp!

Dahaga pun hilang dikubur rasa manis dari minuman dingin berwarna merah muda. 

Selama bercengkrama di sana, pengunjung datang silih berganti. 

Ada yang berkelompok, ada pula berpasangan. 

Media ini pun serasa terbawa suasana. Tanpa nyana, sudah tiga jam membanting waktu di sana. 

Berbincang macam-macam. 

Dari isu politik nasional sampai fenomena anomali Balikpapan: munculnya konvoi sebuah kelompok yang dibayar untuk menyambut koruptor!

Yang lebih anomali lagi, dari mereka, tampak jaket biru khas organisasi pemuda. 

Penggunaan almamater kebesaran organisasi itu pun jadi sorotan publik. 

Bahkan sempat menghebohkan jagat Threads dan Tiktok. 

Kembali ke kedai Loka, warung kopi ini menjadi salah satu alternatif anak-anak muda Balikpapan. 

Tak sekadar kongkow, ada juga yang tampak serius menggarap tugas kuliah. 

Menjamurnya warung kopi atau cafe sejenis di Balikpapan, juga menjadi anomali. 

Di tengah himpitan tekanan fiskal, daya beli masyarakat yang menurun, meningkatnya PHK, tapi malah muncul cafe-cafe modern yang mirip di Jakarta.

Belum dipastikan apakah menjamurnya cafe-cafe di kota ini lantaran bangkitnya pengusaha hospitality industry.

Atau diam-diam terselip rahasia adanya dugaan seperti Cafe de’Clan Signature. 

Yang diduga menjadi tempat simpanan kejahatan finansial dan modus dugaan cuci uang. 

Sebagaimana diketahui, Cafe de’Clan sempat digeledah penyidik gabungan Polri di kawasan Cipete, Jakarta Selatan pada Rabu, 8 Juli 2026 silam. 

Penggeledahan itu terkait dengan kasus mantan Jampidsus Febrie Ardiyansyah. 

Belakangan Febrie membantah kepemilikan serta keterkaitannya dengan bisnis di kafe terkait. 

Perlahan-lahan, kasusnya pun tenggelam. Tak lagi banyak dibicarakan orang. 

Begitulah kasus besar di Indonesia. Datang dan pergi, seperti kamu yang hobi ghosting, meninggalkan ruang luka di samudera hati.

Al Pacino 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *