Indeks

Balikpapan Diminta Siapkan Bus Listrik, Belajar dari Transjakarta

Anggota DPRD Balikpapan Komisi III, Wahyullah Bandung, saat ditemui dalam wawancara di Balikpapan. (Sivanamedia)

SIVANA, BALIKPAPAN – Pengembangan transportasi umum di Kota Balikpapan dinilai perlu mulai diarahkan menuju penggunaan bus listrik.

Bukan sekadar menambah armada, pemerintah daerah juga didorong menyiapkan skema pengadaan dan infrastruktur agar transportasi umum dapat berkembang tanpa terus bergantung pada bahan bakar minyak.

Anggota DPRD Balikpapan, Wahyullah Bandung, mengatakan kebutuhan tersebut perlu mulai dipikirkan sejak sekarang.

Menurutnya, pertumbuhan penduduk dan mobilitas kota akan membuat kebutuhan terhadap transportasi umum semakin besar.

Penambahan armada, sebutnya, sekaligus menjadi momentum untuk mulai menggunakan teknologi kendaraan yang lebih sesuai dengan kebutuhan jangka panjang.

“Harusnya berpikir bahwa hari ini dan ke depannya bus-bus barunya nanti itu tidak menggunakan BBM lagi,” ucap Wahyullah saat diwawancara langsung oleh Sivanamedia, Selasa (1/9/2026).

Ia menerangkan, bus listrik dapat menjadi bagian dari pengembangan transportasi umum jangka panjang Balikpapan.

Terlebih, pemerintah kota tidak hanya menghadapi persoalan kemacetan, tetapi juga kebutuhan menyediakan moda transportasi yang dapat menjangkau masyarakat tanpa kendaraan pribadi.

Wahyullah kemudian mencontohkan pengembangan transportasi umum di Jakarta melalui Transjakarta.

Berdasarkan bahan paparan yang diterimanya, penyediaan armada di Jakarta tidak sepenuhnya dilakukan oleh pemerintah. Perusahaan swasta turut dilibatkan melalui skema kerja sama.

Model tersebut, ucap Wahyullah, dapat menjadi salah satu opsi yang dikaji Balikpapan.

Pemerintah daerah tidak harus menyediakan seluruh armada menggunakan anggaran sendiri, melainkan dapat membagi kebutuhan investasi melalui kemitraan.

Skema kerja sama itu, jelasnya, tetap membutuhkan perhitungan mengenai bentuk kontrak, jangka waktu, kebutuhan armada, hingga biaya operasional.

Dengan perencanaan tersebut, keterbatasan anggaran tidak serta-merta menghambat penambahan layanan transportasi umum.

Di sisi lain, Wahyullah mengingatkan bahwa penggunaan bus listrik membutuhkan kesiapan fasilitas pendukung.

Salah satunya tempat pengisian daya yang harus disesuaikan dengan pola perjalanan dan operasional armada.

“Penambahan armada juga pasti. Tetapi armadanya itu kalau boleh bukan lagi armada yang BBM, tapi listrik,” sarannya.

Adapun, kebutuhan infrastruktur tersebut juga dapat membuka peluang bagi pihak ketiga untuk terlibat.

Pemerintah dapat menentukan kebutuhan serta standar layanan, sedangkan pembangunan fasilitas tertentu dapat dilakukan melalui kerja sama.

Pengalaman Transjakarta menunjukkan penggunaan bus listrik dikembangkan secara bertahap.

Dalam bahan paparan yang disampaikan kepada Wahyullah, jumlah bus listrik meningkat dari 100 unit pada 2023 menjadi 300 unit pada 2024 dan 470 unit pada 2025.

Jumlah tersebut ditargetkan mencapai 755 unit pada 2026.

Transjakarta juga menargetkan 50 persen armadanya terelektrifikasi pada 2027 dan seluruh armada pada 2030.

Bagi Wahyullah, perkembangan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Balikpapan sebelum menentukan arah pengadaan armada listrik.

Persiapannya bukan hanya mengenai kendaraan, tetapi juga mencakup fasilitas pengisian daya, pasokan listrik, dan pembiayaan.

Ia mengingatkan adanya kebutuhan investasi awal yang besar dalam pengembangan bus listrik.

Maka dari itu, pemerintah perlu menghitung kebutuhan secara menyeluruh agar teknologi yang dipilih sesuai dengan kondisi kota.

“Ini perlu kajian mendalam supaya nanti tidak menjadi sia-sia,” tekannya.

Kajian tersebut, ungkap Wahyullah, dapat melihat kebutuhan armada, jarak tempuh, titik pengisian daya, jumlah penumpang, hingga pola perjalanan harian.

Faktor tersebut diperlukan karena karakteristik perjalanan Balikpapan tidak sama dengan Jakarta.

Kepadatan penduduk dan pola mobilitas masyarakat nantinya turut menentukan jumlah armada serta jarak waktu kedatangan bus yang dibutuhkan.

Ia menegaskan, pengembangan transportasi umum harus dipersiapkan untuk kebutuhan kota dalam jangka panjang.

Keberadaan angkutan umum tidak hanya ditujukan bagi warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi, namun juga menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan terhadap mobil dan sepeda motor.

Ia pun melihat keterlibatan swasta masih memungkinkan untuk mendukung pengembangan tersebut.

“Di Jakarta kan buktinya swasta juga terlibat. Itu memungkinkan untuk diterapkan di Balikpapan,” tandasnya.

Dengan melihat pengalaman tersebut, Wahyullah menyakini Balikpapan memiliki kesempatan untuk menyiapkan sistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

Peralihan menuju bus listrik dapat dilakukan secara terencana dengan menyesuaikan kemampuan daerah dan kebutuhan perjalanan masyarakat.

Pada akhirnya, persiapan bus listrik bukan hanya menyangkut kendaraan yang digunakan.

Pemerintah perlu memastikan armada, fasilitas pengisian daya, pembiayaan, serta pola pengoperasian dapat berjalan dalam satu sistem yang sesuai dengan karakteristik Balikpapan.

Salsa

Exit mobile version