SIVANA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan saat musim kemarau berlangsung.
Di Kutai Barat, Kalimantan Timur, luas lahan yang terbakar mencapai 415,51 hektare hingga 19 Agustus 2026.
Data ini berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat, yang mencatat 72 lokasi karhutla di sejumlah kecamatan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kutai Barat, Suwalas Daya Guna, mengatakan jumlah lokasi yang harus ditangani meningkat dalam beberapa hari terakhir.
“Dalam beberapa hari terakhir ini peningkatannya cukup signifikan. Biasanya dua sampai tiga lokasi, sekarang bisa sembilan sampai sepuluh lokasi dalam sehari,” kata Suwalas, dikutip DetikKalimantan, Rabu (19/8/2026).
Menurut Suwalas, penanganan di lapangan terkendala jarak antarlokasi, medan yang sulit dijangkau serta keterbatasan sumber air.
Peningkatan aktivitas kebakaran juga terlihat dari pemantauan satelit di Kalimantan Timur.
Data BMKG Stasiun Meteorologi APT Pranoto Samarinda mencatat 566 hotspot pada 14 Agustus, kemudian 607 titik pada 15 Agustus, 704 titik pada 16 Agustus dan 556 titik pada 17 Agustus.
Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 1.025 titik pada 18 Agustus dan 1.235 titik pada 19 Agustus 2026.
Hotspot merupakan titik yang terdeteksi memiliki anomali suhu permukaan melalui pemantauan satelit.
Data tersebut digunakan sebagai indikator awal dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran.
Sebelumnya, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi SAMS Sepinggan Balikpapan Djoko Sumardiono menyebut sekitar 4.700 hotspot terdeteksi di Kaltim selama Dasarian I Agustus.
“Berdasarkan pemantauan BMKG pada dasarian I Agustus 2026, jumlah titik panas (hotspot) yang terdeteksi di wilayah Kaltim telah mencapai sekitar 4.700 titik,” ucap Djoko.
Karhutla juga tercatat di provinsi lain. Di Kalimantan Tengah, BPBD mencatat 46 kejadian karhutla dengan luas 148,71 hektare hingga 18 Agustus 2026.
Sementara di Kalimantan Selatan, kabut asap dilaporkan berdampak pada aktivitas masyarakat.
Melansir Detik, sejumlah sekolah di Banjarbaru menyesuaikan kegiatan belajar, sedangkan penerbangan di Bandara Syamsudin Noor terdampak jarak pandang pada 19 Agustus.
Di Kalimantan Barat, data pemerintah provinsi menunjukkan luas karhutla pada Januari-Maret 2026 mencapai 10.601,85 hektare.
Peningkatan kejadian tersebut berlangsung ketika sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau.
Dalam laporan prakiraan cuaca periode 14-20 Agustus 2026, BMKG menyebut 535 Zona Musim atau 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Curah hujan kategori rendah pada Dasarian I Agustus tercatat mencakup 90,79 persen wilayah Indonesia.
BMKG juga mencatat El Niño dengan intensitas sangat kuat serta kecenderungan IOD positif.
Menurut BMKG, kondisi tersebut berpengaruh terhadap berkurangnya suplai uap air dan meningkatkan kondisi kering di sejumlah wilayah.
BMKG memperkirakan puncak musim kemarau 2026 berlangsung pada Juli-September, dengan Agustus menjadi periode puncak pada 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen luas daratan Indonesia.
Data hotspot dan catatan kejadian karhutla tersebut berasal dari periode serta metode pemantauan yang berbeda.
Karena itu, angka hotspot tidak dapat dijumlahkan langsung dengan luas lahan terbakar maupun jumlah kejadian yang dicatat BPBD. (*)
