Indeks

Peserta Pelatihan Turun Hampir Separuh, Disnaker Balikpapan Andalkan Kolaborasi agar Tenaga Kerja Tetap Kompetitif

SIVANA, BALIKPAPAN – Efisiensi anggaran 2026 berdampak langsung pada program pelatihan tenaga kerja di Kota Balikpapan. Jumlah peserta yang dapat difasilitasi Dinas Ketenagakerjaan tahun ini turun hampir separuh dibandingkan tahun sebelumnya.

Apabila pada 2025 tercatat sekitar 65 peserta mengikuti program pelatihan, tahun ini jumlahnya diperkirakan hanya sekitar 30 orang.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Balikpapan, Adamin Siregar, membenarkan adanya penyesuaian tersebut. Namun ia memastikan program peningkatan kompetensi tetap berjalan meski dengan strategi berbeda.

“Memang ada penurunan kuota karena efisiensi. Tapi pelatihan tetap kami jalankan melalui kerja sama dengan balai pelatihan provinsi dan kementerian,” ujarnya saat ditemui, Rabu (25/2/2026).

Awal tahun ini, sebanyak 15 peserta telah diberangkatkan ke balai pelatihan pusat untuk mengikuti program di sektor pertambangan, migas, serta bidang teknis lainnya. Tambahan sembilan peserta akan menyusul melalui skema program berbeda.

Menurut Adamin, kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci agar pencari kerja tetap memperoleh akses pelatihan meski anggaran daerah terbatas. Disnaker juga menjalin komunikasi dengan balai pelatihan provinsi serta lembaga kementerian di Banjarmasin, terutama untuk bidang teknologi informasi yang dinilai terus berkembang.

“Sekarang kebutuhan industri makin spesifik. Sertifikasi dan keterampilan teknis sangat menentukan. Itu yang kami kejar,” jelasnya.

Penyesuaian program pelatihan ini dinilai penting karena tingkat penyerapan tenaga kerja di Balikpapan masih belum optimal. Pada 2025, dari sekitar 5.000 pencari kerja yang terdaftar, hanya sekitar 2.200 orang yang berhasil ditempatkan.

Untuk sektor industri berat seperti pertambangan dan perusahaan skala besar, waktu tunggu penempatan kerja bahkan bisa mencapai enam bulan hingga satu tahun, tergantung pembukaan lowongan.

Ia pun mengakui tantangan utama bukan hanya pada jumlah pelatihan, tetapi juga kesiapan peserta menghadapi standar industri.

“Banyak perusahaan mensyaratkan pengalaman atau sertifikat khusus. Karena itu pelatihan harus benar-benar sesuai kebutuhan pasar,” sebutnya.

Seluruh proses pendaftaran pelatihan diumumkan secara terbuka melalui media sosial resmi Disnaker. Masyarakat dapat mendaftar secara daring, kemudian mengikuti seleksi administrasi sebelum ditetapkan sebagai peserta dan diberangkatkan ke balai pelatihan provinsi maupun pusat.

Meski kuota berkurang, Disnaker menargetkan kualitas lulusan tetap terjaga agar memiliki daya saing saat memasuki pasar kerja.

“Yang penting bukan hanya jumlah, tapi kesiapan mereka ketika masuk industri,” pungkas Adamin.

Exit mobile version