Esai  

Arba Mustamir dan Bala yang Diam-Diam Kita Pelihara

SIVANA – Ada hari ketika orang-orang lebih rajin mengingat bala daripada mengingat perilakunya sendiri. Hari tersebut dikenal sebagai Arba Mustamir, Rabu terakhir bulan Safar, yang tahun ini jatuh pada 12 Agustus 2026.

Dalam penanggalan Hijriah, terdapat perbedaan satu hari: Pemerintah/Kemenag dan NU menetapkannya sebagai 28 Safar 1448 H, sementara Muhammadiyah menetapkannya 29 Safar 1448 H.

Bagi masyarakat yang menjalankan tradisi ini, Rabu terakhir Safar menjadi momentum untuk berdoa dan memohon keselamatan.

Di Kalimantan Selatan, tradisi tersebut lekat dengan masyarakat Banjar. Namun, ia bukan hanya milik Banjar.

Di berbagai daerah Nusantara, tradisi serupa dikenal dengan nama Rebo Wekasan, Rebo Kasan, atau Rebo Pungkasan, dengan bentuk pengamalan yang berbeda.

Saya yang memiliki darah Banjar pun tidak asing dengan cerita tentang Arba Mustamir. Ada doa, kecemasan terhadap bala, kemudian ikhtiar manusia untuk meminta perlindungan.

Namun belakangan saya justru memikirkan sesuatu yang agak mengganggu.

Bagaimana kalau bala yang kita takutkan bukan hanya sesuatu yang datang dari langit, tetapi sesuatu yang pelan-pelan kita produksi sendiri di bumi?

Pertanyaan itu mungkin tidak muncul ketika hidup sedang sibuk-sibuknya. Namun ketika pekerjaan berhenti dan saya berada dalam fase menganggur, ada sesuatu yang justru bertambah seperti jarak.

Jarak untuk melihat ulang berita-berita yang selama ini hanya dikejar tenggat. Banjir yang biasanya cukup dicatat dari berapa rumah yang terendam.

Pembangunan yang dihitung dari nilai investasi. Hutan yang ditulis dalam satuan hektare. Dari jarak itu, semuanya terasa lebih terhubung.

Apa yang kita bangun hari ini, siapa yang menikmatinya, siapa yang menanggung risikonya, dan apa yang akan kita wariskan?

Mungkin karena itulah saya tertarik membaca Arba Mustamir secara sedikit berbeda. Bukan untuk membantah tradisi. Apalagi memastikan bahwa bala benar-benar turun pada Rabu terakhir Safar.

Saya justru ingin bertanya: apa arti bala di zaman ketika manusia punya kemampuan menciptakan risiko dalam skala yang jauh lebih besar?

Dalam pembahasan Arba Mustamir di masyarakat Banjar, ada satu doa yang menarik: doa Nabi Yunus. Ketika berada dalam kegelapan, Nabi Yunus berdoa:

لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaaha illaa anta subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin.

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Doa tersebut terdapat dalam QS Al-Anbiya ayat 87. Saibatul Hamdi, dalam artikel “Keistimewaan Doa Nabi Yunus Yang Dibaca Masyarakat Banjar Pada Arba Musta’mir” yang dimuat Tafsir Al Quran pada 6 Oktober 2021, menjelaskan doa itu sebagai ungkapan tauhid, pengagungan kepada Allah, sekaligus pengakuan atas kesalahan diri.

Artikel tersebut juga mengingatkan bahwa anggapan mengenai bala khusus pada Arba Mustamir bersumber dari hadis dhaif dan tidak terdapat hadis sahih yang secara khusus menjelaskan keutamaan maupun celaan terhadap bulan Safar.

Catatan itu penting. Sebab kita tidak sedang mengatakan 12 Agustus adalah hari ketika Tuhan pasti mengirimkan bala.

Yang menarik justru cara manusia merespons ketidakpastian.

Dalam doa Nabi Yunus terdapat satu pengakuan yang terasa sangat relevan dengan kehidupan modern: “Inni kuntu minaz-zhaalimiin.” Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.

Ada kerendahan hati dalam kalimat tersebut. Bukan hanya, “Tuhan, selamatkan saya,” namum juga semacam kesediaan untuk berkata, “Saya mungkin punya bagian dalam masalah ini.”

Pengakuan seperti itu terasa sederhana, tetapi mungkin justru paling sulit dilakukan manusia modern. Kita lebih mudah mencari kambing hitam.

Banjir disebut musibah. Kebakaran hutan disebut bencana. Udara buruk disebut cuaca. Sungai meluap disebut nasib.

Padahal ilmu kebencanaan tidak sesederhana itu.

Secara sederhana, risiko bencana terbentuk dari pertemuan bahaya (hazard), keterpaparan (exposure), dan kerentanan (vulnerability).

Hujan ekstrem memang merupakan bahaya. Namun, apakah ia berubah menjadi bencana dan seberapa besar kerugiannya juga dipengaruhi oleh kondisi manusia dan lingkungan.

Hujan tidak memilih rumah siapa yang akan terendam. Manusialah yang, melalui tata ruang dan cara membangun kota, ikut menentukan siapa yang lebih rentan ketika hujan datang.

Di Balikpapan, misalnya, persoalan banjir tidak bisa dilepaskan dari tata ruang, kondisi daerah aliran sungai, drainase, perkembangan permukiman, hingga pembangunan di kawasan tertentu.

Pemkot sendiri masih menempatkan penanganan banjir sebagai pekerjaan besar, termasuk melalui pembangunan pengendali banjir DAS Ampal dan koordinasi dengan pengembang perumahan.

Pada Juli 2026, penyesuaian RTRW Balikpapan juga kembali menjadi pembahasan karena berkaitan dengan arah investasi dan pemanfaatan ruang.

Dalam konteks seperti ini, tata ruang bukan sekadar peta berwarna yang dibahas di ruang rapat.

Ia menentukan bagaimana sebuah kota menghadapi risiko. Maka pertanyaannya tidak cukup, “Mengapa hujannya deras?” Tetapi juga, “Mengapa ketika hujan datang, kita begitu mudah menjadi korban?”

Persoalannya tidak berhenti di satu kota. Jika Balikpapan memberi contoh bagaimana tata ruang membentuk risiko, Kaltim memberi gambaran yang lebih luas tentang bagaimana perubahan bentang alam dapat memengaruhi risiko ekologis dalam jangka panjang.

Kita hidup di provinsi yang kaya hutan, sungai, tambang, perkebunan, pesisir, dan sekarang menjadi lokasi pembangunan Ibu Kota Nusantara.

Pembangunan tentu bukan dosa. Kita membutuhkan jalan, rumah, energi, pekerjaan, kota, dan pertumbuhan ekonomi. Tetapi pembangunan selalu membawa konsekuensi yang perlu dihitung.

Salah satu laporan pemantauan deforestasi mencatat Kaltim mengalami kehilangan tutupan hutan 44.483 hektare pada 2024, tertinggi di antara provinsi yang tercatat dalam laporan tersebut.

Angka tersebut menggunakan metodologi tertentu dan tidak boleh dicampur begitu saja dengan angka resmi pemerintah yang menggunakan metodologi berbeda.

Namun, tekanan terhadap tutupan hutan Kaltim tetap merupakan persoalan yang sulit diabaikan.

Lalu ada IKN.

Menyebut pembangunan IKN sebagai “bala” mungkin terlalu serampangan. Justru karena IKN membawa gagasan forest city, perubahan ekologisnya perlu diawasi dengan serius.

Sebuah penelitian penginderaan jauh yang terbit pada Agustus 2026 menelusuri perubahan tutupan lahan di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan IKN sepanjang 2021-2026.

Studi itu mencatat rata-rata NDVI turun 17,1 persen, vegetasi turun 18,1 persen, sementara lahan terbangun meningkat 672 persen.

Peneliti juga mencatat adanya pemulihan NDVI dan stok karbon pada periode 2024-2025 ketika pembukaan lahan aktif melambat.

Oleh debab itu, data tersebut tidak layak dipakai untuk menyimpulkan “IKN adalah bencana”.

Justru sebaliknya, ia menunjukkan mengapa dampak ekologis pembangunan perlu terus diukur.

Pertanyaannya bukan sekadar “Pembangunan atau lingkungan?”.

Mungkin lebih tepatnya, “Pembangunan seperti apa yang tidak memindahkan ongkos ekologisnya kepada masyarakat dan generasi berikutnya?”

Di sini gagasan risk society dari sosiolog Ulrich Beck menjadi menarik. Masyarakat modern tidak hanya menghadapi bahaya alam.

Modernisasi, industrialisasi, teknologi, dan keputusan ekonomi juga dapat menciptakan risiko baru.

Semakin canggih manusia, semakin besar pula kemampuannya menciptakan risiko.

Kita bisa membangun kota dalam waktu cepat, tetapi juga mengubah bentang alam dengan cepat. Kita bisa mengirim informasi kepada jutaan orang dalam hitungan detik, tetapi juga menyebarkan kebohongan dengan kecepatan yang sama.

Kita bisa mengeksploitasi sumber daya alam dalam skala besar, sementara dampaknya baru terasa bertahun-tahun kemudian.

Dalam konteks itu, “bala” tidak harus dipahami sebagai sesuatu yang tiba-tiba jatuh dari langit. Ia dapat berupa risiko yang dibangun sedikit demi sedikit melalui keputusan manusia.

Dan persoalannya kemudian menjadi lebih luas daripada sekadar lingkungan.

Dalam Islam, pertanggungjawaban manusia pada akhirnya bermuara kepada Allah. Kita tidak bertanggung jawab kepada alam seolah-olah alam adalah Tuhan. Namun, manusia diberi amanah untuk memperlakukan ciptaan-Nya dengan benar.

Maka ketika manusia merusak lingkungan, persoalannya tidak berhenti pada ekologi.

Ia juga menjadi persoalan moral seperti apa yang kita bangun, apa yang kita rusak, apa yang kita biarkan, dan siapa yang akhirnya menanggung akibatnya.

Kerusakan ekologis pun tidak selalu berhenti di tempat kerusakan itu terjadi. Air mengalir, sedimen bergerak, udara berpindah, dan ekosistem saling terhubung.

Dampaknya dapat menyeberangi batas konsesi, batas kota, bahkan batas generasi.

Mungkin di sinilah doa Nabi Yunus memperoleh pembacaan yang lebih luas.

“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Bukan berarti setiap bencana harus ditimpakan kepada manusia. Bukan pula berarti setiap korban harus dianggap bersalah.

Justru, manusia perlu berani memeriksa bagian yang memang berada dalam tanggung jawabnya. Dan mungkin ini pula alasan saya tertarik membicarakan Arba Mustamir ketika sedang tidak bekerja.

Saya mendapatkan sesuatu yang jarang diberikan pekerjaan, misalnya jarak untuk berefleksi.

Saya mulai melihat berita bukan sekadar sesuatu yang harus ditulis. Banjir bukan hanya angka rumah terendam. Tambang bukan sekadar angka produksi. Pembangunan bukan cuma nilai investasi. Hutan bukan sekadar angka hektare.

Di belakangnya ada manusia, kebijakan, ekosistem, kepentingan ekonomi, dan risiko yang tidak selalu dibagi secara adil.

Dari situ juga muncul pertanyaan yang rasanya lebih penting daripada sekadar mencari siapa yang salah.

Kemudian, siapa yang mendapatkan manfaat dari sebuah keputusan, dan siapa yang paling dulu menanggung risikonya?

Tradisi memberi ruang untuk mengingat keterbatasan manusia. Ilmu membantu kita memahami sebab dan akibat. Refleksi memberi keberanian untuk melihat kemungkinan bahwa kita sendiri mungkin ikut berada di dalam persoalan.

Oleh karena itu, pada Rabu terakhir Safar kali ini, saya tidak ingin berhenti pada pertanyaan tentang apa yang akan datang. Saya ingin melihat lebih dekat pada apa yang sedang kita lakukan.

Ada keputusan yang manfaatnya dinikmati hari ini, sementara ongkosnya baru dibayar orang lain bertahun-tahun kemudian.

Ada pembangunan yang menghasilkan pertumbuhan, tetapi meninggalkan tekanan ekologis.

Ada informasi yang terasa sepele ketika dibagikan, tetapi berubah menjadi keresahan setelah menyebar.

Membicarakan keselamatan, dengan demikian, tidak hanya berarti meminta agar diri kita dijauhkan dari bahaya.

Ia juga berarti memastikan bahwa pilihan kita tidak menjadikan orang lain, alam, atau generasi berikutnya sebagai pihak yang harus membayar akibatnya.

Sebab manusia tidak hidup sendirian. Kita bergantung pada tanah, air, udara, hutan, satwa, sesama manusia, dan generasi yang bahkan belum lahir.

Apa yang kita lakukan hari ini akan masuk ke dalam jaringan kehidupan itu, entah sebagai manfaat atau sebagai beban.

Maka mungkin Arba Mustamir kali ini bukan hanya tentang bertanya bala apa yang akan datang, tetapi juga berani bertanya. Apa yang sedang kita tinggalkan?

Sebelum meminta Allah menjauhkan kita dari segala keburukan, mungkin ada satu hal yang layak kita periksa lebih dahulu.

Jangan-jangan sebagian dari apa yang kita sebut bala sedang kita bangun sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *