Esai  

Apa Sudah Merdeka?

Koalisi militer
Tiga negara menyepakati Pakta Pertahanan Bersama. (TRT World)

Tadi saya dihubungi teman, Ahmad Mulyadi namanya.

Dulu dipertemukan saat sama-sama belajar di surat kabar harian nasional di Jakarta.

Sudah belasan tahun berlalu.

Alhamdulillah, sampai sekarang masih terus berkomunikasi. Kadang diskusi, kadang-kadang menggarap tulisan bareng.

Dulu, kami juga pernah merintis media bersama-sama.

Kini, setelah ia meraih gelar PhD, di Tomsk State University, Russia, Ahmad mengajar di salah satu universitas di Jakarta.

Ia mengajar sesuai bidang yang dikuasainya: geopolitik global.

Setiap teleponan, ada saja bahasan geopolitik global yang kita bicarakan.

Ahmad memang tokcer. Tak hanya wawasannya. Tapi ia juga menguasai sedikitnya tujuh bahasa asing:

Bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Turki, Arab, dan bahasa Russia. Seperti seorang polyglot.

Selain itu, ia sering menulis di media nasional, aktif juga berkarya di media asing.

Begitu pun jurnal-jurnalnya yang bertengger di Scopus, pangkalan data sitasi dan abstrak literatur ilmiah internasional bereputasi tinggi.

Scopus dikelola penerbit Elsevier.

Platform ini mempublikasikan puluhan ribu jurnal akademik, prosiding konferensi, buku berbagai disiplin ilmu di seluruh dunia yang tentu saja, harus melalui seleksi ketat.

Kembali ke laptop.

Sejak kemarin, media global dan media nasional ramai membicarakan soal Pakta Pertahanan Bersama.

Tiga negara: Arab Saudi, Turki, dan Pakistan telah menandatangani kesepakatan pertahanan bersama itu.

Mereka menegaskan komitmen ketiga negara nemperkuat keamanan kolektif serta menghadapi berbagai bentuk agresi.

Kesepakatan bersejarah itu ditandatngani di Makkah, Arab Saudi, Jumat 7 Agustus 2026.

Isu ini tentu menjadi perhatian dunia. Dus, tak luput dari perhatian Ahmad.

Ia berpendapat, Turki kekuatan NATO terbesar kedua, anggota G-20 dan produsen serta eksportir senjata juga peralatan militer terbesar di dunia.

Pakistan, salah satu negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia. Sedangkan Arab Saudi, selain anggota G-20 juga penghasil minyak terbesar di dunia.

Termasuk negara dengan anggaran militer terbesar di dunia.

Menurut Ahmad, secara teori Aliansi Militer ini tak hanya mengubah geopolitik Timur Tengah.

Tapi juga menentukan peta geopolitik dunia.

Salah satu alasannya, letak geografis ketiga negara tersebut mengcover area yang cukup luas dan bervariasi: Timur Tengah, Asia dan Eropa.

Ketiga negara itu sepakat, jika salah satu negara mereka diserang negara lain maka serangan itu dianggap menyerang tiga negara tersebut.

Berapa kuat kekuatan mereka? Tentu saja, sangat besar pengaruhnya.

Tapi, sebelum menghitung kekuatan militer ketiga negara tersebut, ada  pertanyaan yang mengganjal:

Kenapa tetiba mereka membuat aliansi militer? Terutama di tengah gempuran Iran terhadap pangkalan Amerika di kawasan.

Banyak yang menyayangkan, kekuatan mereka sebelumnya kenapa tak digunakan untuk membela genosida di Gaza.

Yang tentu risikonya pun sangat besar.

Seberapapun dahsyatnya kekuatan mereka, kalau ratusan ribu manusia di Gaza masih dibantai seenaknya, masgyul rasanya.

Ah lupa, ketiga negara itu cukup dekat dengan Amerika.

Yang notabene Amerika membantu Zionis Israel melakukan genosida di Gaza.

Jadi, kita jangan berharap Turki, Pakistan dan Saudi akan menyetop genosida di Gaza lewat serangan gabungan mereka.

Jangan bermimpi mereka melancarkan gempuran hebat ke Tel Aviv.

Kita mimpi yang biasa-biasa saja.

Sambil terus doakan, semoga kejahatan kemanusiaan di Gaza segera berakhir.

Semoga rasa kemanusiaan kita masih tersisa dalam jiwa.

Membantu, minimal terus mendoakan mereka: saudara-saudara kita di Gaza. Mendoakan Kemerdekaan Palestina.

Sesuai amanat konstitusi kita.

Amanat yang diabadikan dalam Alinea Pertama Pembukaan UUD 1945. Bunyinya:

“Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan…”

Tapi kita pun patut bertanya: sebenarnya bangsa ini apakah sudah benar-benar merdeka?

Di bulan Kemerdekaan, kita masgyul, bertambahnya kemiskinan, pengangguran, utang negara pun membengkak.

Harga-harga naik, lalu rakyat yang dicekik pajak. Di tengah kehidupan mewah pejabat.

Di tengah rangkap jabatan menteri. Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

Shalallahu alaa Muhammad.

Rudi Al Pacino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *