Tokoh  

Sebelum Jadi Wakil Rakyat, Halili Adinegara Pernah Berhenti Sekolah demi Memakai Loreng

Keputusan meninggalkan bangku SMA membawanya dari kampung halaman di Madura ke dunia militer, sebelum akhirnya berlabuh di gedung DPRD.

SIVANA, BALIKPAPAN – Jauh sebelum duduk di kursi DPRD Kota Balikpapan, Halili Adinegara sudah memilih jalan hidupnya sejak remaja.

Ketika hampir naik kelas tiga SMA, ia berhenti sekolah. Bukan karena tidak mampu melanjutkan pendidikan. Ia hanya ingin satu hal, yakni secepat mungkin mengenakan seragam loreng.

“Pengen cepat bagaimana caranya saya pakai loreng,” kata Halili ketika menceritakan masa mudanya secara langsung kepada Sivanamedia.com.

Keputusan itu kemudian membawanya keluar dari kampung halaman di Pamekasan, Madura, menuju Balikpapan.

Pada 1992, ia resmi menjadi prajurit TNI Angkatan Darat. Tiga dekade lebih kemudian, seragam itu dilepas. Halili pensiun dari militer pada 2023.

Setahun berselang, ia kembali masuk ke lingkungan yang selama bertahun-tahun pernah ia lihat dari sisi lain yakni di gedung legislatif.

Pada Pemilu 2024, Halili terpilih sebagai anggota DPRD Kota Balikpapan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), daerah pemilihan Balikpapan Utara.

Ia dilantik pada 26 Agustus 2024 dan kini menjadi Wakil Ketua Komisi III DPRD Balikpapan yang membidangi pembangunan, lingkungan hidup, dan perhubungan.

Namun perjalanan menuju kursi itu bermula jauh dari politik. Halili tumbuh di lingkungan Madura, Pamekasan. Orang tuanya merupakan pedagang. Namun sejak kecil, ia justru tertarik pada pekerjaan di lahan.

Ia membantu orang tua berdagang sekaligus bertani. Jagung dan tembakau menjadi tanaman yang akrab dengannya. Barang dagangan keluarga juga dibawa hingga Surabaya.

Sekitar 1986-1987, ketika masih duduk di kelas dua SMP, aktivitas itu sudah dijalaninya.

“Walaupun orang tua berlatar belakang pedagang, saya suka bertani,” ucapnya.

Sekolah tetap berjalan. Setelah lulus SMP, ia melanjutkan pendidikan ke SMA. Namun cita-cita menjadi tentara semakin kuat.

Ada alasan keluarga di balik keinginan tersebut. Kakeknya merupakan seorang veteran.

“Saya ingin melanjutkan perjuangan daripada kakek saya,” kenang Halili terhadap sosok kakek nya.

Keinginan itu akhirnya mengalahkan sekolah. Saat Halili hampir naik kelas tiga SMA, ia pun memutuskan berhenti.

Ia tidak banyak berpikir tentang bagaimana pilihan tersebut akan menentukan hidupnya puluhan tahun ke depan. Yang ada di kepalanya ketika itu adalah bagaimana segera menjadi tentara.

Pada 1991, Halili berangkat ke Balikpapan. Sebelum itu, ia mengurus kebutuhan administrasi dan perpindahan penduduk.

Di Balikpapan, ia tinggal bersama pamannya yang juga anggota TNI. Setahun kemudian, ia mendaftarkan diri sebagai prajurit TNI AD. Ia lulus dan dilantik sebagai Prajurit Dua pada 19 September 1992.

Setelah pelantikan, pendidikan berlanjut ke kejuruan Polisi Militer di Cimahi. Pendidikan itu berlangsung sekitar empat bulan.

Di masa awal menjadi prajurit, Halili menjalani berbagai pekerjaan sebelum kemudian mendapat tugas yang lebih dekat dengan para komandan.

Ia pun pernah menjadi sopir Komandan Pomdam dan Wakil Komandan Pomdam. Pekerjaannya juga mencakup hal-hal sederhana seperti mencuci mobil, menyemir ban kendaraan, hingga menyemir sepatu komandan.

Bagi Halili, bagian itu menjadi salah satu potongan perjalanan yang tidak terpisahkan dari masa pengabdiannya di militer.

Pada awal 1993, ia mulai menjalani penugasan di Kalimantan. Masa itu menjadi awal perjalanan panjang yang kemudian berlangsung hingga 2023.

Halili menyebut dirinya mengabdi sekitar 33 tahun di lingkungan TNI AD. Pangkat terakhirnya Sersan Kepala.

Ketika pertama kali menerima gaji sebagai prajurit, nominalnya masih jauh dari angka yang sekarang dikenal generasi pekerja.

“Gaji saya waktu jadi tentara pertama Rp110 ribu tahun 1992,” ungkqp Halili.

Ia masih mengingat kondisi ekonomi ketika itu. Menurut ingatannya, harga beras masih sekitar Rp200 perak. Angka Rp110 ribu tersebut menjadi salah satu ingatan yang masih melekat dari awal pengabdiannya.

 

Bertahun-tahun berada di belakang pimpinan DPRD

Ada bagian lain dari perjalanan militernya yang kemudian menjadi jembatan menuju politik. Halili pernah menjalankan tugas pengamanan pimpinan DPRD Provinsi Kalimantan Timur.

Ia mengatakan tugas tersebut berlangsung bertahun-tahun. Dalam periode itu, ia berada dekat dengan sejumlah tokoh yang memimpin lembaga legislatif provinsi.

Salah satu nama yang ia sebut adalah Mukmin Faisyal HP. Nama ini memang bukan sekadar tokoh yang pernah berada di DPRD Kaltim.

Dokumen Mahkamah Konstitusi mencatat Mukmin Faisyal sebagai Ketua DPRD Provinsi Kaltim ketika maju dalam Pilgub Kaltim 2013 bersama Awang Faroek Ishak. Setelah itu, Mukmin Faisyal menjabat Wakil Gubernur Kaltim periode 2013-2018.

Halili menuturkan pengalaman bertahun-tahun berada di sekitar pimpinan DPRD membuatnya sedikit demi sedikit mengenal kehidupan politik dari jarak dekat.

Namun saat itu ia belum berpikir akan duduk di dalam lembaga yang sama. Ia masih seorang prajurit yang menjalankan tugas kedinasan.

Pada 2023, masa pengabdiannya di TNI berakhir. Pensiun memaksanya memikirkan kehidupan baru.

“Sudah mendekati pensiun tuh. Ke mana saya mau melangkah,” ujarnya.

Pilihan untuk masuk politik kemudian muncul. Menurut Halili, pensiunan tentara biasanya memiliki sejumlah pilihan pekerjaan setelah tidak lagi berdinas.

Ia sendiri mulai memikirkan kehidupan setelah pensiun. Selama bertahun-tahun berada di lingkungan DPRD saat menjalankan tugas pengamanan membuatnya tidak asing dengan dunia politik.

Namun, ia tidak serta-merta memutuskan untuk terjun ke dalamnya. Menjelang pensiun, Halili kemudian mendapat ajakan dari Syafruddin alias Udin, Ketua Dewan Tanfidz DPW PKB Kalimantan Timur periode 2026-2031.

Halili menyebut dirinya sudah lama mengenal Syafruddin. Dari hubungan tersebut kemudian muncul tawaran untuk bergabung dengan PKB.

“Kalau memang tidak beda kegiatan, pensiun kapan, ya daripada ke mana-mana, ya sudah ikut saya aja,” tuturnya.

Ajakan itu akhirnya diterima. Halili mengungkapkan ada kesamaan yang membuatnya merasa cocok dengan PKB.

Salah satunya adalah karakter partai yang menurutnya berbasis keislaman. Selain itu, ia merasa memiliki kesamaan nilai dengan lingkungan partai.

Sebelum bergabung dengan PKB, Halili mengaku pernah berada di lingkungan Partai Golkar selama sekitar sepuluh tahun.

Kedekatan itu berlangsung ketika ia masih menjalankan tugas kedinasan dan berinteraksi dengan sejumlah tokoh politik di DPRD Provinsi Kalimantan Timur.

Setelah pensiun pada 2023, ia memilih melanjutkan pengabdiannya melalui jalur politik. Pada Pemilu 2024, Halili maju sebagai calon anggota DPRD Kota Balikpapan dari PKB dan terpilih dari daerah pemilihan Balikpapan Utara.

Ia kemudian dilantik pada 26 Agustus 2024. Perubahan itu membuat posisi Halili berbalik. Jika sebelumnya ia menjalankan tugas pengamanan di sekitar pejabat dan pimpinan DPRD, kini ia menjadi bagian dari lembaga tersebut.

Kendati demikian, ia tidak melihat politik sebagai pekerjaan yang sepenuhnya berbeda dari pengabdiannya selama menjadi tentara.

“Setelah pensiun ini kan kita kembali lagi ke masyarakat,”

Bagi Halili, masuk politik merupakan kesempatan untuk tetap memberikan manfaat setelah tidak lagi berdinas.

“Kepinginnya sudah jadi masyarakat, ya kepingin lagi bagaimana memperjuangkan atau ada istilahnya untuk membantu masyarakat,” tandas Halili.

Di DPRD, Halili menyampaikan bahwa persoalan pembangunan lingkungan sebagai salah satu perhatian. Banjir, kebutuhan fasilitas warga, hingga pembangunan di tingkat lingkungan menjadi persoalan yang menurutnya perlu diperjuangkan.

Pengalaman sebelumnya sebagai Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) juga menjadi bagian dari aktivitasnya sebelum menjadi anggota DPRD.

Ia menyampaikan kawasan Gunung Samarinda sebagai salah satu wilayah yang pernah menjadi tempatnya terlibat dalam kegiatan masyarakat. Salah satu kebutuhan yang menurutnya sederhana tetapi penting adalah ruang pertemuan warga.

Kegiatan masyarakat tidak seharusnya terus menggunakan rumah ketua RT. Halili memandang, apabila tersedia lahan, fasilitas lingkungan dapat dibangun untuk menjadi tempat pertemuan dan aktivitas warga.

“Kalau tidak ada, jangan masa mau gunakan rumah ketua RT,” tegasnya.

 

Tiga dunia yang berbeda

Di DPRD, Halili kini berhadapan dengan orang-orang dari latar belakang politik yang berbeda.
Ia mengakui terdapat perbedaan dengan kehidupan militer.

“Kalau di DPR kan berbagai macam warna,” imbuhnya.

Namun menurutnya, perbedaan itu tidak seharusnya menjadi penghalang ketika kepentingan yang dibawa adalah masyarakat.

“Walaupun beda warna, kalau sudah di DPR, tetap kita satu duduan. Untuk membantu masyarakat,” terang Halili.

Di titik ini, perjalanan nya mempertemukan tiga dunia yang berbeda. Dunia pertama adalah ladang, yang kedua adalah militer, serta yang ketiga adalah politik.

Namun ketika diminta menyebut pengalaman yang paling melekat, jawabannya justru bukan tentang politik. Bukan pula tentang pangkat terakhirnya sebagai Serka.

Ia kembali mengingat masa ketika masih bertani.

Halili masih mengingat musim tanam dan panen tembakau di kampungnya. Ia pernah menanam jagung dan tembakau. Belakangan, tanaman bawang juga dikelola di lahan keluarga.

Kedua orang tuanya kini sudah meninggal. Namun tanah keluarga di Pamekasan masih ada. Ia bilang lahan tersebut tetap dapat dikelola siapa pun yang ingin menggarapnya.

Halili menekankan, tidak ada alasan untuk memperebutkan tanah itu selama bisa dimanfaatkan.

“Pengalaman menarik tidak pernah saya lupakan pada saat berdagang dan bertani,” pungkasnya.

Kenangan itu tetap muncul bahkan setelah puluhan tahun ia meninggalkan kehidupan sebagai petani.

Kini ia duduk di gedung DPRD sebagai wakil rakyat. Namun, ketika berbicara tentang pengalaman hidup yang paling melekat, ingatannya justru kembali pada tanah, jagung, dan tembakau di kampung halamannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *