Tokoh  

Dari Sopir Angkutan Kota hingga DPRD, Begini Perjalanan Yusri

Sebelum duduk di DPRD, Yusri lebih dulu akrab dengan setir angkot.

SIVANA, BALIKPAPAN – Ada anak yang sejak kecil sudah tahu ingin menjadi apa. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, tentara, atau pengusaha. Yusri tidak punya daftar sepanjang itu.

Keinginan orang tuanya justru sangat sederhana, ingin anaknya punya pekerjaan dan pulang dengan pakaian yang rapi.

“Orang tua saya itu kepingin anaknya bajunya rapi. Kalau berangkat kerja, tidak kotor. Karena bapak saya seorang wiraswasta yang bergelut dengan pekerjaan keras,” tutur Yusri kepada Sivanamedia.com, Selasa (11/8/2026).

Yusri, politisi Golkar kelahiran 27 Juli 1977 di Balikpapan, tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi yang tidak selalu lapang. Ibunya punya doa sendiri untuk anak-anaknya.

“Bersih dalam hatinya, bersih dalam bertindak, bersih dalam kelihatan sehari-hari,” kenangnya.

Doanya itu terdengar sederhana. Namun, hidup Yusri ternyata tidak sesederhana itu.

Ia pernah menjadi sopir angkot, membantu usaha keluarga, masuk ke perusahaan hutan industri, kembali duduk di bangku kuliah ketika usianya sudah tidak muda, hingga akhirnya terjun ke politik.

Politik justru datang paling belakangan.

Yusri menamatkan pendidikan di SMK Pasar Baru. Setelah lulus, ia tidak langsung melanjutkan kuliah. Setir angkot lebih dulu menjadi jalan yang dipilihnya.

Sekitar 1999-2000, Yusri menjadi sopir angkutan kota nomor lima. Kala itu, angkot masih menjadi bagian penting dari lalu lintas Balikpapan.

Penghasilannya cukup membuat anak muda seusianya merasa hidup sedang baik-baik saja.

“Pulang, membawa pundi-pundi rupiah,” sebutnya.

Di masa itu, Yusri punya teman bernama Haris. Keduanya sudah berteman sejak SMP.

Selepas sekolah, jalan mereka sempat berbeda.

Haris melanjutkan pendidikan ke Bandung, sementara Yusri memilih bekerja sebagai sopir angkot.

Haris kemudian menempuh jalannya sendiri hingga menjadi anggota DPRD Kota Balikpapan dari Fraksi PDI Perjuangan.

Kini, keduanya kembali berada di satu ruang kerja sebagai anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan.

Dulu mereka bertemu sebagai teman sekolah. Hari ini, meja yang sama mempertemukan keduanya dalam urusan yang lebih besar mengenai kota tempat mereka menjalani hidup.

Namun pada masa itu, Yusri masih harus menyelesaikan perjalanannya sendiri.

Ia masih berada di balik kemudi dan belum punya bayangan akan berakhir di gedung DPRD.

Perubahan mulai terasa ketika kendaraan pribadi semakin mudah diperoleh. Motor bisa dibeli dengan sistem kredit. Yusri mulai menghitung ulang masa depannya.

Kalau terus menjadi sopir angkot, pikirnya, hidupnya akan berputar di jalur yang sama. Angkot itu akhirnya ia jual.

Kijang Super dan Keinginan Menjadi Pengusaha

Yusri kemudian mencoba membawa mobil untuk antarwilayah. Kendaraannya bukan lagi angkot, melainkan Kijang Super.

Penumpang ia jemput dari bandara maupun pelabuhan, lalu diantar ke berbagai daerah seperti Banjarmasin dan Bontang.

Enam bulan pekerjaan itu dijalani. Setelahnya, mobil tersebut mengalami kerusakan.

“Kalau dibawa angkot aja terus. Nginjak gas, ngelihat ke depan. Enggak kenal waktu,” ujarnya.

Pengalaman itu membuatnya kembali berpikir.

Kepada ibunya, Yusri mengatakan tidak ingin lagi menjadi sopir. Ia ingin menjadi pengusaha.

Pilihan tersebut membawanya masuk ke usaha milik sang ayah yang bergerak di bidang pembuatan dan penjualan pintu, jendela, serta kebutuhan bangunan.

Yusri bukan sekadar mengantar barang. Ia ikut mengurus nota dan memeriksa pembayaran pelanggan. Kalau ada yang belum melunasi, ia pula yang harus mengingatkan.

“Kalau belum dibayar, saya yang buat nota-notanya. Saya lihat, kok di sini masih ada utangnya?” ceritanya.

Dari pekerjaan itu, ia belajar bahwa menjadi pengusaha tidak cuma perkara menjual barang. Ada barang yang mesti dikirim, uang yang perlu ditagih, dan pelanggan yang harus dijaga.

Sekitar 2005-2006, langkahnya kembali bergeser. Yusri masuk ke perusahaan hutan industri, termasuk pekerjaan yang berkaitan dengan pembukaan lahan untuk akasia.

Fase tersebut menjadi bagian lain dari perjalanan ekonominya. Ia tidak lagi mengandalkan setir dan ongkos penumpang, melainkan mulai mengelola pekerjaan dan usaha dengan tanggung jawab yang lebih besar.

Di Usia Tak Lagi Muda, Yusri Kembali Jadi Mahasiswa

Tahun 2018, Yusri memutuskan kembali duduk di bangku kuliah. Ia mengambil jurusan Ekonomi di Universitas Balikpapan. Usianya saat itu sudah tidak muda. Teman-teman kuliahnya rata-rata jauh lebih muda.

“Anak-anak itu umur 20 tahun. Saya 40 tahun,” katanya sambil terkekeh.

Kuliah berlangsung setiap Jumat dan Sabtu. Jumat sore hingga malam, sementara Sabtu sejak pagi sampai sore.

Di tengah kesibukannya sebagai pengusaha, Yusri tetap menyelesaikan perkuliahan.

Justru ketika berada di kelas, ada presentasi, tugas-tugas, juga kesempatan berbicara di depan teman-teman yang usianya jauh lebih muda.

Untuk urusan itu, Yusri punya resep sendiri.

“Kalau presentasi, saya lebih aktif berbicara. Mau betul, mau salah, yang penting saya ngomong dulu. Model pede saja,” yakinnya.

Dari sekitar 20 mahasiswa, hanya delapan yang akhirnya menyelesaikan pendidikan. Yusri menjadi salah satunya.

Pada 2022, pendidikan sarjananya selesai. Namun gelar S1 rupanya belum membuatnya ingin menutup buku.

Yusri melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Universitas Malang, juga dalam bidang Ekonomi. Bahkan, ia sudah menyimpan rencana untuk melanjutkan ke jenjang doktor.

“Saya mau lanjut lagi S3. Tapi saya pikir-pikir, masih ada pekerjaan,” ungkapnya.

Usia, bagi Yusri, tampaknya bukan alasan untuk berhenti belajar.

Politik yang Dulu Kurang Menarik

Kalau pendidikan datang belakangan, politik justru datang paling akhir. Ia mengaku tidak pernah bercita-cita menjadi anggota DPR.

“Saya itu intinya, enggak pernah ada niatan mau jadi anggota DPR. Bagi saya, politik waktu itu kurang menarik,” sebutnya.

Pandangan tersebut perlahan berubah setelah ia beberapa kali menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan wali kota.

Yusri melihat politik dari jarak yang lebih dekat.

Ia menyaksikan bagaimana tim bekerja, bagaimana kandidat bertemu masyarakat, dan bagaimana proses politik berjalan di lapangan.

Dari sana, rasa penasarannya tumbuh.

“Kalau saya lihat waktu itu, karena saya pernah beberapa kali jadi tim pemenangan wali kota. Oh, ternyata asyik juga kalau kita berpolitik,” imbuhnya.

Rasa penasaran kemudian berubah menjadi keberanian untuk mencoba. Bukan dengan teori politik yang panjang. Yusri justru menggambarkannya seperti belajar membaca arus.

“Kalau kita ikut arus B, arus C, arus D, berarti kita tinggal bagaimana mempelajari dari A, B, C, D-nya,” jelasnya.

Dari situlah langkah Yusri menuju politik mulai terbentuk.

Ketika akhirnya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif, Yusri tidak mengaku membawa visi kampanye yang rumit.

Ia memilih cara yang menurutnya sederhana, misalnya dengan datang kepada masyarakat dan meminta kepercayaan.

“Kalau mau jadi, jadi sekalian. Kalau enggak, enggak juga,” ucapnya penuh optimisme.

Prinsipnya pun singkat.

“Saya datang, saya lihat, saya harus menang.” Kalimat ini keluar dengan nada penuh tenaga.

Puluhan tahun di Balikpapan rupanya belum cukup untuk menggeser logat Sinjai dari ciri khas Bugis-nya.

Nada bicaranya lantang, ceritanya cepat, sesekali diselipi tawa. Kalau baru pertama mendengar, mungkin terasa seperti sedang dimarahi.

Padahal, Yusri hanya sedang bersemangat bercerita.

Di balik gaya yang berapi-api itu, pandangannya mengenai tugas sebagai wakil masyarakat justru lebih santai.

Ia tidak mengaku bisa menyelesaikan semua persoalan. Namun menurut Yusri, orang yang datang membawa persoalan setidaknya harus didengar.

“Saya ini wakil masyarakat. Kalau masyarakat itu datang ke saya, terus saya tidak layani, bagaimana?” tegasnya.

Ketika ditanya mengenai prinsip yang ingin dibawa dalam politik, Yusri kembali pada kalimat yang tidak rumit. Mari berbuat baik.

Ia beranggapan, berbuat baik tidak perlu dimulai dengan sesuatu yang besar. Mulai dari lingkungan keluarga dulu, kemudian kepada tetangga. Setelah itu, barulah lingkupnya diperluas.

“Berbuat baik di lingkungan keluarga dulu. Habis itu nanti kita keluar, tetangga kita misalnya. Baru lingkup luasnya,” urainya.

Dari keluarga, lingkungan sekitar, RT, kelurahan, kecamatan, hingga masyarakat yang lebih luas. Cara berpikir itu yang kemudian ia bawa ketika dipercaya duduk di DPRD Kota Balikpapan.

Kini Yusri dipercaya sebagai Ketua Komisi III DPRD Kota Balikpapan. Posisi itu membawanya pada ruang kerja yang berbeda dari kehidupan yang pernah ia jalani sebelumnya.

Ketika ditanya apa pelajaran terbesar dari perjalanan tersebut, Yusri kembali pada satu kalimat yang ia pegang.

“Tidak akan berubah suatu kaum kalau bukan dia yang mengubahnya.”

Kalimat tersebut mungkin menjadi gambaran paling sederhana tentang perjalanan Yusri. Di saat merasa harus berubah, ia memilih bergerak lebih dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *