SIVANA, BALIKPAPAN – Di tengah panggung sepak bola profesional Balikpapan yang belum kembali semeriah masa lalu, asa itu masih tumbuh dari lapangan-lapangan sederhana.
Bukan dari stadion megah, apalagi dari akademi dengan fasilitas lengkap.
Asa itu dirawat enam guru pendidikan jasmani di Balikpapan Selatan diantaranya ada Irfan, Aspian, Lutfi, Ridho, Akbar, dan Cakra.
Selama sekitar empat tahun, keenamnya konsisten membina anak-anak melalui Sekolah Sepak Bola (SSB) yang mereka dirikan bersama.
Di sela kewajiban sebagai guru, mereka memilih meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anak yang memiliki mimpi menjadi pesepak bola.
SSB tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk berlatih sekaligus mendapatkan kesempatan yang sama. Sebagian besar peserta didiknya berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.
Bagi sebagian orang tua, membeli sepatu bola, perlengkapan latihan, hingga membayar kebutuhan mengikuti turnamen bukan perkara mudah.
Namun keterbatasan itu tidak membuat semangat para guru dan anak didiknya ikut surut.
Latihan tetap berjalan. Lapangan seadanya tetap menjadi tempat mereka mengejar bola.
Peralatan yang terbatas tidak menjadi alasan untuk berhenti. Dari tempat sederhana itulah, perlahan prestasi mulai datang.
Sejumlah anak binaan mereka berhasil meraih prestasi dalam berbagai turnamen, mulai dari tingkat Kota Balikpapan hingga Provinsi Kalimantan Timur.
Di balik trofi yang dibawa pulang, ada perjuangan yang jarang terlihat.
Biaya operasional latihan, kebutuhan perlengkapan, hingga ongkos mengikuti kompetisi harus diupayakan secara mandiri.
Tak sedikit pula kebutuhan anak didik yang harus dibantu karena kondisi ekonomi keluarganya.
“Kami hanya ingin anak-anak ini punya wadah positif dan kesempatan yang sama untuk mengejar cita-cita mereka. Banyak dari mereka punya bakat alami yang luar biasa, sayang kalau harus padam hanya karena masalah biaya,” ujar Irfan saat mendampingi anak didiknya berlatih.
Harapan yang sama terpancar mendalam dari anak-anak binaan mereka, “Kami tidak meminta lapangan yang megah, yang kamu inginkan pemerintah bisa hadir untuk memastikan sepatu yang jebol, bola yang kempes dan biaya turnamen tidak lagi menjadi alasan terhentinya mimpi kami untuk membela nama Balikpapan.”
Bagi mereka, sepak bola bukan sekadar soal menang atau kalah dalam pertandingan. Lapangan latihan menjadi tempat anak-anak belajar disiplin, bekerja sama, menjaga semangat, dan berani mengejar sesuatu yang mereka impikan.
Tetapi perjalanan itu belum sepenuhnya mendapat dukungan yang memadai. Sarana latihan, kebutuhan pembinaan, hingga kesempatan mengikuti kompetisi secara berkelanjutan masih menjadi tantangan bagi SSB yang tumbuh dari komunitas.
Padahal, dari tempat-tempat seperti inilah bibit pemain biasanya mulai ditemukan.

Balikpapan bukan kota yang asing dengan sepak bola. Nama Persiba Balikpapan pernah menjadi bagian penting dari kompetisi sepak bola nasional.
Klub berjuluk Beruang Madu tersebut pernah bersaing di kasta tertinggi dan menjadi kebanggaan masyarakat Kota Minyak.
Kini, ketika Persiba masih berjuang kembali ke level kompetisi tertinggi, pembinaan usia dini menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang sepak bola daerah.
Bakat-bakat muda membutuhkan jalur yang jelas. Dari SSB, mereka perlu mendapatkan kompetisi yang cukup, pembinaan yang berkelanjutan, hingga kesempatan untuk dipantau dan dikembangkan ke jenjang berikutnya.
Kisah Irfan, Aspian, Lutfi, Ridho, Akbar, dan Cakra menjadi gambaran kecil tentang bagaimana sepak bola akar rumput masih bertahan di Balikpapan.
Mereka tidak memiliki fasilitas berlebihan. Mereka juga tidak datang dengan dukungan besar.
Yang mereka punya adalah waktu, tenaga, dan keyakinan bahwa setiap anak yang datang membawa bola memiliki hak untuk bermimpi.
Anak-anak dari keluarga sederhana itu mungkin belum bermain di stadion besar. Nama mereka mungkin belum dikenal penonton.
Tetapi setiap latihan sore, setiap pertandingan, dan setiap trofi yang mereka bawa pulang adalah bagian dari perjalanan yang suatu hari bisa membawa mereka lebih jauh.
Sepak bola Balikpapan mungkin masih mencari jalan untuk kembali berjaya. Namun di lapangan-lapangan sederhana, harapan itu belum pernah benar-benar padam.
Sebab, selama masih ada guru yang mau melatih, anak-anak yang mau berlari mengejar bola, dan orang-orang yang bersedia menjaga mimpi mereka, asa dari akar rumput itu akan tetap tumbuh.
Salsa


