SIVANA, BALIKPAPAN – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah mulai menghentikan impor solar pada 2026, seiring beroperasinya Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan milik PT Pertamina (Persero).
Pernyataan itu disampaikan Bahlil saat mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).
Proyek kilang bernilai USD 7,4 miliar tersebut disebut menjadi tulang punggung baru kebijakan ketahanan energi nasional.
Menurut Bahlil, kebijakan penghentian impor solar sudah mulai diterapkan tahun ini. Jika masih terdapat pasokan impor pada awal 2026, hal tersebut merupakan sisa kontrak lama, bukan kebijakan baru pemerintah.
“Kita sudah mulai tahun ini. Kementerian ESDM tidak lagi mengeluarkan izin impor solar,” ucap Bahlil saat diwawancara.
RDMP Balikpapan terhubung dengan jaringan infrastruktur energi di Lawe-Lawe, Penajam Paser Utara, dengan jarak sekitar 75 kilometer. Kilang ini menghasilkan berbagai produk energi, mulai dari solar, bensin, LPG, hingga produk petrokimia.
Bahlil menyebut tambahan produksi bensin dari RDMP Balikpapan mencapai 5,8 juta kiloliter per tahun. Dengan konsumsi nasional sekitar 54 juta kiloliter dan impor bensin mencapai 24 juta kiloliter, tambahan kapasitas tersebut diklaim mampu menekan impor secara signifikan.
Tak hanya solar, pemerintah juga menargetkan penghentian impor jenis BBM lain. CN48 disebut telah sepenuhnya diproduksi di dalam negeri, sementara impor CN51 ditargetkan berhenti pada semester II 2026.
Dari sisi mutu, BBM hasil RDMP Balikpapan diklaim telah memenuhi standar Euro 5, meningkat dari standar sebelumnya Euro 2, dan disebut setara dengan spesifikasi internasional.
“Kualitasnya sudah naik. Tidak ada lagi perdebatan soal standar,” tutur Bahlil.
Selain penguatan kilang, pemerintah juga menyiapkan kebijakan mandatori bioetanol E10 hingga E20 yang direncanakan berjalan pada 2027-2028. Program ini akan memanfaatkan komoditas pertanian seperti jagung, singkong, dan tebu, serta melibatkan masyarakat dalam rantai pasok energi.
Ia mengungkapkan, Kementerian ESDM bersama Pertamina juga akan memperluas pengembangan kilang dan fasilitas penyimpanan energi di wilayah lain, termasuk Dumai, dengan melibatkan pihak swasta melalui skema kerja sama.
Peresmian RDMP Balikpapan disebut Bahlil sebagai momentum penting untuk mengurangi ketergantungan impor, memperkuat produksi dalam negeri, dan mendorong kemandirian energi nasional.
