Update  

Balikpapan Dikepung 550 Ton Sampah per Hari, PSEL Disiapkan agar Kota Tak Cari TPA Baru

SIVANA, BALIKPAPAN – Timbulan sampah di Kota Balikpapan mencapai sekitar 550 ton per hari. Di tengah beban yang terus meningkat itu, pemerintah mendorong percepatan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi agar kota tidak terus bergantung pada penimbunan sampah di TPA Manggar maupun kebutuhan lahan baru di masa depan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Balikpapan, Sudirman Djayaleksana mengatakan jumlah sampah harian tersebut menjadi dasar Balikpapan masuk dalam skema percepatan nasional pembangunan fasilitas pengolah sampah menjadi energi.

Ia mengungkapkan, sebelumnya pemerintah pusat menetapkan syarat kota peserta program harus memiliki timbulan sampah minimal 1.000 ton per hari.

Namun ketentuan itu kini berubah menjadi 500 hingga 1.000 ton per hari, sehingga Balikpapan memenuhi kriteria.

“Awalnya 1.000 ton ke atas. Sekarang 500 sampai 1.000 ton. Balikpapan sekitar 550 ton per hari, jadi bisa masuk,” sebut Sudirman.

Ia menjelaskan, saat ini pengelolaan sampah Balikpapan masih bertumpu pada sistem sanitary landfill dan controlled landfill, yakni penimbunan sampah di TPA dengan pengelolaan tertentu untuk menekan dampak pencemaran. Sistem tersebut dinilai masih efektif, tetapi membutuhkan ruang baru jika kapasitas tempat pembuangan akhir terus terisi.

Oleh sebab itu, lanjut Sudirman, PSEL dipandang sebagai solusi jangka panjang. Sampah yang selama ini hanya ditimbun nantinya dapat diolah menjadi energi listrik melalui fasilitas modern.

Selain memanfaatkan sampah harian baru, pemerintah juga menyiapkan opsi landfill mining atau pembongkaran kembali timbunan sampah lama di TPA untuk dijadikan tambahan bahan baku. Cadangan timbunan lama itu diperkirakan masih bisa dimanfaatkan hingga 15 tahun.

“Kalau ini berjalan, kita tidak perlu lagi mencari lahan baru,” katanya.

Sudirman menyampaikan, Balikpapan juga masuk dalam skema kawasan Balikpapan Raya bersama wilayah delineasi Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk Samboja dan Muara Jawa. Dengan pola regional tersebut, bahan baku fasilitas nantinya berpotensi berasal dari beberapa wilayah sekitar.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan penanganan sampah tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas besar, namun juga pengurangan sampah dari sumber melalui partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah rumah tangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *