SIVANA, MOJOKERTO – Pemandangan asri terbentang di kawasan pertanian Kampung Organik Brenjonk. Hamparan sawah hijau yang berada di Desa Penanggungan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, menghadirkan panorama menyejukkan sekaligus menjadi bukti keberhasilan masyarakat dalam menerapkan sistem pertanian organik yang berkelanjutan.
Kawasan ini tidak hanya menawarkan keindahan alam pedesaan, tetapi juga mencerminkan komitmen petani lokal dalam menjaga kesuburan tanah, kelestarian lingkungan, dan kualitas hasil pertanian melalui metode organik.
Direktur Kampung Organik Brenjonk, Slamet menjelaskan bahwa Brenjonk bukan sekadar komunitas pertanian di satu kampung saja, namun juga tersebar di beberapa desa.
Para petani yang bergabung mendapatkan pelatihan, pendampingan, hingga proses sertifikasi agar produk mereka memenuhi standar pertanian organik nasional.
Adapun, pendampingan tersebut dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan sumber daya manusia hingga akses pemasaran hasil panen ke pasar modern.
Produk-produk pertanian organik dari Brenjonk kini telah dipasarkan di berbagai jaringan ritel premium di Jawa Timur, seperti Superindo, Rans Market, Papaya dan lainnya.
“Tujuan kami bagaimana petani kecil di kampung ini, yang mayoritas ibu rumah tangga, bisa memiliki akses ke pasar premium,” ujar Slamet saat pemaparan, Jumat (22/5/2026).
Dia menyampaikan bahwa perjalanan panjang yang telah ditempuh selama ini turut membuahkan berbagai penghargaan. Pada 2014, Brenjonk menerima penghargaan karya penanggulangan kemiskinan dari Gubernur Jawa Timur.
Kemudian pada 2024, komunitas ini kembali memperoleh penghargaan Kalpataru.
Selain itu, Brenjonk juga turut serta dalam Digdaya BI sebagai salah satu komunitas yang masuk dalam upaya pengendalian inflasi di daerah.
Keberhasilan Kampung Organik Brenjonk juga tidak lepas dari dukungan Bank Indonesia sejak 2018. Melalui program pendampingan yang berlangsung selama lima tahun, Bank Indonesia turut memperkuat pengembangan kawasan tersebut. Mulai dari pengembangan wisata edukasi, hingga bantuan sarana dan prasarana pendukung.
“Kami dapat pendampingan dari Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Selama 5 tahun. Dari waktu itu kami gunakan untuk peningkatan SDM melalui sekolah lapang pertanian organik,” terangnya.
Slamet menegaskan, edukasi sebelum menggarap lahan sangat penting. Karena itu, petani terlebih dahulu harus memahami sistem pertanian organik sesuai standar nasional Indonesia (SNI) beserta prosedur operasional yang telah ditetapkan pemerintah.
“Karena sistem pertanian organik itu ada SOP dan standar yang harus dipenuhi dari kementerian. Jadi, nanti akan kita sertifikasi ketika produknya sesuai dengan SNI,” tambahnya.
Dengan sertifikasi organik Indonesia, produk beras yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi dan tidak bergantung pada ketentuan harga eceran tertinggi (HET). Kondisi itu membuat petani organik memiliki ruang lebih luas untuk meningkatkan kesejahteraan mereka.
Nah, untuk memperkuat daya saing, Brenjonk juga melakukan diversifikasi produk. Selain beras putih, para petani membudidayakan beras merah, hitam, cokelat, hingga pandan wangi. Bahkan beberapa jenis beras dipadukan menjadi produk beras mix yang menyasar pasar kesehatan dan gaya hidup ramah lingkungan.
“Inovasi itu penting supaya value produk petani terus meningkat,” imbuhnya.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan sehat yang terus meningkat, Kampung Organik Brenjonk menjadi contoh bahwa pertanian berbasis komunitas mampu tumbuh menjadi gerakan ekonomi sekaligus gerakan menjaga alam.












