Update  

Desalinasi Tak Sekadar Teknologi, Akademisi Ingatkan Biaya dan Kesiapan Sistem

SIVANA, BALIKPAPAN – Wacana pengolahan air laut menjadi sumber air bersih di Balikpapan mulai menguat, namun di balik itu muncul persoalan lain yang tidak sederhana mengenai kebutuhan energi besar, biaya operasional tinggi, dan kesiapan sistem yang belum sepenuhnya siap.

Hal ini disampaikan Akademisi Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Riza Hudayrizka, dalam Halal Bihalal dan Diskusi Ilmiah Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Balikpapan, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, persoalan utama air bersih di Balikpapan bukan hanya pada distribusi, melainkan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan. Pertumbuhan penduduk, ekspansi industri, hingga tekanan terhadap sumber air akibat perubahan tata guna lahan memperbesar kesenjangan tersebut.

Dalam kondisi itu, air laut mulai dilihat sebagai sumber alternatif. Namun, kandungan garam yang tinggi membuat air tersebut tidak bisa langsung digunakan tanpa proses pengolahan.

Melalui teknologi reverse osmosis, kadar zat terlarut dapat ditekan dari yang sebelumnya lebih dari 30.000 miligram per liter menjadi di bawah 300 miligram per liter. Hasilnya berupa air dengan kualitas yang dapat dimanfaatkan.

Kendati demikian, proses tersebut membutuhkan tekanan tinggi untuk memisahkan garam dan mineral, yang berimplikasi pada konsumsi energi yang besar.

“Biaya energi bisa mencapai 35 sampai 50 persen dari total operasional,” kata Riza.

Ia menguraikan bahwa sistem sea water reverse osmosis (SWRO) merupakan rangkaian proses yang saling terhubung, mulai dari pengambilan air laut, pra-pengolahan untuk menyaring partikel kasar, filtrasi menggunakan membran, hingga tahap akhir berupa pengolahan lanjutan dan distribusi.

Setiap tahapan tersebut, menurutnya, menentukan kualitas air sekaligus efisiensi sistem secara keseluruhan.

Sebagai pembanding, ia menyebut penerapan SWRO di Perth, Australia, yang telah berjalan sejak 2006 dan mampu memenuhi hingga 50 persen kebutuhan air kota melalui dukungan energi terbarukan dan sistem yang terintegrasi.

Namun, ia menegaskan bahwa penerapan di Balikpapan tidak dapat dilepaskan dari berbagai tantangan, mulai dari risiko teknis seperti penyumbatan membran (fouling), hingga kebutuhan investasi besar dan ketergantungan terhadap energi.

Selain itu, kondisi jaringan distribusi yang masih menghadapi kebocoran juga menjadi faktor yang perlu diperbaiki lebih dahulu.

“Kalau distribusi belum efisien, tambahan sumber air tidak akan maksimal,” sebutnya.

Riza menyakini, Balikpapan memiliki peluang untuk mengembangkan teknologi ini sebagai kota pesisir, terlebih beberapa sektor industri telah lebih dulu menerapkannya dalam skala terbatas.

Akan tetapi, untuk kebutuhan kota, penerapan tersebut memerlukan perencanaan yang lebih matang, termasuk perhitungan kapasitas, biaya, serta skema pengelolaan.

“Teknologinya ada, tetapi harus disiapkan secara menyeluruh,” tandasnya.

Diskusi ini pun menjadi bagian dari upaya memperluas kajian penyediaan air bersih di Balikpapan, dengan menghadirkan perspektif akademisi dalam merumuskan opsi jangka panjang yang masih memerlukan kesiapan sistem sebelum diterapkan secara luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *