SIVANA, BALIKPAPAN – Anak-anak biasanya hanya diminta menjaga kebersihan. Dalam Duta Cilik Lingkungan Hidup 2026, mereka diajak melangkah lebih jauh, dengan mengenali persoalan lingkungan yang ditemui dalam keseharian dan berani menyuarakannya.
Ruang tersebut terbuka saat 24 finalis Duta Cilik Lingkungan Hidup 2026 mengikuti audiensi bersama DPRD Kota Balikpapan, pada Kamis (27/8/2026), sebagai bagian dari rangkaian pembekalan sebelum grand final.
Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Syarifuddin Odang, berharap anak-anak yang terpilih tidak berhenti menjadi ikon lingkungan setelah rangkaian pemilihan selesai.
Bagi Oddang, 24 finalis yang mengikuti program tersebut justru dapat menjadi mata dan telinga dari lingkungan terdekat mereka. Anak-anak berada di sekolah, keluarga dan masyarakat setiap hari sehingga apa yang mereka lihat dan rasakan bisa menjadi informasi bagi pemerintah maupun DPRD.
“Anak-anak ini tumbuh berkembang sebagai bantuan kontrol kita. Karena ini masih polos, apa yang dilihat, apa yang dirasakan disampaikan ke kita,” ucapnya saat diwawancara Sivanamedia.com, usai pertemuan tersebut.
Ia mengatakan kepedulian lingkungan tidak seharusnya hanya dibicarakan dalam kegiatan pemerintahan. Lingkungan tempat anak tumbuh juga perlu menjadi ruang pertama untuk mengenali persoalan.
“Lingkungan kita itu mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat terdekat, maupun lingkungan sekolah,” tuturnya.
Program Duta Cilik Lingkungan Hidup Balikpapan 2026 diikuti 24 finalis, terdiri atas 12 putra dan 12 putri. Pesertanya merupakan siswa SD kelas 4 hingga kelas 6.
Mereka tidak langsung dipilih. Seleksi dimulai dari tes tertulis, kemudian wawancara, malam bakat, hingga grand final yang dijadwalkan pada 12 September.
Pendamping Duta Lingkungan, Resty Yusuf, menyampaikan para finalis menjalani rangkaian kegiatan selama satu bulan. Anak-anak tidak hanya mendapatkan materi tentang lingkungan, tetapi juga diajak melakukan praktik.
Mereka dikenalkan dengan pembuatan kompos, lubang resapan biopori (LRB), dan bank sampah. Persoalan lingkungan lain seperti sampah dan pencegahan kebakaran hutan juga menjadi bagian dari edukasi.
“Dari buat kompos, buat biopori, bank sampah, itu full mereka,” sebut Resty.
Program Duta Cilik ini baru berjalan selama dua tahun. Sebelumnya, Duta Lingkungan di Balikpapan telah berjalan sekitar 12 tahun dengan peserta dari jenjang SMA.
Perbedaannya kini ada pada usia peserta. Anak-anak sekolah dasar sejak kelas 4 hingga kelas 6 mulai diperkenalkan dengan persoalan lingkungan sekaligus didorong untuk mengenali kondisi di sekitar mereka.
Bagi DPRD, keberadaan mereka tidak semestinya selesai ketika selempang dikenakan dan nama pemenang diumumkan.
Tak hanya itu, informasi dari anak-anak tentang lingkungan tempat mereka tinggal dan belajar justru diharapkan terus sampai kepada pihak yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Salsa












