SIVANA, BALIKPAPAN – Pondok Pesantren (Ponpes) Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Km 19,5 Karang Joang, Balikpapan Utara, berhasil mengembangkan budidaya ayam petelur menjadi salah satu unit usaha produktif yang menopang kemandirian ekonomi pesantren.
Nah, ayam petelur yang dikelola ponpes merupakan bantuan program pengembangan peternakan yang didukung Bank Indonesia Balikpapan. Sebanyak 2.000 ekor ayam petelur jenis Lohmann Brown diberikan kepada ponpes.
Sebagai informasi, Lohmann Brown merupakan ayam petelur yang umum di budidayakan di Indonesia dan dikenal dengan ciri khas bulu berwarna coklat serta produksi telur yang stabil.
Adapun dalam pemilihan program budidaya ayam petelur, BI Balikpapan memiliki dua pertimbangan, yakni potensi ekonomi yang berkelanjutan dan peran strategis pesantren sebagai pusat pemberdayaan umat.
Kemudian, program ini juga sejalan dengan komitmen BI dalam mendorong penguatan ekonomi syariah berbasis pesantren sebagai bagian dari pengembangan ekonomi inklusif di daerah.
Budidaya ayam petelur juga memiliki keterkaitan langsung dengan upaya pengendalian inflasi, khususnya pada kelompok makanan dan minuman, di mana telur ayam ras merupakan salah satu komoditas yang sering mengalami fluktuasi harga.
Pengelolaan ribuan ayam petelur tersebut dipercayakan pada Muhammad Fadly, pengajar di Ponpes Al-Banjari. Ia bertanggung jawab penuh dalam perawatan dan pengembangan ternak.
Fadly mengungkapkan, ayam-ayam tersebut telah di rawat selama kurang lebih Sembilan bulan, sejak pertama kali diterima pada pertengahan Juni 2025. Selama periode tersebut proses pemeliharaan dilakukan secara intensif agar produktivitas optimal.
“Bantuan ayam petelur dari BI Balikpapan ini pada dasarnya bertujuan untuk membantu. Jadi sifatnya murni diperuntukan untuk pesantren dan hasilnya pun akan Kembali untuk pesantren,” ujarnya saat dijumpai secara langsung.
Hasil produksi telur dari budidaya ayam tersebut sangat baik. Produksi Ketika ayam dalam kondisi optimal dapat mencapai hingga 92 persen atau kisaran 62 piring, di mana per piringnya terdapat 30 butir.
“Untuk permudah menghitung, katakanlah tingkat produksi per harinya 90 persen, artinya bisa menghasilkan 1800 butir telur atau 60 piring, namun kalau sekarang produksinya sudah lumayan menurun sekitar 57-58 piring,” papar Fadly.
Meski demikian, dalam pengelolaan turut dijumpai beragam tantangan seperti menurunnya jumlah produksi.
Berbagai faktor menjadi penentu hasil produksi. Misalnya, stress, usia ayam, gangguan hewan liar, cuaca, kebersihan kandang maupun penyakit pada ayam.
Pun begitu, langkah dan upaya untuk memastikan ayam agar selalu sehat terus dilakukan. Salah satunya, dengan pemberian vitamin, menjaga kebersihan kendang, serta memastikan ayam tidak mendapatkan gangguan dari hewan liar.
Menariknya, Fadly juga menerapkan pendekatan unik untuk meningkatkan kenyamanan ayam, yakni dengan memutar murottal di setiap kendang. Inisiatif ini, kata dia, diharapkan mampu menciptakan suasana yang lebih tenang, sehingga ayam menjadi lebih rileks dan berdampak positif terhadap produksi telur.
“Jadi ayam ini tidak boleh stress, kalau sampai stress produksinya bisa menurun. Bahasanya, ya ayam ini harus di manja,” ucapnya.
Kendala yang dihadapi pada fase awal pemeliharaan menjadi masa paling krusial dalam pengelolaan ayam petelur. Fadly mengaku sempat mengalami kekhawatiran saat pertama kali menerima bantuan dari BI, terutama dalam menghadapi kendala teknis di lapangan.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Fadly kemudian berinisiatif untuk belajar secara mandiri demi meningkatkan pemahaman dalam beternak ayam petelur.
“Kami inisiatif sendiri untuk mencari bagaimana caranya supaya bisa berkembang, paham dan mengerti tentang pengelolaan ayam petelur,” jelasnya.
Upaya itu membawa ia belajar langsung pada peternak berpengalaman di Kawasan km 23, yakni koko Alim. Dari sana, Fadly memperoleh banyak pengetahuan praktis, mulai dari Teknik pemeliharaan hingga manajemen produksi telur.
Melalui proses belajar tersebut, Fadly kini semakin memahami pola pemeliharaan ayam petelur, sekaligus menjadikannya sebagai bekal penting untuk mengembangkan usaha peternakan di lingkungan pesantren secara berkelanjutan.
Seiring berjalannya waktu, budidaya ayam petelur di lingkungan ponpes menunjukkan perkembangan yang semakin positif. Berbagai kendala yang sempat dihadapi pada tahap awal perlahan mulai teratasi seiring dengan bertambahnya pengalaman dan pemahaman dalam pengelolaan ternak.
Fadly menjelaskan, dalam operasional harian, pengelolaan kendang dilakukan secara terstruktur oleh dua petugas yang bertanggung jawab langsung di lapangan.
“Untuk operasional sehari-hari itu ada dua petugas yang turun di kendang langsung. Masing-masing bertanggung jawab 1 kandang yang berisi 1000 ekor ayam,” tuturnya.
Tak hanya mengandalkan tenaga petugas, para santri pun di libatkan dalam berbagai aktivitas di kendang, mulai dari pemberian pakan hingga menjaga kebersihan lingkungan kendang. Keterlibatan santri ini bukan hanya membantu meringankan pekerjaan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran yang bernilai.
Lebih lanjut, iya menerangkan bahwa hasil produksi telur dari budidaya tersebut terbilang cepat terserap pasar. Meski pada tahap awal sempat menghadapi kendala pemasaran lantaran usaha ini baru pertama kali dijalankan, perlahan berbagai strategi mulai di jalankan. Fadly menyampaikan, di masa-masa awal pemasaran dilakukan melalui grup wali santri, serta menjualnya dalam kegiatan atau acara rutin bulanan.
Seiring berjalannya waktu, jaringan distribusi pun semakin terbentuk dan berjalan lebih lancar. Bahkan, hasil produksi tidak hanya di pasarkan di dalam kota Balikpapan, tetapi juga menjangkau hingga ke luar daerah, seperti tanah grogot.
“Pernah orang Grogot datang ke kita langsung untuk mengambil telur. Mungkin waktu itu disana stok telur kurang, jadi mereka ambil disini,” sebutnya.
Fadly mengungkapkan, meski di lirik hingga di luar daerah, namun penjualan saat ini masih di dominasi di wilayah Balikpapan dan sekitarnya. Telur-telur tersebut umumnya di serap oleh pelaku usaha lokal, seperti pemilik warung makan dan usaha kecil lainnya yang rutin mengambil pasokan dari ponpes.
Di sisi lain, dukungan dari BI Balikpapan turut berperan dalam memperluas akses pasar. Melalui berbagai program dan jejaring yang di miliki, hasil produksi peternakan turut di rekomendasikan ke sejumlah pihak, seperti Perumda Manuntung Sukses serta dilibatkan dalam kegiatan pasar murah dan penguatan sektor UMKM.
Dengan dukungan tersebut, penyerapan hasil produksi tidak hanya lebih stabil, tetapi juga membuka peluang pasar yang lebih luas.
Selain untuk kebutuhan pasar, Sebagian hasil produksi juga dimanfaatkan untuk kebutuhan internal pondok pesantren. Telur kerap dibagikan ke para santri sebagai tambahan konsumsi harian.
“Kadang dari pimpinan pondok juga meminta agar Sebagian telur diberikan untuk santri. Alhamdulillah, bantuan dari BI ini juga sangat membantu kebutuhan makan mereka, bisa jadi lauk sehari-hari,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Fadly menuturkan, meski pemasaran sudah berjalan baik, saat ini tantangan lain yang harus di hadapi yaitu keterbatasan produksi. Tingginya permintaan membuat pasokan telur seringkali belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
“Saat ini kami justru masih kekurangan telur. Permintaan sangat banyak, sementara produksi belum mencukupi. Memang kebutuhan telur itu tinggi, karena hampir setiap hari di konsumsi masyarakat,” tandasnya.
Rencana ke depan, ponpes Al-Banjari juga akan berupaya untuk meningkatkan kualitas produk. Inovasi seperti pembenahan kendang pun turut masuk dalam perencanaan.
Hal tersebut dinilai menjadi prioritas karena masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Bukan hanya untuk meningkatkan kenyamanan, langkah ini juga bertujuan menjaga keamanan ayam dari gangguan hewan liar, seperti monyet dan musang yang kerap menjadi kendala.
Selain itu, rencana penambahan kapasitas juga mulai dipertimbangkan. Apabila kondisi memungkinkan pesantren menargetkan pembangunan satu kandang tambahan untuk penambahan jumlah populasi ayam. Namun, rencana ini memerlukan perhitungan matang mengingat biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit.
Harga ayam petelur sendiri cukup bervariasi, umumnya dihitung berdasarkan usia per minggu. Dengan kisaran harga sekitar Rp7.500 hingga Rp8.000 per minggu, satu ekor ayam berusia 15 minggu bisa mencapai lebih dari Rp100.000. Artinya, untuk seribu ekor ayam saja dibutuhkan modal lebih dari Rp100.000.000.
Di samping itu, biaya pakan juga menjadi tantangan tersendiri, dalam kondisi produksi maksimal kebutuhan pakan untuk sekitar 2000 ekor ayam bisa mencapai 5 sak per hari, dengan harga sekitar Rp395.000 per sak. Jika dihitung, biaya pakan harian hampir menyentuh angka Rp2.000.000, atau sekitar Rp14.000.000 per minggu.
“Kalau ayam produktif dan bertelur dengan baik, itu bisa menutup biaya pakan dan disitu kita untung, tetapi kalau tidak bertelur disitu kita yang stress,” katanya seraya tersenyum.
Oleh karena itu, rencana untuk menambah populasi ayam akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan infrastruktur dan kemampuan pembiayaan.
Pihak pesantren juga berupaya memastikan keseimbangan antara peningkatan produksi dan efisiensi biaya operasional, agar budidaya tetap berjalan optimal.












