Indeks

Stadion Batakan Tak Lagi Hanya Soal Sepak Bola, Ada Ekonomi Warga yang Tumbuh di Sekitarnya

SIVANA, BALIKPAPAN – Malam belum terlalu larut ketika kawasan Stadion Batakan, Balikpapan Timur, mulai dipenuhi warga. Lampu-lampu dari lapak pedagang menyala di sepanjang area sekitar stadion. Motor berjejer di sisi jalan. Beberapa warga duduk di tepian ruang terbuka, sementara lainnya menggunakan jogging track.

Tidak ada pertandingan sepak bola malam ini. Namun kawasan stadion tetap ramai.

Aktivitas tersebut menunjukkan perubahan fungsi kawasan Stadion Batakan. Tempat yang selama ini dikenal sebagai arena olahraga kini juga digunakan warga untuk berolahraga, bersantai, berkumpul, hingga membeli makanan dan barang dari pelaku usaha kecil.

Perubahan itu berlangsung secara alami. Ketika warga mulai datang untuk jogging dan menghabiskan waktu, pedagang ikut mencari peluang di sekitar titik keramaian tersebut.

Bagi pelaku UMKM, kehadiran pengunjung berarti pasar baru. Bagi warga, keberadaan pedagang membuat ruang publik tersebut menawarkan lebih banyak pilihan untuk menghabiskan waktu tanpa harus menuju kawasan pusat kota.

Anggota DPRD Kota Balikpapan dari daerah pemilihan Balikpapan Timur, Muhammad Raja Siraj, melihat tingginya kunjungan warga sebagai tanda bahwa masyarakat menerima keberadaan aktivitas baru tersebut.

“Antusias masyarakat atau warga di sana itu cukup baik. Artinya dengan dibukanya UMKM ini, masyarakat di sana itu lebih senang dengan adanya UMKM yang ada di Stadion Batakan itu,” ucap Raja, Rabu, 12 Agustus 2026.

Masalahnya muncul ketika berbagai kegiatan tumbuh di ruang yang sama. Jogging track membutuhkan jalur yang nyaman untuk berlari. Pedagang membutuhkan tempat untuk membuka lapak. Pengunjung membutuhkan ruang untuk duduk. Kendaraan membutuhkan tempat parkir.

Apabila tidak diatur, aktivitas tersebut dapat saling mengambil ruang. Raja karena itu mendorong pemerintah daerah mulai memikirkan penataan kawasan, terutama keberadaan UMKM.

Menurutnya, aktivitas perdagangan tetap perlu diberi ruang, tetapi tidak boleh mengurangi fungsi fasilitas olahraga.

“Sehingga masyarakat di sana yang melakukan jogging, lari, tidak terganggu. Sehingga UMKM tersebut juga tidak terlalu semrawut, supaya enak dilihat saja,” ujarnya.

Dorongan tersebut diarahkan kepada Dinas Perumahan dan Permukiman (DPP) Kota Balikpapan yang membidangi kawasan tersebut. Penataan dibutuhkan bukan karena aktivitas UMKM dianggap mengganggu, melainkan karena jumlah aktivitas warga mulai meningkat.

Kawasan yang semakin ramai juga membawa kebutuhan baru, seperti parkir.

Pada malam hari, kendaraan pengunjung terlihat memenuhi sejumlah area di sekitar kawasan. Jika jumlah pengunjung terus bertambah, kebutuhan ruang parkir akan semakin sulit diabaikan.

Raja mengatakan pihaknya akan berkomunikasi dengan Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) untuk membahas kemungkinan pemanfaatan area sekitar stadion sebagai kantong parkir.

Namun, pembahasan tersebut belum sampai pada keputusan. DPRD masih menunggu perkembangan kawasan sebelum menentukan langkah lebih lanjut.

“Kami bangun komunikasi karena kami tidak mau kesusu, karena kami belum tahu progres bagaimana untuk ke depannya di wilayah tersebut,” tutur Raja.

Perubahan Stadion Batakan sebenarnya tidak hanya terlihat dari keberadaan pedagang.

Jogging track membuat kawasan tersebut dapat digunakan warga di luar jadwal pertandingan. Keluarga datang bersama anak-anak. Anak muda berkumpul. Warga berolahraga. Pedagang mencari pembeli.

Dalam satu tempat, fungsi olahraga, rekreasi, dan ekonomi bertemu. Perubahan seperti ini membuat pengelolaan ruang publik menjadi penting.

Ketika sebuah fasilitas mulai digunakan lebih banyak orang dengan kepentingan berbeda, kebutuhan terhadap fasilitas pendukung ikut meningkat.

Raja menyebut pembenahan nantinya tidak cukup berhenti pada UMKM. Fasilitas umum dan fasilitas sosial juga perlu disiapkan, termasuk tempat sampah, toilet, dan kebutuhan dasar lainnya.

“Kami sudah akan rumuskan bersama DPPR, bukan saja UMKM, tetapi fasum-fasos atau fasilitas umum, fasilitas sosial, itu harus disediakan,” sebutnya.

Kebersihan menjadi salah satu hal yang ikut mendapat perhatian. Aktivitas pedagang dan pengunjung tentu menghasilkan sampah lebih banyak dibanding ketika kawasan hanya digunakan untuk kegiatan olahraga.

Sebab itu, Raja juga meminta warga ikut menjaga fasilitas yang telah tersedia. Baginya, ruang publik hanya akan nyaman jika pemerintah dan masyarakat sama-sama menjaga penggunaannya.

Stadion Batakan kini memperlihatkan fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat pertandingan. Keramaian di sekitarnya menunjukkan adanya kebutuhan warga terhadap ruang terbuka yang bisa digunakan untuk berbagai aktivitas.

Bagi Balikpapan Timur, perkembangan tersebut juga memiliki arti ekonomi. Pedagang mendapat lokasi untuk menawarkan dagangan. Warga memperoleh tempat berkumpul. Aktivitas olahraga tetap berjalan.

Tetapi perkembangan itu membutuhkan pengelolaan agar satu fungsi tidak mengorbankan fungsi lainnya.

Jogging track tidak boleh berubah menjadi area dagang. Lapak UMKM tidak seharusnya menguasai seluruh ruang publik. Kemudian kendaraan pengunjung juga membutuhkan tempat yang jelas.

Maka dari itu, tekan Raja, pembenahan kawasan Stadion Batakan menjadi pekerjaan berikutnya ketika ruang publik tersebut semakin ramai.

Ia pun berharap proses tersebut dapat dilakukan secara bertahap, termasuk penataan UMKM dan fasilitas pendukung.

“Khususnya dapil kami Balikpapan Timur, kita minta doanya untuk segera kita benahi lagi, terutama masalah UMKM-nya yang ada di sana, kemudian fasilitas-fasilitas umumnya segera kita bangun, sehingga untuk menyamankan keadaan di semua masyarakat yang ada di sana,” urainya.

Stadion Batakan akhirnya memiliki cerita yang lebih panjang dari 90 menit pertandingan. Di luar lapangan, ada warga yang berolahraga, keluarga yang mencari tempat berkumpul, dan pedagang yang menggantungkan penghasilan dari keramaian.

Walhasil ruang tersebut sudah tumbuh. Namun di sisi kain, tantangannya adalah memastikan pertumbuhannya tetap tertata.

Exit mobile version