SIVANA, BALIKPAPAN – Ada masa ketika setiap orang yang datang ke Balikpapan pertama kali melewati satu tempat, yaitu terminal lama Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Dari ruangan itulah arus kedatangan ke kota minyak ini bermula pada pekerja migas, pedagang, hingga para perantau.
Seiring waktu, peran itu berpindah. Bandara membangun terminal baru yang lebih luas dan modern. Aktivitas penumpang pun bergeser. Bangunan lama perlahan kehilangan fungsinya.
Saat ini kawasan tersebut mulai digunakan kembali. Pemerintah memanfaatkan area terminal lama sebagai titik penjemputan dan pengantaran transportasi publik. Lokasi itu pun menjadi salah satu simpul pergerakan penumpang yang terhubung dengan layanan transportasi di dalam kota.
Anggota Komisi III DPRD Balikpapan Wahyullah Bandung menilai langkah itu menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem transportasi perkotaan yang sedang berkembang.
Saat ini layanan Bus Balikpapan City Trans (Bacitra) menjadi salah satu moda transportasi publik yang dioperasikan di kota tersebut. Jumlah armada yang tersedia sekitar 24 unit dan melayani sejumlah jalur perjalanan masyarakat.
Menurutnya, pengembangan transportasi publik masih akan terus dilakukan dalam beberapa tahun ke depan.
Salah satu yang menjadi harapan adalah perubahan armada Bacitra menjadi kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
“Ke depan kita berharap bus Bacitra dapat bertransformasi menjadi bus listrik sehingga tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil,” ujar Wahyullah.
Selain bus, pemerintah juga membuka kemungkinan pengembangan moda transportasi massal lainnya di masa mendatang. Salah satu opsi yang pernah dibahas adalah sistem kereta untuk mendukung mobilitas warga.
Di tengah rencana pengembangan transportasi tersebut, kawasan terminal lama Sepinggan dinilai memiliki potensi yang lebih luas.
Wahyullah menyebut area tersebut tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk kegiatan transportasi, tetapi juga untuk aktivitas masyarakat.
Lebih dari itu, Wahyullah mengingingkan agar kawasan itu menjadi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta tempat kegiatan publik.
Di sisi lain, kawasan tersebut juga memiliki nilai historis bagi perjalanan kota. Terminal lama Sepinggan pernah menjadi titik pertemuan orang-orang dari berbagai daerah yang datang ke Balikpapan. Tempat itu menjadi bagian dari mobilitas yang membentuk perkembangan kota selama puluhan tahun.
“Terminal lama bandara ini menarik karena kembali dimanfaatkan. Harapannya tidak hanya untuk transportasi, tetapi juga dapat menjadi ruang kegiatan masyarakat,” tuturnya.
Ia juga melihat kemungkinan kawasan tersebut dikembangkan sebagai museum kota yang memuat cerita tentang perkembangan Balikpapan dari masa ke masa.
Museum tersebut dapat menampilkan perjalanan kota, mulai dari periode awal ketika Balikpapan berkembang sebagai kota pelabuhan kecil hingga menjadi pusat aktivitas ekonomi di Kalimantan.
“Selain untuk aktivitas UMKM, kawasan itu juga bisa dikembangkan menjadi museum kota yang menceritakan sejarah Balikpapan,” harapnya.
Kemudian, lanjutnya, pemanfaatan kembali area terminal lama akan memberikan manfaat bagi kota, terutama dalam meningkatkan layanan transportasi publik.
Langkah tersebut juga dinilai dapat mendukung integrasi mobilitas dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di masa depan.
“Balikpapan akan diuntungkan karena kualitas layanan Bacitra ke depan bisa semakin baik. Selain itu ada potensi integrasi antarmoda dengan kawasan IKN,” pungkasnya.
Pemanfaatan kembali terminal lama Sepinggan menjadi upaya agar ruang kota yang pernah memiliki peran penting tidak dibiarkan kosong.
Tempat itu menyimpan bagian dari perjalanan Balikpapan, dimana sebuah kota yang tumbuh dari pertemuan orang-orang yang datang dan pergi melalui jalur mobilitasnya.
Kini ruang tersebut kembali dihidupkan dengan fungsi baru. Yakni mendukung transportasi, membuka peluang ekonomi, sekaligus menyimpan cerita perjalanan kota.












