SIVANA, BALIKPAPAN – Ada satu kebiasaan yang ternyata sulit ditinggalkan Udi meski motornya sudah berubah.
Suatu hari, ia membawa Vespa miliknya ke SPBU. Bukan untuk mengisi bensin. Sesampainya di sana, barulah ia teringat bahwa motor yang dikendarainya sudah tidak membutuhkan bahan bakar minyak.
“Pertama kali kelupaan, kok lari ke SPBU. Sampai di SPBU bingung mau ngapain aku,” kata Udi sambil mengenang kejadian tersebut.
Vespa itu memang masih terlihat seperti Vespa tua. Bodi berwarna abu-abu, bentuk klasik, dan tampilannya nyaris tidak memberi petunjuk bahwa ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.
Namun mesin bensinnya sudah tidak ada.
Motor keluaran 1970-an tersebut kini bergerak menggunakan tenaga listrik.
Perubahan itu dilakukan bukan karena Udi bosan dengan Vespa lamanya. Justru karena ia belum ingin meninggalkannya.
Udi sudah mengenal Vespa sejak SMA. Tahun persis ketika pertama kali memilikinya sudah tidak ia ingat. Yang masih melekat adalah kebiasaannya menggunakan kendaraan tersebut dan berbagai kerepotan yang menyertainya.
Salah satunya ketika Vespa diparkir dalam posisi miring.
“Dulu itu kalau diparkir miring, susah sudah dihidupin. Banjir dia. Kalau sekarang, mau dipakai parkir terbalik enggak apa-apa sudah,” kenangnya.
Persoalan lain datang dari sesuatu yang semakin sulit ditemukan, yakni suku cadang.
“Terutama yang sudah sparepart-nya susah,” ujar Udi.
Daripada membiarkan Vespa tua itu berhenti digunakan, Udi memilih mempertahankan bodinya dan mengubah sumber tenaganya.
Ia bahkan sudah memiliki dua Vespa yang dikonversi menjadi listrik.
Ada pula satu hal kecil yang ikut berubah setelah mesin diganti.
Sepatu Udi tidak lagi harus berhadapan dengan pedal engkol yang dulu membuat bagian sebelahnya cepat terkikis.
Saat ini, urusan berkendara terasa lebih sederhana.
“Lebih irit. Yang jelas enggak ngantri lagi di SPBU,” ucapnya saat berbincang dengan Sivanamedia.
Namun, Udi tidak mengerjakan perubahan tersebut seorang diri.
Di balik Vespa yang kini lebih senyap itu ada Rezar Fauzan, anaknya.

Rezar lahir pada 1998. Ketertarikannya pada otomotif sudah muncul sejak kecil dan mulai ia salurkan melalui modifikasi ketika duduk di SMK.
Bagi Rezar, mengutak-atik kendaraan bukan sekadar perkara membuat tampilannya berbeda.
“Modifikasi adalah kegiatan yang menyenangkan untuk saya,” sebutnya.
Ketika kuliah di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), kegemaran tersebut bertemu dengan bidang yang lebih spesifik, seperti kendaraan listrik.
Rezar bergabung dengan Student Automotive Association dan Enggang Electric Vehicle Team.
Dari aktivitas organisasi dan perlombaan kendaraan listrik, ia pertama kali mengenal proses konversi kendaraan berbahan bakar konvensional menjadi listrik.
“Pertama kali mengonversi kendaraan listrik sejak kuliah saat ikut organisasi kendaraan listrik untuk perlombaan,” jelasnya.
Pengalaman itu kemudian ia bawa pulang.
Ketika tertarik pada Vespa classic, Rezar kemudian mencoba mengonversi kendaraan tersebut dengan tetap mempertahankan bodi dan tampilan aslinya.
Mesin bensinnya diganti dengan sistem penggerak listrik, sementara baterai dan dinamo ditempatkan menyesuaikan ruang Vespa yang terbatas.
Bukan pekerjaan yang bisa dilakukan dengan sekadar memasang komponen lalu selesai.
“Bagian paling sulit untuk penempatan battery dan dinamo yang cocok untuk ukuran Vespa yang terbatas,” tutur Rezar.
Bekal dari ITK membantunya memahami sisi teknis.
Selebihnya, ia banyak belajar dengan cara yang cukup akrab bagi orang yang gemar mengutak-atik sesuatu, yaitu mencoba sendiri.
Spesifikasinya disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran.
Vespa tersebut menggunakan dinamo sekitar 3 kW, sementara kapasitas baterainya menyesuaikan jarak tempuh yang diinginkan.
Vespa itu tetap digunakan sebagai kendaraan pribadi.
Bagi Rezar, proses konversi tersebut merupakan bagian dari hobinya di dunia otomotif dan kendaraan listrik.
Dan ternyata, dunia otomotif bukan satu-satunya dunia yang ia coba tekuni.
Rezar juga menjalankan usaha di bidang food and beverage melalui Luke Cafe di Jalan Manuntung 1 Blok B Nomor 33, Sepinggan Baru, Balikpapan Selatan.
Di sana, ketertarikannya pada usaha kuliner berjalan berdampingan dengan kegemarannya terhadap otomotif.
“Saya tertarik juga dengan dunia FnB. Dan mencoba untuk menyatukan konsep hobi saya dalam satu wadah,” urai Rezar.
Jadi, Vespa listrik milik Udi bukan barang dagangan Rezar.
Melainkan sebagai kendaraan milik keluarga yang sekaligus menjadi tempat Rezar menerapkan apa yang ia pelajari dan sukai sejak lama.
Cerita Vespa itu kemudian mendapat penonton baru.
Sabtu malam, 29 Agustus 2026, Jack sedang berkumpul di kawasan Sepinggan Pratama.
Matanya tertuju pada Vespa milik Udi. Awalnya cuma melihat-lihat, kemudian penasaran.
Jack, perantau asal Makassar yang kini menetap dan bekerja sebagai pengacara di Balikpapan, akhirnya mendapat kesempatan untuk menjajalnya.
Kesan pertama justru cukup sederhana. Yang ia rasakan seperti mengendarai motor matik.
Padahal, Vespa tua biasanya punya ritual berkendara sendiri. Ada transmisi manual, tuas gigi di tangan kiri, tarikan kopling, dan tentu saja suara mesin yang menjadi bagian dari identitasnya.
Semua itu tidak ditemukan Jack pada Vespa Udi, lantaran mesin yang sudah berganti listrik.
“Meski menggunakan listrik, rasa menggunakan Vespa masih dapat,” ungkap Jack.
Bodi dan tampilannya tetap membuat kendaraan tersebut mudah dikenali sebagai Vespa tua. Perubahannya lebih banyak tersembunyi di balik tampilan klasik itu.
Soal kecepatan, Jack juga tidak merasa sedang membawa kendaraan yang sekadar dibuat untuk pajangan.
Ia menilai performanya cukup untuk kebutuhan harian.
“Kalau untuk dipakai harian juga sangat memungkinkan,” tandasnya.
Yang menarik, rasa penasaran setelah menjajal Vespa tersebut membuat Jack tertarik mencari kendaraan serupa.
Ia pun mulai mencari Vespa tua di marketplace yang dapat dikonversi menjadi motor listrik untuk digunakan sehari-hari.
Salsa












