SIVANA, BALIKPAPAN – Ukuran keberhasilan pameran UMKM biasanya berhenti pada jumlah stan dan pengunjung.
Bank Indonesia (BI) Balikpapan mencoba menambah ukuran lain, yakni dengan berapa banyak transaksi yang tercipta dan seberapa jauh pelaku usaha masuk ke ekosistem digital.
Ukuran tersebut akan diuji melalui Fentura Pop 2026 yang terintegrasi dengan Mahligai Nusantara 2026 di Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome pada 10-13 September 2026.
Sebanyak 36 tenant kuliner UMKM disiapkan dalam Fentura Pop dengan target lebih dari 20 ribu transaksi QRIS. Transaksi akan diarahkan menggunakan pembayaran nontunai, termasuk QRIS Tap.
Kepala KPwBI Balikpapan Robi Ariadi mengatakan integrasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem UMKM, bukan sekadar menghadirkan ruang jual-beli.
“Sinergi dan kolaborasi ini diharapkan semakin memperkuat ekosistem UMKM, baik dari sisi kapasitas usaha, kualitas produk, maupun perluasan akses pasar,” ucap Robi dalam keterangannya kepada media, Senin (31/8/2026).
Target 20 ribu transaksi menjadi salah satu indikator yang menarik karena membawa kegiatan UMKM keluar dari ukuran konvensional berupa banyaknya produk yang dipamerkan.
Secara hitungan rata-rata, angka tersebut setara lebih dari 555 transaksi untuk setiap tenant selama empat hari, atau sekitar 139 transaksi per tenant per hari.
Angka itu merupakan hitungan rata-rata, bukan target transaksi masing-masing tenant.
Di sisi lain, BI juga menyiapkan Mahligai Nusantara 2026 pada 11-13 September. Pameran ini melibatkan 46 UMKM makanan dan minuman olahan, selain pelaku usaha wastra, ready-to-wear, kriya, aksesori dan kerajinan yang telah melalui proses kurasi.
“Ada 46 UMKM makanan dan minuman olahan akan meramaikan area pameran. Puluhan UMKM lainnya juga akan membawa produk fesyen dan kerajinan yang telah melalui proses kurasi,” sebut Robi.
Digitalisasi pun menjadi salah satu pintu masuk, tetapi BI tidak menempatkannya sebagai satu-satunya persoalan UMKM.
Rangkaian kegiatan Mahligai Nusantara justru menyasar persoalan operasional yang kerap menentukan kemampuan usaha bertahan dan berkembang.
Ada Akademi SIAPIK pada 4 September yang berfokus pada pencatatan dan pengelolaan keuangan UMKM.
Kemudian pada 7 September digelar workshop mengenai shelf life untuk produk makanan dan minuman olahan.
Sebelumnya, BI juga menggelar Akademi Muda Nusantara pada 31 Agustus-1 September yang mempertemukan 20 pelajar SMA/SMK dengan 21 UMKM. Materinya mencakup arah desain, moodboard, visual storytelling, DNA brand hingga coaching.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa persoalan UMKM yang ingin diperluas pasarnya bukan hanya bagaimana menjual produk, namun juga bagaimana produk itu dikemas, dicatat secara keuangan, memiliki identitas dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang lebih luas.
Robi menyebut Mahligai Nusantara tahun ini memasuki tahun keempat sejak pertama kali digelar pada 2023.
“Tahun ini kita punya tagar dari Bahasa Paser, yaitu #BerayakBetampaSetaketMendenia yang bermakna ‘Bersama Berkarya, UMKM Mendunia’,” ungkap Robi.
Agenda ekonomi dalam Mahligai Nusantara juga diperluas ke sisi konsumsi masyarakat melalui Gerakan Pangan Murah (GPM).
GPM diintegrasikan sebagai bagian dari upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan pangan.
BI menyebut langkah tersebut sekaligus menjadi mitigasi terhadap risiko El Nino yang dapat memengaruhi daerah sentra pasokan pangan, khususnya Jawa dan Sulawesi.
Artinya, satu rangkaian kegiatan ini tidak hanya mempertemukan UMKM dengan konsumen.
Ada tiga lapis agenda yang berjalan bersamaan. Mulai dari mendorong transaksi dan digitalisasi UMKM, memperbaiki kapasitas usaha, serta menjaga akses masyarakat terhadap pangan.
Sebelum acara utama, BI juga menjalankan Workshop Tani Camp di Paser, Penajam Paser Utara (PPU), dan Balikpapan.
Kegiatan tersebut diarahkan pada penerapan Good Agricultural Practices serta melibatkan kelompok tani dan ternak, PKK, dan pelajar.
Dengan begitu, Mahligai Nusantara 2026 tidak hanya ditempatkan sebagai agenda pameran tahunan.
BI mencoba menghubungkan produksi, kapasitas usaha, transaksi digital, pasar dan konsumsi dalam satu rangkaian kegiatan.
Salsa
