SIVANA, BALIKPAPAN – Telur ayam punya peran kecil di meja makan, akan tetapi cukup besar dalam urusan pasokan pangan daerah. Di Kalimantan Timur, kebutuhan telur masih mengandalkan pasokan dari luar daerah. Bank Indonesia Balikpapan kini mendorong produksi lokal, salah satunya melalui kandang ayam petelur di pesantren.
Data BPS Kota Balikpapan mencatat inflasi Juli 2026 sebesar 0,25 persen secara bulanan, 3,06 persen secara tahunan, dan 2,50 persen sepanjang Januari-Juli. Dalam konteks tersebut, BI menempatkan penguatan produksi pangan lokal sebagai salah satu bagian dari pengendalian inflasi daerah.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan kemudian mendorong peningkatan produksi lokal melalui usaha ayam petelur. Salah satu titik yang dilibatkan adalah pondok pesantren.
KPwBI Balikpapan bersama Baznas Provinsi Kaltim dan pemerintah daerah menggelar Workshop Pengelolaan Usaha Budidaya Ayam Petelur pada 3-8 Agustus 2026. Pesertanya berasal dari pondok pesantren dan kelompok usaha di Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan telur ayam merupakan salah satu komoditas yang memengaruhi perkembangan inflasi di tiga wilayah tersebut.
“Telur ayam merupakan salah satu komoditas yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan inflasi di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Kabupaten Paser. Karena itu, peningkatan kapasitas produksi lokal menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah,” urainya dalam keterangan yang diterima oleh media ini, Kamis (6/8/2026).
Ia menyampaikan, penguatan produksi pangan merupakan bagian dari upaya BI mendukung pengendalian inflasi melalui sektor riil.
“Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah,” terangnya.
Melalui workshop tersebut, peserta tidak hanya mendapat materi teknis pemeliharaan ayam. Mereka juga mempelajari prospek bisnis, rantai pasok, peluang pasar, manajemen produksi, kesehatan ternak hingga penyusunan business plan.
“Kami berharap peserta tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam mengelola usaha budidaya ayam petelur, tetapi juga mampu mengembangkan model bisnis yang profitable, profesional, dan berkelanjutan,” tutur Robi.
Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian ekonomi pesantren.
Wakil Ketua III Baznas Provinsi Kaltim, Badrus Syamsi, mengatakan kolaborasi dengan BI Balikpapan merupakan bagian dari pengembangan usaha produktif di lingkungan pesantren.
“Kolaborasi antara Baznas Provinsi Kalimantan Timur dan Bank Indonesia Balikpapan ini merupakan bagian dari upaya mendorong pemberdayaan dan kemandirian ekonomi pesantren melalui pengembangan usaha produktif,” sebut Badrus.
Salah satu pesantren yang telah menjalankan usaha ayam petelur adalah Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Pesantren tersebut menjadi mitra binaan BI Balikpapan dan Baznas Kaltim. Pada 2025, pesantren mendapat fasilitasi sarana dan prasarana budidaya ayam petelur.
Produksi telurnya telah dipasarkan ke sejumlah restoran dan kafe di Balikpapan. Model tersebut kemudian dijadikan lokasi praktik bagi peserta workshop.
Workshop dimulai pada 3 Agustus dengan pembelajaran klasikal di Kantor Perwakilan BI Balikpapan. Peserta mempelajari fondasi bisnis ayam petelur, prospek industri, rantai pasok dan peluang pasar yang disampaikan PT Ekosistem Ternak Borneo.
Materi berlanjut pada pengenalan bibit, jenis strain, siklus produksi dan manajemen kandang. Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Balikpapan memberikan materi mengenai faktor kunci keberhasilan budidaya ayam petelur.
Mulai 4-8 Agustus, peserta mengikuti praktik langsung di Pondok Pesantren Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari melalui program mondok.
Adapun materinya mencakup sanitasi dan ventilasi kandang, manajemen produksi telur, pengumpulan dan sortasi, formulasi pakan dan nutrisi, vitamin, pengendalian penyakit, vaksinasi hingga mitigasi penyakit.
“Peserta tidak hanya belajar bagaimana memelihara ayam, tetapi juga memahami bagaimana menjaga produktivitas, kualitas telur, efisiensi pakan, sampai bagaimana produk tersebut bisa terserap pasar,” ungkap perwakilan PT Ekosistem Ternak Borneo.
Peserta juga dijadwalkan melakukan site visit ke salah satu usaha ayam petelur di Balikpapan untuk melihat pengelolaan usaha secara langsung.
“Pengolahan ayam petelur harus dilakukan secara konsisten karena keberhasilan usaha sangat bergantung pada manajemen kandang, kesehatan ternak, pakan, dan kemampuan menjaga produksi tetap stabil,” tandas perwakilan Dinas Pangan, Pertanian, dan Perikanan Kota Balikpapan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyusunan dan presentasi business plan masing-masing peserta. Kemudian, pendampingan lanjutan akan dilakukan pemerintah daerah melalui OPD teknis sesuai kebutuhan wilayah.
Program ini pun diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi telur lokal, memperkuat kemandirian ekonomi pesantren dan kelompok usaha, serta mengurangi ketergantungan pasokan telur dari luar daerah.
