Indeks

Balikpapan Deflasi 0,03 Persen, Tapi Cabai hingga Ikan Layang Masih Naik

Harga cabai rawit masih mengalami kenaikan di Balikpapan pada Agustus 2026. (Sivanamedia)

SIVANA, BALIKPAPAN – Kota Balikpapan mencatat deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (mtm) pada Agustus 2026. Namun, penurunan indeks harga konsumen (IHK) tersebut tidak terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.

Di tengah deflasi, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mengalami inflasi 0,18 persen. Sejumlah komoditas pangan seperti cabai rawit, ikan layang, kacang panjang, jagung manis, dan ketimun masih mengalami kenaikan harga.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan deflasi Agustus terutama ditopang oleh kelompok transportasi yang memberikan andil deflasi sebesar 0,26 persen.

Penurunan harga transportasi antara lain berkaitan dengan turunnya harga bahan bakar pesawat atau avtur di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan.

Harga avtur turun dari Rp22.104 menjadi Rp21.825 per liter mulai 1 Agustus 2026. Harga Pertamax RON 92 juga turun dari Rp16.650 menjadi Rp16.300 per liter pada periode yang sama.

“Selain transportasi, sejumlah bahan pangan seperti bawang merah, tomat dan kangkung juga mengalami penurunan harga. Kondisi ini tidak lepas dari meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi serta membaiknya produksi petani,” urai Robi.

Meski sejumlah komoditas mengalami penurunan, tekanan harga pangan masih terlihat pada komoditas lainnya.

Harga ikan layang meningkat seiring terbatasnya hasil tangkapan.

Kondisi tersebut berkaitan dengan berakhirnya periode ikan pelagis kecil pada kuartal III serta gelombang tinggi yang memengaruhi aktivitas nelayan.

Sementara itu, kenaikan cabai rawit, jagung manis, dan ketimun dipengaruhi berkurangnya pasokan dari Jawa dan Sulawesi pada musim kemarau, ketika permintaan masih cukup tinggi.

Harga kacang panjang juga meningkat akibat kondisi cuaca kering di wilayah produksi lokal.

Di sisi lain, bawang merah, tomat dan kangkung mengalami penurunan harga karena pasokan yang meningkat. Kondisi ini membuat pergerakan harga pangan di Balikpapan tidak sepenuhnya searah dalam satu bulan.

Pergerakan harga berbeda terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Pada Agustus 2026, PPU mencatat inflasi 0,52 persen (mtm).

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu sumber tekanan terbesar dengan andil inflasi 0,41 persen.

Komoditas yang mengalami kenaikan antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, kacang hijau, serta biaya pemeliharaan dan perbaikan kendaraan.

Kenaikan harga daging ayam ras berkaitan dengan terbatasnya pasokan ayam beku dari Jawa dan pasokan ayam segar dari peternak lokal.

Sementara harga ikan tongkol terdorong terbatasnya hasil tangkapan nelayan akibat gelombang tinggi.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan pada Agustus 2026 tercatat 3,79 persen (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19 persen.

PPU mencatat inflasi tahunan 3,68 persen.
Sementara secara kumulatif Januari hingga Agustus 2026, inflasi Balikpapan mencapai 2,47 persen, sedangkan PPU sebesar 3,53 persen.

Robi mengatakan pengendalian inflasi tetap diarahkan pada kelancaran pasokan dan distribusi komoditas pangan strategis.

“Sejumlah langkah strategis dalam pengendalian inflasi daerah terus ditempuh oleh TPID di kedua wilayah untuk mendukung kelancaran pasokan dan distribusi, serta terjaganya ketersediaan stok komoditas pangan strategis,” imbuhnya.

Bank Indonesia dan TPID masih melihat risiko tekanan harga pangan pada periode berikutnya, terutama karena Agustus berada dalam periode musim kemarau.

Risiko tersebut semakin diperhatikan karena potensi El Niño dapat memengaruhi produksi dan pasokan dari daerah sentra pangan di Jawa dan Sulawesi yang menjadi sumber pasokan sejumlah komoditas Balikpapan.

Untuk menjaga pasokan, TPID Balikpapan hingga Agustus 2026 telah menggelar 87 Gerakan Pangan Murah (GPM), termasuk tujuh kegiatan sepanjang Agustus.

Di PPU, terdapat 27 kegiatan GPM, pasar murah, dan operasi pasar, dengan empat kegiatan digelar pada Agustus.

Kerja sama antardaerah juga terus dilakukan, termasuk dengan daerah sentra produksi seperti Karo dan Bulukumba, untuk memperkuat pasokan komoditas hortikultura strategis.

Dengan demikian, deflasi 0,03 persen di Balikpapan pada Agustus tidak sepenuhnya menggambarkan turunnya harga kebutuhan masyarakat.

Penurunan pada transportasi menjadi faktor utama yang menahan indeks, sementara sejumlah komoditas pangan masih memberikan tekanan terhadap harga.

Salsa

Exit mobile version