SIVANA, BALIKPAPAN – Sapardi berdiri di atas jembatan kecil bercat hijau. Tangan kanannya terulur menunjuk ke arah sungai yang mengalir di belakang rumah-rumah warga Gang Mufakat II, RT 5, Kelurahan Damai Bahagia, Balikpapan.
Sore itu, tidak ada hujan. Permukaan air terlihat tenang. Namun, bagi Sapardi, sungai tersebut menyimpan cerita yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dari tepian sungai itu, Ketua RT 5 tersebut mengingat kembali banjir yang pernah merendam permukiman.
Ia bercerita tentang air yang naik bersamaan dengan hujan deras dan pasang, warga yang terjaga semalaman, hingga perabot rumah tangga yang harus diselamatkan ke tempat lebih tinggi.
“Kalau hujan besar, kemudian air pasang, warga mulai waswas,” ujar Sapardi ketika ditemui pada Senin, 14 September 2026.
Pria berusia 63 tahun itu mengenakan kaus berwarna hijau tua. Rambutnya telah memutih. Sesekali ia mengarahkan pandangan ke aliran sungai, lalu kembali menjelaskan bagaimana warga membaca tanda-tanda air sebelum banjir datang.
Sapardi telah tinggal di kawasan tersebut sejak 2014. Pada akhir 2025, ia dipercaya menjadi Ketua RT 5 untuk masa jabatan hingga 2030. Selain mengurus lingkungan, ia juga menjadi marbot musala yang berada tidak jauh dari permukiman.
Di lingkungan itu, sungai bukan hanya bagian dari pemandangan sehari-hari. Sungai menjadi penanda yang diamati warga, terutama ketika hujan turun dalam waktu lama.
Sapardi masih mengingat banjir yang terjadi sebelum ia menetap di Gang Mufakat. Salah satunya pada Juni 2012. Saat itu, air disebut naik cukup tinggi hingga memasuki musala di lingkungan permukiman.
Bangunan musala berada di lokasi yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah rumah warga. Karena itu, tempat tersebut kerap menjadi titik berkumpul ketika air mulai meluas.
Dalam banjir besar, ketinggian air di dalam musala dapat mencapai sekitar lutut. Di beberapa rumah, air bahkan naik hingga pinggang orang dewasa.
Bagi warga, banjir bukan hanya persoalan genangan di jalan. Air yang masuk ke rumah membuat aktivitas sehari-hari terhenti. Barang-barang harus dipindahkan, sementara warga menunggu sampai permukaan air kembali turun.
“Kalau air sudah naik, orang tidak bisa tidur. Yang kerja di luar biasanya pulang untuk lihat rumah,” tutur Sapardi.
Warga saling memberi kabar mengenai ketinggian air. Mereka memantau sungai melalui pengamatan langsung, informasi dari telepon seluler, hingga aplikasi dan kamera pemantau.
Di sekitar sungai, terdapat tanda sederhana yang digunakan untuk membaca perubahan permukaan air. Salah satunya berupa pipa putih yang melintang di dekat aliran. Ketika air mulai naik melewati tanda tertentu, warga segera mengingatkan tetangga.
Kewaspadaan itu tumbuh dari pengalaman. Mereka tahu, banjir tidak selalu datang dengan pola yang sama.
Ada genangan yang surut dalam hitungan jam. Namun, Sapardi mengingat satu kejadian pada 2024 ketika air bertahan sejak subuh hingga malam.
“Lebih dari 12 jam,” katanya.

Sapardi menilai banjir di kawasan tersebut tidak bisa dilepaskan dari aliran air dari bagian hulu. Ia melihat pembangunan permukiman yang terus meluas ikut mengubah perjalanan air menuju sungai.
Lahan yang dahulu menjadi ruang terbuka dan area resapan berubah menjadi bangunan. Air hujan yang sebelumnya lebih banyak tertahan di daratan kini mengalir menuju saluran dan sungai.
Sapardi menyebut aliran dari kawasan Kilo, Kampung Timur, dan Sungai Ampal bergerak menuju wilayah yang lebih rendah. Ketika hujan deras terjadi di beberapa kawasan dalam waktu bersamaan, debit air yang masuk meningkat.
Sementara itu, lebar sungai tidak banyak berubah.
Ia mengibaratkan aliran air seperti arus kendaraan di jalan. Ketika jumlah kendaraan bertambah, tetapi kapasitas jalan tetap, kemacetan akan terjadi.
“Kalau rumah semakin banyak, air yang masuk juga semakin banyak, tetapi sungainya tetap begitu. Akhirnya seperti macet, air meluber ke daratan,” jelasnya.
Dari jembatan, Sapardi menunjuk sisi sungai yang berbatasan langsung dengan rumah warga. Sejumlah bangunan berdiri dekat dengan tepian air. Di permukaan sungai, sampah terlihat mengapung di antara pantulan rumah dan pepohonan.
Ia mengatakan warga harus menghadapi dua persoalan sekaligus ketika banjir terjadi. Air masuk ke rumah, sementara sampah dan lumpur tertinggal setelah genangan surut.
Rumah Pompa dan Air yang Tertahan
Pengalaman banjir pada 2024 membuat Sapardi memperhatikan kondisi rumah pompa di sekitar aliran sungai. Ia mengingat adanya perbedaan ketinggian air antara sisi hulu dan hilir.
Menurut pengamatannya, selisih permukaan air ketika itu mencapai sekitar satu meter. Air dari hulu terus masuk, tetapi tidak bergerak secepat yang diharapkan menuju hilir.
“Seperti tertahan,” ucap Sapardi.
Ia menduga kapasitas pompa saat itu belum mampu mengimbangi debit air yang datang. Setelah kejadian tersebut, Sapardi melihat adanya tambahan bukaan atau jalur aliran dengan lebar sekitar enam meter.
Kemudian, Sapardi mengungkapkan, genangan setelah perubahan itu lebih cepat surut dibandingkan sebelumnya.
Namun, ia menyadari persoalan banjir tidak hanya berkaitan dengan pompa. Kondisi sungai, saluran penghubung, kawasan hulu, dan daerah resapan ikut menentukan seberapa cepat air bergerak menuju laut.
Ia juga pernah mendengar rencana pelebaran sungai dari kawasan jembatan menuju hilir. Sapardi menyebut sejumlah pemilik lahan telah didatangi untuk pendataan dan diminta menyiapkan dokumen bidang tanah.
Belum ada kepastian yang ia ketahui mengenai waktu pelaksanaan maupun besaran ganti rugi. Informasi tersebut masih berdasarkan keterangan yang diterimanya dari lingkungan sekitar.
Penjelasan DPU pada Agustus 2024
Dalam pemberitaan media pada 12 Agustus 2024, Dinas Pekerjaan Umum Balikpapan pernah menjelaskan persoalan saluran dan rumah pompa di kawasan Sungai Ampal.
Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPU Balikpapan saat itu, Jen Supriyanto, menyebut rumah pompa di dekat Hotel Zurich berada di bagian hilir Sungai Ampal. Pompa tersebut digunakan untuk membantu mengurangi genangan.
Namun, ketika hujan pada Jumat, 9 Agustus 2024, pompa tidak dapat bekerja secara optimal karena banyak material terbawa arus. Benda yang disebut menghambat aliran antara lain botol, sofa, kasur, hingga tandon air.
DPU juga menjelaskan genangan di Jalan MT Haryono berkaitan dengan kapasitas saluran BJBJ yang tidak cukup menampung air. Saluran dari kawasan Beller menuju Jalan Penegak dinilai membutuhkan pelebaran.
Saat itu, kebutuhan anggaran pelebaran diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun. Sekitar Rp600 miliar dialokasikan untuk pembebasan lahan dan Rp400 miliar untuk pembangunan saluran.
Sebagai langkah jangka pendek, DPU menyatakan akan memaksimalkan Rumah Pompa Saluran Primer Ampal untuk menarik air dari daerah aliran Sungai Ampal dan mempercepat alirannya menuju laut.
Dalam laporan yang sama, DPU menyatakan terdapat 81 titik banjir dalam RPJMD 2021-2026. Sebanyak 21 titik telah diselesaikan, sedangkan 60 titik lainnya masih dalam penanganan. Pada 2024, sebanyak 13 titik disebut telah ditangani, tetapi lima titik banjir baru muncul.

Banjir yang Menyisakan Kerja Panjang
Setelah air surut, pekerjaan warga belum selesai. Lumpur dan sampah harus dibersihkan dari halaman, jalan, serta bagian bawah rumah.
Kasur, kursi, perabot, dan alat elektronik dikeluarkan untuk dijemur. Sebagian barang masih dapat digunakan, tetapi sebagian lainnya rusak karena terlalu lama terendam.
Sapardi mengatakan biaya membersihkan sisa banjir juga tidak sedikit. Warga terkadang harus mengeluarkan uang sendiri untuk mengangkut sampah dan material yang tertinggal.
“Kadang untuk membersihkan sampah saja bisa sampai Rp400 ribu,” ungkapnya.
Kerugian terbesar, menurutnya, berasal dari barang-barang rumah tangga yang rusak. Lemari, kasur, peralatan elektronik, hingga perlengkapan dapur bisa terdampak ketika air mencapai bagian dalam rumah.
Pada salah satu kejadian banjir 2024, seorang warga RT 5 yang sedang sakit juga harus dievakuasi. Tim pemerintah datang menggunakan perahu untuk memantau kondisi warga dan membantu memindahkan mereka yang membutuhkan pertolongan ke tempat lebih aman.
Bantuan makanan terkadang dibagikan ketika banjir besar. Sapardi mengatakan petugas memang datang memeriksa kondisi lingkungan. Namun, jumlah makanan yang diterima warga belum selalu mencukupi.
“Kadang ada nasi bungkus, tetapi tidak sampai setengah warga dapat,” imbuhnya.
Di akhir percakapan, Sapardi kembali duduk di area musala. Di belakangnya, pagar dan tiang berwarna hijau mengelilingi halaman. Dari tempat itu, aliran sungai masih dapat terlihat di sela-sela bangunan.
Tidak ada hujan saat ia bercerita. Permukiman pun sedang tidak digenangi air. Namun, pengalaman banjir membuat ketenangan itu terasa sementara.
Warga Gang Mufakat telah terbiasa membaca perubahan air. Mereka mengamati hujan, pasang, arus sungai, dan kabar dari tetangga. Semua dilakukan sebelum air benar-benar masuk ke rumah.
Bagi Sapardi, banjir bukan hanya peristiwa yang dikenang setelah air surut. Banjir juga menjadi ingatan yang memengaruhi cara warga menjalani hari.
Sungai di belakang permukiman itu mungkin terlihat tenang. Akan tetapi di hulu, air terus bergerak. Dan di hilir, warga tetap menyimpan kecemasan yang sama.
Salsa












