Indeks
Tokoh  

BAGIAN 2 — Arsitek Kota, Dua Puluh Tahun Profesi, dan Jalan Menuju Politik

Wahyullah Bandung bersama Prof. Slamet Trisutomo, ahli kota pesisir sekaligus dosen pembimbing Magister Perkotaan Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin, saat membahas gambar kerja arsitektur. (Dok.pribadi)

SIVANA, BALIKPAPAN – Setelah menyelesaikan pendidikan arsitektur, Wahyullah Bandung mulai membangun karier profesionalnya. Ia tidak langsung menetap di Balikpapan.

Selepas kuliah, ia sempat menuju Berau untuk mengunjungi kakaknya. Di daerah itu, ia kemudian mendapat pekerjaan pada proyek Perusahaan Daerah Air Minum atau PDAM.

Pekerjaannya berada di bagian engineering. Ia bertugas sebagai drafter atau orang yang menerjemahkan rancangan teknis ke dalam gambar kerja.

“Waktu itu saya di bagian engineering, tukang gambar istilahnya,” kata Wahyullah.

Sekitar setahun berada di Berau, ia kembali ke Makassar.

Di sana, ia bekerja pada salah satu perusahaan konsultan yang cukup dikenal. Pekerjaannya semakin beragam. Ia menangani sejumlah proyek, termasuk pekerjaan yang berkaitan dengan Indosat.

Pada masa itu, kebutuhan terhadap tenaga arsitek cukup tinggi. Pekerjaan sering kali datang melalui jaringan pertemanan, senior, dosen, atau orang-orang yang sudah lebih dulu bekerja di dunia konstruksi.

Bagi Wahyullah, masa tersebut menjadi tahap penting untuk menguji pengetahuan yang diperolehnya di kampus.

Ia tidak hanya berhadapan dengan gambar dan rancangan, tetapi juga dengan kebutuhan klien, perhitungan teknis, anggaran, serta persoalan di lapangan.

Namun, setelah beberapa waktu bekerja di Makassar, ia mulai melihat peluang lain di Balikpapan. Informasi mengenai penghasilan tenaga arsitek di kota minyak itu menjadi salah satu pertimbangan.

“Waktu itu informasi yang saya dapat, gaji di Balikpapan bisa lima kali lipat dari Makassar,” ucapnya.

Pada Mei 2004, Wahyullah memutuskan pindah ke Balikpapan.

Tidak sampai sebulan setelah tiba, dua perusahaan menghubunginya. Ia kemudian memilih bekerja di perusahaan pengembang Wahana Asri.

Perpindahan itu membuatnya mulai mengenal lebih dekat dunia pembangunan di Balikpapan.

Kota tersebut tidak hanya berkembang sebagai pusat industri minyak dan gas, tetapi juga mengalami pertumbuhan kawasan permukiman, perdagangan, jasa, dan infrastruktur.

Ia sempat mempertimbangkan untuk masuk ke sektor pertambangan atau migas karena penghasilannya dinilai lebih menjanjikan. Akan tetapi, pilihan itu tidak berlangsung lama.

“Saya sempat berpikir masuk tambang atau migas karena penghasilannya besar. Tapi akhirnya saya kembali ke arsitektur,” tuturnya.

Keputusan untuk tetap berada di dunia arsitektur kemudian mempertemukannya dengan berbagai pekerjaan yang lebih luas.

Ia tidak hanya bekerja sebagai perancang bangunan, tetapi juga terlibat sebagai konsultan, kontraktor, dan pengawas proyek.

Sejak pertengahan 2000-an, Wahyullah mulai terlibat dalam sejumlah pekerjaan yang berkaitan dengan Pelindo.

Keterlibatannya itu berlangsung dalam beberapa tahun dan membawanya ke berbagai jenis pekerjaan konstruksi.

Dalam proyek-proyek tersebut, ia tidak selalu berada dalam satu posisi.

Terdapat pekerjaan yang menempatkannya sebagai arsitek, adapun yang membuatnya harus terlibat dalam konsultansi dan pelaksanaan konstruksi.

Peran yang beragam itu membuatnya memahami bahwa pekerjaan arsitektur tidak berhenti ketika gambar selesai dibuat. Rancangan harus diterjemahkan menjadi bangunan, sementara bangunan harus dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Di lapangan, rancangan sering berhadapan dengan kondisi yang tidak selalu sama dengan rencana awal. Ada persoalan material, perubahan kebutuhan, anggaran, waktu pengerjaan, hingga koordinasi antara banyak pihak.

Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap profesi arsitek.

“Kalau sudah mendesain seperti zaman kuliah itu sangat menyenangkan. Dapat pengalamannya, dapat juga uangnya,” ujarnya.

Namun, semakin lama bekerja, ia semakin memahami bahwa arsitektur bukan hanya pekerjaan yang bertumpu pada kemampuan menggambar.

“Arsitektur itu bukan tentang bagaimana mendesain. Tapi bagaimana rangkaian-rangkaian atau variabel-variabel pengetahuan ini bisa dimasukkan,” terangnya.

Baginya, seorang arsitek harus memahami banyak hal sebelum menghasilkan sebuah rancangan.

Mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, matematika, fisika, hingga tkebiasaan masyarakat yang harus diperhitungkan.

Oleh karena itu, ia tidak sepakat jika arsitektur dipahamia hanya sebagai kemampuan menggambar bangunan.

“Ilmu arsitektur itu bukan menggambar sebenarnya. Menggambar itu tahap akhir dari proses perancangannya,” tekannya.

Wahyullah menuturkan, gambar hanyalah hasil akhir dari proses berpikir yang panjang.

Sebelum sebuah garis ditarik, arsitek harus memahami siapa yang akan menggunakan bangunan, bagaimana bangunan itu berdiri, apa dampaknya terhadap lingkungan, dan bagaimana bangunan tersebut berhubungan dengan kawasan di sekitarnya.

Cara berpikir seperti itu semakin terasa ketika ia terlibat dalam pekerjaan yang berkaitan dengan bangunan publik.

Salah satu pekerjaan yang paling diingat Wahyullah adalah keterlibatannya dalam revitalisasi Terminal Pelabuhan Semayang, Balikpapan.

Pada masa itu, bangunan terminal dinilai sudah tidak lagi menggambarkan kebutuhan pelayanan penumpang. Bangunan lama terlihat kurang sesuai dengan perkembangan aktivitas pelabuhan dan tuntutan pelayanan publik.

Kondisi tersebut sempat menjadi perhatian Menteri Perhubungan Ignasius Jonan ketika berkunjung ke Balikpapan.

Wahyullah mengingat bagaimana Jonan melihat bentuk terminal lama yang dianggap menyerupai bangunan bioskop.

“Dia melihat Terminal Semayang kok seperti bioskop lama,” ucap Wahyullah.

Komentar tersebut menjadi salah satu pemicu perhatian terhadap kebutuhan pembenahan terminal.

Bangunan lama tidak cukup hanya diperbaiki pada bagian tertentu. Terminal perlu ditata kembali agar dapat melayani penumpang dengan lebih baik.

Wahyullah kemudian terlibat dalam proses perencanaan revitalisasi.

“Saya kebetulan kebagian tugas merencanakan itu, mengubah dari bangunan lama, kita renovasi, direvitalisasi menjadi terminal modern,” urainya.

Pekerjaan itu tidak hanya berkaitan dengan bentuk bangunan. Terminal merupakan ruang publik yang digunakan banyak orang.

Jadi, perencanaannya harus memperhitungkan alur penumpang, ruang tunggu, akses kendaraan, sirkulasi manusia, keamanan, kenyamanan, serta hubungan antara bangunan dan kawasan pelabuhan.

Terminal juga menjadi salah satu pintu masuk orang yang datang ke Balikpapan melalui jalur laut. Wajah bangunan tersebut ikut memengaruhi kesan awal orang terhadap kota.

Menurutnya, pekerjaan itu memperlihatkan bagaimana arsitektur berhubungan langsung dengan pelayanan publik. Bangunan tidak hanya harus tampak modern, tetapi juga harus berfungsi dengan baik.

Revitalisasi Terminal Semayang menjadi salah satu pengalaman yang memperluas pandangannya tentang pembangunan kota.

Ia melihat bahwa bangunan publik merupakan bagian dari sistem kota yang lebih besar.

Pelabuhan berkaitan dengan jalan. Jalan berkaitan dengan kawasan perdagangan dan permukiman.

Sementara itu, seluruh aktivitas tersebut berhubungan dengan kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah.

Dari sana, perhatian Wahyullah mulai bergerak dari bangunan menuju kawasan dan kota.

Menapaki Jalan Profesi melalui IAI

Di tengah aktivitasnya sebagai arsitek dan konsultan, Wahyullah juga membangun perjalanan panjang dalam organisasi profesi.

Ia mulai mengikuti Ikatan Arsitek Indonesia atau IAI sekitar 2005. Pada tahap awal, ia menjalani proses profesi, termasuk pembinaan dan kode etik arsitek.

Setahun kemudian, ia mulai terlibat dalam kepengurusan IAI Kalimantan Timur.

Keterlibatannya tidak berhenti pada satu periode kepengurusan. Ia terus mengambil bagian dalam berbagai kegiatan organisasi.

Ia pernah menjadi pengurus IAI Kaltim, kemudian dipercaya sebagai koordinator wilayah yang mencakup Balikpapan, Penajam, dan Paser.

Setelah itu, ia dipercaya memimpin IAI Cabang Balikpapan.

Dalam perjalanan tersebut, ia tidak hanya mengurus kegiatan organisasi. Ia juga terlibat dalam diskusi tentang posisi arsitek dalam pembangunan daerah.

Pada 2011, Wahyullah ikut terlibat dalam pelaksanaan Musyawarah Nasional IAI di Balikpapan. Kegiatan tersebut menghadirkan ratusan arsitek dari berbagai daerah.

“Waktu itu sekitar 500 arsitek datang ke Balikpapan,” sebutnya.

Pengalaman mengelola organisasi profesi membuatnya semakin memahami bahwa arsitek memiliki ruang kerja yang jauh lebih luas daripada sekadar merancang rumah atau gedung.

Kemudian, Wahyullah mengungkapkan bahwa arsitektur memiliki banyak bidang. Ada arsitektur bangunan, arsitektur interior, arsitektur komunitas, kontraktor, pengembang, hingga bidang yang berkaitan dengan kawasan dan kota.

Wahyullah sendiri lebih tertarik pada arsitektur kota. Ia ingin memahami bagaimana ruang dibentuk, bagaimana kawasan tumbuh, dan bagaimana pembangunan memengaruhi kehidupan masyarakat.

“Kalau kita bicara arsitektur kota, skalanya sudah kota. Di situ ada hubungan antara arsitek dan perencana kota,” jelasnya.

Ketertarikan tersebut membuatnya memperdalam pengetahuan melalui pendidikan magister yang berkaitan dengan manajemen perkotaan dan desain kota.

Ia melihat persoalan kota tidak bisa diselesaikan hanya dengan membangun gedung.

Kota juga menghadapi persoalan banjir, kemacetan, infrastruktur, transportasi, ruang publik, kawasan permukiman, serta tekanan terhadap lingkungan.

Persoalan-persoalan itu tidak berdiri sendiri. Banjir, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan saluran air. Ia juga berhubungan dengan tata ruang, perubahan fungsi lahan, kepadatan bangunan, jalan, dan kebijakan pembangunan.

Begitu pula kemacetan. Persoalan itu tidak cukup diselesaikan dengan pelebaran jalan. Ada hubungan dengan pola permukiman, pusat kegiatan, transportasi umum, serta distribusi aktivitas masyarakat.

Sebab itu, Wahyullah melihat arsitektur kota sebagai bidang yang membutuhkan kemampuan membaca banyak persoalan sekaligus.

Wahyullah menilai pembangunan kota harus memperhatikan hubungan antara bangunan dan lingkungan.

Sebuah proyek tidak cukup dinilai dari seberapa besar bangunan berdiri atau seberapa megah bentuknya.

Ada pertanyaan yang lebih penting terkait apakah bangunan itu menjawab kebutuhan masyarakat, apakah aksesnya baik, apakah tidak menambah persoalan lingkungan, dan apakah keberadaannya sesuai dengan karakter kawasan.

Dalam pandangannya, kota perlu memiliki identitas.

Identitas itu tidak selalu lahir dari bangunan besar, tetapi juga dari jalan, ruang terbuka, kawasan, batas wilayah, simpul aktivitas, dan bangunan yang menjadi penanda.

Maka dari itu, pembangunan kota perlu dirancang secara menyeluruh. Setiap bagian harus memiliki hubungan dengan bagian lainnya.

Pengetahuan tersebut kemudian menjadi bekal ketika ia mulai mempertimbangkan masuk ke politik.

Ia melihat bahwa banyak keputusan mengenai kota justru dibuat melalui proses politik dan kebijakan pemerintah.

Arsitek dapat merancang, konsultan dapat memberi masukan, dan kontraktor dapat membangun. Namun, arah pembangunan tetap ditentukan melalui keputusan anggaran, regulasi, perizinan, serta kebijakan pemerintah.

Di titik itulah Wahyullah mulai berpikir untuk membawa pengetahuan profesinya ke ruang kebijakan.

Dari Profesi ke Politik

Keputusan masuk politik tidak datang secara tiba-tiba. Sebelumnya, Wahyullah sudah beberapa kali berdiskusi dengan seorang rekanan politik.

Percakapan tersebut membuka pemikirannya tentang kemungkinan terlibat langsung dalam proses politik.

Ia mengaku bahwa pengalaman sebagai arsitek dan konsultan dapat digunakan untuk membaca persoalan masyarakat.

Kendati demikian, untuk ikut menentukan arah kebijakan, ia harus masuk ke ruang politik.

Pada 2014, Wahyullah diminta maju sebagai calon anggota legislatif melalui Partai Keadilan Sejahtera atau PKS. Saat itu, ia belum menjadi kader partai.

Ia maju dari daerah pemilihan Balikpapan Utara. Pencalonan tersebut menjadi pengalaman pertamanya dalam kontestasi politik elektoral.

Hasilnya belum berhasil. Ia tidak memperoleh kursi.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya langsung meninggalkan politik. Ia tetap bekerja sebagai arsitek, konsultan, dan pengusaha.

Di sisi lain, ia mulai memahami bahwa politik memiliki mekanisme sendiri.

Pengetahuan akademik dan pengalaman profesional tidak otomatis membuat seseorang terpilih. Ada kerja lapangan, pengenalan wilayah, hubungan dengan masyarakat, serta kepercayaan pemilih yang harus dibangun.

Pada 2017, Wahyullah bergabung dengan Partai Golkar. Ia bahkan langsung dipercaya menduduki posisi bendahara.

Keputusan tersebut kembali membuatnya harus mempertimbangkan hubungan antara profesi dan politik.

Saat itu, ia masih memiliki pekerjaan sebagai arsitek dan konsultan.

“Saya berpikir dulu. Karena saya masih arsitek, masih konsultan, masih bekerja. Tapi akhirnya saya terima,” ungkapnya.

Ia tidak melihat keputusan itu semata-mata sebagai perpindahan profesi. Wahyulla menyampaikan, bergabung dengan partai merupakan bagian dari perjalanan hidup.

“Ini saya terima sebagai bagian dari jalan, jalan hidup lah,” imbuhnya.

Posisi sebagai bendahara membuatnya mulai mengenal lebih jauh kerja organisasi partai.

Ia tidak hanya berhadapan dengan gagasan politik, tetapi juga dengan administrasi, struktur organisasi, konsolidasi, dan kebutuhan kerja partai.

Wahyullah saat berkampanye dalam Pemilu Legislatif 2019. Langkah pertamanya menuju politik elektoral belum berbuah kursi DPRD Kota Balikpapan. (Sivanamedia)

Pada Pemilu 2019, Wahyullah kembali maju sebagai calon anggota legislatif. Kali ini, ia bertarung dari daerah pemilihan Balikpapan Tengah.

Namun, hasilnya kembali belum sesuai harapan. Ia gagal memperoleh kursi.

Dua kali kegagalan itu menjadi pengalaman penting. Wahyullah mulai mengevaluasi cara kerja politiknya.

Ia akhirnya memahami bahwa memenangkan pemilu tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara atau menyusun gagasan.

Politik juga membutuhkan proses panjang untuk mengenalkan diri, membangun hubungan, dan menunjukkan kebermanfaatan di tengah masyarakat.

Ia membandingkan kegagalan tersebut dengan pengalaman di dunia usaha dan pekerjaan proyek.

“Menang dan gagal itu sebenarnya hal yang menyertai kehidupan manusia. Saya kan pekerja, pengusaha. Kalau tender kadang menang, kadang kalah, kadang bangkrut, kadang untung, kadang rugi. Biasa saja dalam kehidupan,” tekannya.

Cara pandang itu membuatnya tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti. Ia menganggapnya sebagai bagian dari proses.

Ia mengatakan orang yang terbiasa bekerja dalam proyek akan memahami bahwa tidak semua rencana berakhir sesuai harapan.

Ada pekerjaan yang berhasil diperoleh, ada yang lepas. Ada proyek yang menghasilkan keuntungan, ada pula yang membawa kerugian.

Politik, dalam pandangannya, memiliki pola yang serupa. Ada kemenangan dan kekalahan. Namun, setiap hasil harus dibaca sebagai bahan evaluasi.

Dari pengalaman mengikuti pemilu, Wahyullah membagi perjalanan politik ke dalam dua bagian.

“Bab satu itu bagaimana kamu bisa duduk. Bab dua adalah apa yang kamu kerjakan setelah duduk di parlemen,” paparnya.

Sementara, dua bagian tersebut sama-sama penting. Seseorang tidak akan bisa menjalankan program di parlemen jika tidak berhasil melewati proses untuk memperoleh kursi.

Sebaliknya, kemenangan dalam pemilu juga tidak cukup jika tidak diikuti pekerjaan yang nyata setelah terpilih.

“Orang yang berlatar belakang profesi dan akademik itu selalu berpikir di bab dua ini, seakan-akan kita sudah duduk jadi anggota dewan. Padahal harus ada hal yang dituntaskan di proses mencari suara supaya bisa duduk,” lanjut Wahyullah.

Ia menilai banyak orang yang memiliki latar belakang akademik atau profesi lebih sering memikirkan program dan gagasan.

Padahal, dalam politik elektoral, proses membangun dukungan masyarakat juga harus dikerjakan secara serius.

“Dua-duanya harus dilakukan. Ilmu bab satu, bab dua itu seperti satu buku,” tegasnya.

Pemikiran tersebut menjadi bahan evaluasinya setelah dua kali gagal dalam pemilu.

Ia tidak cukup hanya membawa gagasan tentang tata kota, lingkungan, atau pembangunan. Ia juga harus mampu menjelaskan gagasan itu kepada masyarakat dan membangun kepercayaan.

Menang pada Pemilu 2024

Setelah melalui dua kegagalan, Wahyullah kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2024. Kali ini, ia maju dari daerah pemilihan Balikpapan Selatan.

Perjalanan panjang tersebut akhirnya berbuah hasil. Wahyullah memperoleh 2.501 suara dan terpilih sebagai anggota DPRD Balikpapan periode 2024-2029.

Kemenangan itu menjadi titik baru dalam perjalanan hidupnya. Selama bertahun-tahun, ia bekerja di balik meja gambar, ruang konsultan, proyek konstruksi, dan organisasi profesi.

Kini, ia berada di lembaga yang ikut membahas arah pembangunan kota.

Pengetahuan tentang arsitektur, tata ruang, lingkungan, dan kawasan perkotaan dibawanya ke dalam pekerjaan sebagai legislator.

Namun, ia tidak melihat kemenangan tersebut sebagai akhir dari perjalanan.

Baginya, terpilih justru membuka bab berikutnya yaitu bab tentang apa yang harus dikerjakan setelah memperoleh kursi.

“Kalau saya, politik itu kebermanfaatan. Semakin bermanfaat, semakin politik,” ujarnya.

Kalimat itu menjadi benang merah perjalanan Wahyullah. Profesi arsitek mengajarinya membaca persoalan secara menyeluruh.

Pengalaman di dunia proyek dan organisasi profesi menjadi bekal ketika Wahyullah memasuki politik.

Di DPRD Balikpapan, ia menghadapi ruang kerja yang berbeda bahwa bukan lagi merancang bangunan, melainkan mengawal keputusan dan kebijakan yang berdampak langsung pada masyarakat.

Di sinilah pengetahuan serta pengalamannya diuji dalam proses pengambilan kebijakan.

 

Salsa

Exit mobile version