SIVANA, BALIKPAPAN – Balikpapan tidak langsung menyambut Sofyan Jufri dengan rumah yang nyaman.
Ketika keluarganya datang dari Sengkang, Wajo, Sulawesi Selatan, sekitar 1990, tempat pertama yang mereka tinggali justru sebuah pondok sederhana di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Manggar.
Bangunannya hanya sekitar 3×4 meter, terbuat dari kayu-kayu sisa, berdiri di lahan kosong dekat gardu listrik. Di tempat inilah sebagian masa kecil Sofyan berlangsung.
Ia masih mengingat bagaimana keluarganya menjalani hari dengan keadaan serba terbatas sebelum perlahan berpindah ke Lamaru pada 1991.
Di sana, orang tuanya mulai membangun kehidupan dari sebuah warung kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Warung itu tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang tumbuh bagi Sofyan dan tiga saudaranya.
Orang tuanya menjual sembako, es, makanan ringan, hingga minuman tradisional. Ketika aktivitas nelayan mulai menjadi bagian dari kehidupan keluarga, dagangan pun berkembang.
Mereka menyediakan roti, biskuit, air minum, hingga BBM untuk kebutuhan melaut.
Hasil tangkapan seperti udang dan hasil laut lainnya kemudian dibeli dari nelayan untuk dijual kembali ke perusahaan.
Dari usaha kecil itu, keluarganya perlahan mampu membiayai sekolah Sofyan dan adik-adiknya.
Namun, masa kecil tersebut tidak sepenuhnya berisi cerita tentang keberhasilan. Ada pula kenangan sederhana yang melekat kuat dalam ingatannya, seperti sarapan nasi putih dengan garam dan minyak sisa menggoreng ikan.
“Garam dicampur minyak goreng, makan pakai nasi putih,” kenangnya.
Bagi sebagian orang, cerita itu mungkin terdengar sederhana. Bagi Sofyan, justru di sanalah ia melihat bagaimana orang tuanya bertahan dan memastikan anak-anaknya tetap bisa sekolah.
Setelah pulang sekolah, ia tak serta-merta bisa bermain. Ia ikut menjaga warung ketika orang tuanya beristirahat. Warung bahkan kadang baru tutup sekitar pukul 01.00 atau 02.00 dini hari.
Sebagai anak sulung, Sofyan juga kadang membantu mengurus adiknya ketika kedua orang tuanya beristirahat.
Kehidupan semacam itu kemudian membentuk kebiasaannya untuk bekerja dan beradaptasi dengan keadaan sejak kecil.
Ia bersekolah di SD 013 yang kini menjadi SD 003 di kawasan Tritip, kemudian melanjutkan ke SMP 13 dan SMA 4 Balikpapan.
Di bangku SMA, ia mengambil jurusan bahasa. Pelajaran Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman hingga sastra membuatnya mulai tertarik pada dunia komunikasi.
Sempat terlintas keinginan menjadi pembaca berita di televisi. Ia bahkan pernah berlatih membaca naskah berita sendiri.
Namun, cita-cita yang lebih dahulu muncul ketika masih kecil justru berbeda. Ia ingin menjadi dokter.
Alasannya sederhana yakni, ingin bisa menyembuhkan orang sakit, terutama anggota keluarganya.
Cita-cita itu kemudian berubah ketika ia semakin mengenal dunia di luar sekolah. Sofyan menamatkan SMA pada 2003. Ia kemudian mengikuti seleksi masuk Universitas Mulawarman.
Pada awalnya, ia diterima di Fakultas Perikanan. Namun, setelah mengikuti orientasi mahasiswa, ia merasa tidak cocok dengan pilihan tersebut.
Ada satu hal yang membuatnya semakin mantap mencari pilihan lain. Ia melihat para senior dengan rambut panjang dalam suasana ospek.
Sofyan ketika itu menganggap, pemandangan tersebut terasa asing dan membuatnya berpikir ulang. Ia kemudian mengikuti seleksi lain dan akhirnya masuk Fakultas Hukum.
Pilihan itu juga didiskusikan bersama keluarga. Orang tuanya memang tidak memiliki latar pendidikan tinggi.
Ayahnya berpendidikan SMP, sementara ibunya hanya sempat menempuh pendidikan dasar. Sebab itu, keputusan memilih jurusan kuliah menjadi pembicaraan penting di rumah.
Sofyan menjalani kuliah hukum sejak 2003 hingga 2010. Tetapi, kehidupan kampusnya tidak berhenti pada ruang kuliah.
Memasuki sekitar akhir semester kedua, ia mulai semakin dekat dengan gerakan mahasiswa dan isu sosial-politik.
Pada masa itu, isu kenaikan harga BBM dan kebijakan pemerintah menjadi salah satu pemantik gerakan mahasiswa.
Seorang kawan SMA bernama Daus mengajaknya datang ke sebuah kos tempat sejumlah aktivis berkumpul.
Dari sana, Sofyan mulai mengikuti proses kaderisasi dan terlibat dalam aktivitas organisasi mahasiswa di luar kampus.
Aktivisme perlahan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia turun dalam aksi, mengikuti diskusi, dan berhadapan dengan situasi yang kadang membuat keluarganya khawatir.
Orang tuanya sebenarnya berharap Sofyan memilih jalan yang lebih aman dengan menjadi pegawai negeri sipil. Bahkan, Sofyan pernah mengikuti tes CPNS. Namun, di dalam hati, ia justru berharap hasilnya berbeda dari keinginan orang tuanya.
“Dalam hati malah mudah-mudahan nggak lulus,” harapnya saat itu.
Bukan karena ia tidak menghargai keinginan orang tua. Ia hanya merasa jalan hidupnya mulai bergerak ke arah yang berbeda.
Pada awalnya, pilihan menjadi aktivis itu tidak mudah diterima keluarganya. Mereka khawatir dengan aktivitas Sofyan yang sering turun ke jalan dan menyuarakan persoalan sosial-politik.
Kekhawatiran itu semakin besar ketika situasi aksi mahasiswa kadang diwarnai ancaman dan intimidasi.
Puji syukur, pandangan orang tuanya perlahan berubah. Suatu hari, Sofyan muncul di televisi dan media karena aktivitasnya menyuarakan berbagai persoalan masyarakat.
Keluarga yang sebelumnya cemas mulai melihat sisi lain dari jalan yang dipilih anak sulung mereka.
“Wah, ada ponakanku masuk TV,” begitu kira-kira respons keluarga yang kemudian membuat suasana di rumah berubah.
Dari yang semula meminta Sofyan menjauhi aktivitas tersebut, orang tuanya justru mulai mengikuti apa yang ia perjuangkan.
Mereka bahkan kerap bertanya mengenai persoalan yang sedang terjadi di masyarakat, mulai dari BBM, gas hingga persoalan penggusuran.
Aktivisme akhirnya tidak lagi menjadi sesuatu yang harus ia sembunyikan dari keluarga.
Justru dari sana, Sofyan mulai menemukan identitasnya sebagai orang yang terbiasa berdiri di tengah persoalan masyarakat.
Sekitar 2008, ketika masih menjadi mahasiswa, Sofyan mulai lebih dekat dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Salah satu tokoh yang banyak memengaruhinya adalah Syafruddin atau yang akrab disapa Bang Udin.
Ketertarikannya terhadap PKB tidak semata-mata karena politik praktis. Sofyan mengaku tertarik pada gagasan yang ia lihat dari tradisi Gus Dur, mulai dari keterbukaan, kemanusiaan, hak asasi manusia, serta keberpihakan terhadap kelompok minoritas.
Di awal keterlibatannya, ia tidak langsung mendapat posisi penting. Pekerjaannya sederhana, yaitu memasang bendera dan spanduk, membersihkan sekretariat, serta mengikuti berbagai kegiatan partai.
Dari pekerjaan-pekerjaan kecil itulah ia merasa sedang belajar bagaimana politik bekerja.
Pengalaman sebagai aktivis kemudian membawanya mencoba masuk ke arena elektoral.
Pada Pemilu 2009, ia maju sebagai calon anggota legislatif dari PKB. Namun, saat itu ia belum benar-benar menjadikan kursi legislatif sebagai target utama.
“2009 itu cuma ngisi kuota,” katanya.
Ia gagal. Beberapa tahun kemudian, setelah menyelesaikan kuliah, Sofyan justru masuk ke dunia jurnalistik.
Pada 2012, ia kembali ke Balikpapan dan bekerja di BTV, mengerjakan liputan olahraga dan kriminal. Sekitar 2014, ia mencoba peruntungan di Koran Kaltim di Samarinda dan mendapat tugas meliput politik.
Dunia jurnalistik memberinya akses lebih luas untuk melihat cara kerja pemerintahan dan parlemen.
Ia bertemu dengan banyak pejabat dan politisi, sekaligus belajar bagaimana sebuah kebijakan berdampak langsung pada masyarakat.
Perjalanan di ruang redaksi pun tidak selalu mulus. Sofyan mengingat dirinya pernah diberhentikan tiga kali dan dipanggil kembali tiga kali.
Ada berbagai persoalan yang mengiringi dinamika tersebut, termasuk kebiasaannya bekerja dengan gaya yang menurutnya cukup berbeda dengan kultur ruang redaksi saat itu.
Namun, ia tetap kembali ke dunia jurnalistik setiap kali mendapat kesempatan. Dari sana pula muncul satu kesadaran baru, yaitu banyak wartawan yang akhirnya masuk ke parlemen.
Ia pun mulai membayangkan kemungkinan yang sama untuk dirinya. Tetapi, Sofyan tidak langsung berhasil.
Pada 2019, ia kembali maju sebagai calon legislatif. Kali ini ia menyebutnya sebagai upaya “cek ombak”. Hasilnya masih sama, yakni belum terpilih.
Justru pada periode itulah Sofyan mendapat pengalaman yang kelak memperkuat langkahnya di dunia politik.
Saat masih bekerja sebagai wartawan, sejumlah warga datang dan memintanya maju dalam pemilihan ketua RT. Sofyan tidak banyak berharap akan terpilih.
Ketika itu, pikirannya bahkan lebih tertuju pada keinginan untuk segera pulang dan menjemput anaknya yang masih kecil. Namun, permintaan warga membuatnya ikut dalam pemilihan, dan hasilnya justru di luar dugaan. Ia terpilih sebagai ketua RT.
Keputusan berikutnya tidak kalah besar. Sofyan meninggalkan pekerjaan jurnalistik yang sudah menjadi pekerjaan tetap untuk mengurus lingkungan tempat tinggalnya.
Honor sebagai ketua RT saat itu sekitar Rp750 ribu. Meski kecil secara nominal, posisi tersebut memberinya pengalaman berhadapan langsung dengan berbagai kebutuhan warga, mulai dari urusan administrasi, keluhan lingkungan hingga persoalan sehari-hari yang menuntut penyelesaian.
Apabila sebagai wartawan ia bertemu persoalan masyarakat melalui liputan, sebagai ketua RT ia berhadapan langsung dengan warga yang datang membawa persoalannya.
Pengalaman itu tidak berhenti pada satu periode kepemimpinan. Sofyan kembali dipercaya warga untuk menjalankan amanah sebagai ketua RT.
Dari lingkungan tersebut, kedekatannya dengan warga semakin terbentuk, sekaligus memberinya ruang untuk memahami persoalan masyarakat dari jarak yang lebih dekat.
Dari titik itu, politik yang sebelumnya banyak ia kenal melalui gerakan mahasiswa, pemberitaan dan partai terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Pengalaman tersebut pula yang ia bawa ketika kembali maju pada Pemilu 2024.
Setelah sebelumnya maju pada 2009 untuk mengisi kuota dan pada 2019 sebagai “cek ombak”, kali ini ia datang dengan keseriusan yang berbeda.
Sofyan akhirnya terpilih melalui PKB dan mendapat kursi di DPRD Kota Balikpapan. Kini, ia menjalankan tugas di Komisi IV yang membidangi kesejahteraan rakyat, pendidikan dan kesehatan.
Sejumlah persoalan yang ia hadapi di parlemen sebenarnya bukan hal yang asing.
Kebutuhan fasilitas kesehatan dan pendidikan, misalnya, merupakan persoalan yang ia temui kembali setelah sebelumnya mendengar dan menyuarakannya dari luar lembaga.
Salah satu yang ia dorong ialah kebutuhan fasilitas kesehatan di Balikpapan Timur, khususnya agar masyarakat di kawasan Manggar dan sekitarnya memiliki akses layanan yang lebih dekat.
Ia menempatkan dorongan itu sebagai bagian dari kerja bersama Komisi IV, bukan sebagai capaian pribadi. Begitu pula dengan persoalan pendidikan yang menyangkut kebutuhan sekolah di sejumlah kawasan.
Masuk ke DPRD juga membuat posisi Sofyan berubah. Dulu ia berada di luar lembaga, mengkritik dan mengawasi kerja pemerintah serta parlemen.
Saat ini ia menjadi bagian dari lembaga yang sama dan harus siap menerima kritik. Ia bahkan melihat perubahan itu dengan nada jenaka.
“Dulu demo DPR, sekarang didemo kita,” tuturnya.
Menurut Sofyan, kritik tetap diperlukan selama disampaikan secara objektif. Baginya, anggota legislatif tidak boleh merasa pekerjaannya selesai hanya karena sudah mendapatkan kursi.
Ia mengungkapkan, kritik justru menjadi pengingat bahwa ada masyarakat yang terus mengawasi apa yang dilakukan wakilnya.
“Kita nggak bisa maju kalau nggak dikritik,” tegasnya.
Dari pondok kayu di Manggar, warung kecil di Lamaru, hingga ruang rapat DPRD, jalan hidup Sofyan memang berpindah dari satu ruang ke ruang lainnya.
Ia pernah menjadi anak yang membantu orang tua menjaga warung hingga dini hari, mahasiswa yang turun ke jalan, wartawan yang meliput kebijakan, hingga ketua RT yang menerima langsung keluhan warga.
Kini, ia berada di parlemen dengan pengalaman yang dibentuk dari ruang-ruang tersebut.
Kursi DPRD, pada akhirnya, bukan titik pertama dalam perjalanan itu. Ia justru menjadi salah satu tempat terbaru bagi Sofyan untuk membawa suara yang sejak lama ia dengar dari masyarakat.
Salsa
