SIVANA, BALIKPAPAN – Sebelum mengenal politik, Ari Sanda lebih dulu mengenal pasar dan lapangan bola. Ia tumbuh sebagai anak pedagang. Kedua orang tuanya berdagang cabai.
Dari kehidupan tersebut, Ari kemudian mencoba membangun usahanya sendiri dengan berjualan plastik. Di waktu yang sama, sepak bola dan futsal menjadi aktivitas yang cukup dekat dengannya.
Ari lahir di Ujung Pandang, Makassar, 18 Januari 1994. Kedua orang tuanya juga berasal dari Makassar. Ia kemudian tumbuh dan menjalani kehidupan di Balikpapan.
Di kota inilah pendidikan menengahnya ditempuh. Ari bersekolah di SMA Negeri 2 Balikpapan pada 2008-2011.
Tidak ada yang secara khusus menyiapkan jalan menuju gedung DPRD.
Setelah sekolah, ia menjalani aktivitas sebagai pemain bola dan pengusaha. Politik baru muncul belakangan, ketika cara pandangnya terhadap kehidupan bernegara mulai berubah.
Ia melihat hampir setiap persoalan yang terjadi di negara ini bersinggungan dengan keputusan politik. Kebijakan, pembangunan dan anggaran berada di dalam sebuah sistem yang sama.
Ia pun memilih untuk tidak sekadar melihatnya dari luar.
Bagi Ari, jika seseorang ingin mengubah sistem, ia harus berani masuk ke dalamnya.
“Ketika kita tidak mampu untuk masuk ke sana, jangan berangan-angan untuk mengubah sistem,” tutur Ari saat ditemui Sivanamedia.com, pada Kamis (27/8/2026).
Kalimat itu menjadi titik awal perjalanan yang sebelumnya tidak pernah ia rencanakan.
Ari memulai politik dari tingkat akar rumput.
Ia bergabung dengan Partai Golongan Karya (Golkar) dan dipercaya menjadi Ketua Pengurus Tingkat Kelurahan (PTK) Margasari.
Setelah itu, ia menjadi Ketua Musyawarah Pimpinan Kecamatan (MPG) Golkar Balikpapan Barat, lalu dipercaya sebagai bendahara MPG Golkar Kota Balikpapan.
Di antara perjalanan tersebut, ada Alwi Al Qadri yang disebut Ari sebagai senior yang membawanya masuk lebih jauh ke ruang politik.
Alwi yang mengangkat Ari menjadi ketua di Margasari. Kini, Alwi Al Qadri berada di pucuk DPRD Kota Balikpapan sebagai ketua.
Ada jarak yang cukup panjang dari saat ia mengenalkan Ari pada politik di tingkat akar rumput hingga keduanya kini berada dalam lembaga yang sama.
Dari organisasi, Ari kemudian semakin sering berhadapan dengan persoalan masyarakat. Ia juga berkecimpung dalam organisasi kepemudaan dan mendapat pengalaman di luar struktur partai.
Menjelang Pemilu 2024, langkah politiknya berubah.
Enam bulan sebelum pemilihan, Ari meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Ia melihat ada peluang untuk maju melalui partai tersebut. Ari tidak melihat perpindahan partai sebagai persoalan utama.
“Partai ini hanya kendaraan,” katanya.
Tujuannya tetap sama, yaitu mendapatkan ruang untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Pemilu 2024 kemudian menjadi penentu. Ari maju dari Daerah Pemilihan (Dapil) Balikpapan Barat dan memperoleh 4.999 suara.
Pada usia 29 tahun, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Balikpapan periode 2024-2029. Perjalanan dari organisasi tingkat kelurahan akhirnya membawanya ke lembaga legislatif.
Di DPRD, Ari kini menjadi Sekretaris Komisi III. Komisi ini membidangi pembangunan, lingkungan hidup dan perhubungan. Ia pun masuk dalam Badan Anggaran DPRD Kota Balikpapan.
Duduk di dua ruang tersebut membuatnya berhadapan dengan persoalan yang lebih luas. Namun Ari tidak ingin menempatkan anggota DPRD sebagai pelaksana pembangunan.
Menurutnya, pekerjaan legislatif adalah mengawasi, membahas anggaran dan menjalankan fungsi legislasi. Pelaksanaan pembangunan tetap menjadi kewenangan pemerintah.
Sebab itu, ketika menyebut apa yang sudah diperjuangkan di Balikpapan Barat, ia memilih berbicara tentang proses pengawalan.
Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah Rumah Sakit Balikpapan Barat. Pembangunan rumah sakit tersebut sempat mengalami penghentian.
Ari menyebut anggarannya kembali diperjuangkan dan pembangunan ditargetkan dilanjutkan pada 2027. Selain kesehatan, pendidikan juga menjadi bagian dari catatannya.
Kemudian, lanjut Ari, SMP Negeri 7, SMP Negeri 2 dan SMP Negeri 25 serta sekolah di kawasan Kariangau sebagai fasilitas pendidikan yang telah dibangun.
Pekerjaan belum berhenti. Ari ingin mendorong revitalisasi Kebun Sayur dan Pandansari.
Kawasan kota tua Balikpapan Barat juga masuk dalam daftar yang ingin ia dorong agar mendapat perhatian lebih serius.
Ia melihat Balikpapan Barat terlalu lama tertinggal dibanding wilayah lain di kota.
Untuk periode 2024-2029, Ari bahkan menyimpan catatan pribadi mengenai hal-hal yang ingin diperjuangkan.
Dari catatan tersebut, ia mengungkapkan sekitar 40 persen sudah berjalan. Masih ada pekerjaan yang harus dikejar.
Balikpapan Barat punya tantangan lain yang tidak selalu terlihat dalam angka pembangunan.
Wilayahnya terdiri dari kawasan perbukitan dan pesisir. Permukiman yang berdekatan membuat persoalan lingkungan, termasuk sampah, tidak mudah diselesaikan.
Ari melihat kesadaran masyarakat masih menjadi salah satu persoalan.
Ia juga menyinggung program pengumpulan sampah yang dikaitkan dengan pelayanan kesehatan. Sampah yang dikumpulkan masyarakat dapat ditukar dengan manfaat pelayanan tertentu.
Namun program seperti itu menurutnya tidak cukup jika berhenti pada kegiatan sesaat. Masyarakat juga mempertanyakan keberlanjutannya.
Bagi Ari, pertanyaan itu harus dijawab pemerintah. Program lingkungan tidak boleh hanya terlihat ketika diluncurkan, kemudian hilang ketika perhatian publik bergeser.
Di sinilah fungsi pengawasan DPRD kembali diperlukan. Masyarakat mengawasi dari lingkungan mereka. DPRD mengawasi pemerintah melalui fungsi kelembagaan yang dimiliki.
Ari menilai pengawasan tersebut pada akhirnya membutuhkan kejujuran dari semua pihak.
Ia tidak tahu apakah setiap aparatur pemerintah menjalankan pekerjaan dengan hati atau sekadar memenuhi kewajiban.
Kendati demikian baginya, kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh orang-orang yang menjalankannya.
Sebagai salah satu politisi muda di DPRD, Ari juga melihat anak muda sebagai bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Ia mengamati banyak ruang yang masih bisa digunakan generasi muda untuk menjaga sikap kritis dan idealisme, baik melalui forum kepemudaan maupun gerakan aktivis.
Ari berpandangan, pemikiran anak muda yang masih kritis justru dibutuhkan oleh pemerintahan.
Ia tidak ingin kritik hanya dianggap sebagai perlawanan. Adapun, suara anak muda dapat menjadi pengingat bagi orang-orang yang sudah berada di dalam lembaga pemerintahan.
Ia mengaku bangga melihat masih ada anak muda yang mau turun memperjuangkan hak masyarakat dan mengkritisi pemerintah.
Baginya, keberadaan mereka menunjukkan bahwa ruang demokrasi masih hidup.
Dua tahun berada di DPRD mengubah posisi Ari, namun tidak mengubah cara sederhananya melihat politik.
Ari tidak banyak membuat rumit perjalanan hidupnya.
Ia memilih menjalaninya dengan sederhana, mengalir mengikuti keadaan. Namun, ketika sudah menemukan sesuatu yang menurutnya perlu diperjuangkan, ia tidak ingin berhenti di tengah jalan.
“Hidup itu simpel aja, mengalir aja. Tapi ketika ada suatu pemikiran yang harus saya bangun, saya harus tuntaskan,” tegasnya.
Mungkin itu pula yang menjelaskan cara Ari berada di politik.
Ia tidak datang dengan cita-cita menjadi politisi, juga tidak membawa ambisi besar sejak awal. Ari hanya mengikuti satu keyakinan yang kemudian membawanya semakin jauh.
Apabila ada sesuatu yang ingin diubah, seseorang harus bersedia masuk dan mengerjakannya dari dalam. Selebihnya, waktu yang akan menguji apakah keyakinan itu benar-benar bisa bertahan.
Salsa
