Indeks
Tokoh  

Sebelum Jadi Ketua DPRD, Alwi Al-Qadri Pernah Jual Mobil untuk Tutup Utang Minyak

Ketua DPRD
Ketua DPRD Balikpapan, Alwi Al Qadri. (Sivanamedia)

SIVANA, BALIKPAPAN – Alwi Al-Qadri tidak langsung menjawab ketika ditanya tentang masa kecilnya. 

Ia perlu mengingat-ingat. 

Maklum, sudah hampir setengah abad sejak ia lahir pada 1 Maret 1977 di Kampung Baru, Balikpapan Barat.

Ingatan yang muncul bukan tentang politik. Apalagi tentang ruang sidang atau kursi Ketua DPRD Balikpapan yang kini didudukinya.

Ia justru mengingat anak kecil yang bermain seperti anak-anak lain.

“Ya biasalah, namanya anak-anak,” katanya saat ditemui langsung oleh Sivanamedia, pada Senin (7/9/2026).

Dulu ia bermain, memelihara ayam, dan punya kebiasaan turun ke laut.

Rumah keluarganya berada di Kampung Baru, tepatnya di kawasan yang ia sebut Gang Batu Arang. 

Di sana pula ayahnya menjalankan usaha. 

Meski berasal dari Mandar, Sulawesi Barat, ayah Alwi sudah tinggal di Balikpapan sejak muda.

Ayahnya berdagang berbagai hasil dari Sulawesi Barat. 

Ada gula merah, ikan, kambing, dan barang-barang lain yang bisa dijual kembali.

Pekerjaan itu membuat Alwi sejak kecil melihat bagaimana orang tuanya mencari penghasilan dari apa saja yang bisa dikerjakan.

“Orang tua saya swasta,” ujar Alwi.

Semua saudaranya lahir di Balikpapan. Sebab itu, ia tidak terlalu suka ketika dirinya disebut pendatang hanya karena ayahnya berasal dari luar Kalimantan.

“Kalau saya dibilang pendatang, saya juga nggak terima,” tekannya.

Ia lahir dan besar di Balikpapan. Masa kecilnya ada di Kampung Baru. Sekolahnya pum dimulai di kota ini.

Bagi Alwi, Balikpapan memang dibentuk oleh orang-orang dari banyak daerah. 

Ia memperkirakan sekitar 50 sampai 70 persen penduduk kota itu, pendatang. Karenanya ia mempertanyakan kembali istilah “orang asli” Balikpapan.

Adapun, terangnya, orang yang lahir dan besar di Balikpapan juga orang Balikpapan.

“Yang penting dia lahir di Balikpapan, besar di Balikpapan, cinta sama Balikpapan,” ucap Alwi.

Ia sendiri merasa demikian. 

Ketika terlalu lama berada di luar kota, ada keinginan untuk kembali.

Dari Kampung Baru, Alwi bersekolah di SD 0017 Baru Tengah, kemudian MTsN 1 Rapak. 

Setelah itu ia mengikuti sepupunya ke Samarinda dan bersekolah di SMA Negeri 8 Samarinda.

Tahun 1996, ia masuk Universitas Mulawarman. Dengan pilihan Fakultas Pertanian, jurusan Agronomi.

Pertanian sebenarnya bukan pilihan pertama. Pilihan pertamanya yaitu Kehutanan. Pertanian justruh berada di urutan kedua.

Saat itu ia mempertimbangkan persaingan masuk perguruan tinggi. 

Menurutnya, dua pilihan yang sama-sama sulit bisa membuat peluangnya tidak diterima semakin besar. 

Seorang teman kemudian menyarankan Pertanian karena peluang masuknya dinilai lebih terbuka.

Alwi mengikuti saran tersebut. 

Ia kuliah selama lima tahun. Di masa kuliah tidak hanya diisi dengan urusan akademik. Alwi juga bermain sepak bola dan banyak bergaul.

Pertemanan dari masa sekolah hingga kuliah masih ia rawat. Ada kelompok teman SMP, SMA, MTs, sampai alumni Agronomi.

Sesekali mereka menggelar reuni, bentuk pertemuan nya bisa melalui arisan bulanan.

Hubungan dengan teman-teman lama itu tetap berjalan meski kini sebagian bekerja di pemerintahan, bisnis, dan bidang lain.

Dari kampus pula ia belajar mengenai konsekuensi dari pilihan sendiri.

Berbeda dengan sekolah, kuliah membuat seseorang lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. 

Tidak masuk kelas berarti dirinya sendiri yang tertinggal.

“Kalau kita nggak masuk, ya kita sendiri yang rugi. Kuliahnya bisa lama,” tuturnya.

Setelah lulus, Alwi tidak langsung menjadi pengusaha. Ia bekerja untuk orang lain. 

Pekerjaan pertamanya sebagai sales di sebuah perusahaan yang ia sebut Altec. 

Hampir setahun ia bekerja di sana. Setelah itu ia pindah ke perusahaan keramik.

Baru setelah itu sepupunya, Rudy Mas’ud, mengajaknya bekerja di perusahaan minyak.

Rudy kini menjadi Gubernur Kalimantan Timur.

Alwi menerima tawaran tersebut dan bekerja sekitar dua tahun di perusahaan minyak milik sepupunya itu.

Pengalaman menjadi pekerja menjadi bagian yang tidak ingin ia lewatkan ketika bercerita tentang dirinya.

“Saya dari nol. Saya bukan yang tiba-tiba langsung jadi.”

Setelah sekitar dua tahun bekerja di perusahaan minyak, ia mulai ingin mencoba usaha sendiri.

Ia membuka bisnis yang masih berkaitan dengan BBM.

Awalnya ia menyewa kapal. Ketika usaha berkembang, ia mulai memiliki kapal sendiri.

Sejumlah bank kemudian bersedia bekerja sama membiayai pembangunan kapal.

Pada satu masa, Alwi memiliki empat kapal.

Bisnis tersebut berjalan beberapa tahun, sekitar 2007 hingga 2015. Ia sendiri tidak mengingat persis batas waktunya.

Kapal-kapal itu digunakan untuk membawa BBM ke perusahaan-perusahaan. Salah satu rute yang ia ceritakan adalah pengiriman BBM ke Palu.

Masalah muncul ketika sebagian perusahaan yang mengambil BBM tidak membayar.

Uang yang seharusnya kembali berubah menjadi piutang. Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.

Di sisi lain, kewajiban kepada pihak tempat ia mengambil minyak tetap berjalan. 

Dalam wawancara, Alwi menyebut salah satu kewajibannya kepada Pertamina Patra Niaga.

Ketika uang dari perusahaan tidak kunjung dibayarkan, kewajiban itu tetap harus diselesaikan. Alwi mulai melepas aset yang dimilikinya.

Mobil pun ikut terjual demi menutup kewajiban bisnis tersebut.

“Dari saya itu punya duit sampai enggak punya duit sama sekali,” sebutnya.

Beberapa kapal juga akhirnya dijual. 

Bukan semata karena usaha berhenti, namun karena ia sudah tidak memiliki cukup waktu untuk mengurus semuanya.

Dari empat kapal, kini tinggal satu. 

Saat wawancara berlangsung, kapal tersebut beroperasi di Bombana, Sulawesi Tenggara.

Alwi tidak menyampaikan pengalaman itu sebagai sesuatu yang membuatnya kapok berusaha.

“Kalau bisnis itu kan tidak mungkin lancar terus. Pasti ada liku-likunya.”

Setelah melewati masa sebagai pekerja dan pengusaha, kehidupan keluarganya juga mengalami perubahan.

Selepas kuliah, Alwi menikah dengan perempuan asal Samarinda. 

Pernikahan itu tidak berlangsung lama, kurang dari lima tahun. Dari pernikahan ini ia memiliki seorang anak.

Setelah berpisah, ia menikah dengan Adi Suciana, perempuan asal Karang Jawa.

Ia kemudian kembali ke Balikpapan. 

Namun pekerjaannya di Samarinda belum sepenuhnya ditinggalkan. 

Untuk beberapa waktu, ia masih menjalani rutinitas bolak-balik Balikpapan-Samarinda.

Politik datang ketika ia tidak lagi berada di titik awal kehidupan.

Rahmad Mas’ud, merupakan sepupunya yang kini menjadi Wali Kota Balikpapan, menawarkan kepadanya untuk mengisi posisi calon legislatif dari Balikpapan Barat.

Alwi tidak langsung mengiyakan. Ia kemudian membicarakan tawaran itu dengan istrinya.

Jawaban pertama yang diterimanya justru tidak. Istrinya belum mengizinkan. Hingga mereka kemudian menjalankan ibadah umrah bersama.

Setelah itu, istrinya memberikan persetujuan.

Apabila memang politik menjadi jalan yang ingin ditempuh, ia dipersilakan untuk menjalaninya.

Alwi masuk Partai Golkar sekitar 2017 atau 2018.

Ia tidak langsung berada di kursi legislatif. Sebelum maju sebagai calon anggota DPRD, ia lebih dulu bekerja di struktur partai. 

Ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Tingkat Kecamatan (PTK) Partai Golkar Balikpapan Barat.

Dari tingkat kecamatan itu, ia ikut menjalankan konsolidasi partai dan membangun jaringan di wilayah yang kemudian menjadi daerah pemilihannya.

Menjelang Pemilu 2019, Alwi maju sebagai calon anggota DPRD Balikpapan dari Balikpapan Barat. Dengan memperoleh 4.615 suara.

Perolehan tersebut tidak jauh dari Bunda Haji Fitri, sesama calon dari Golkar, yang memperoleh sekitar 4.700 suara. Keduanya berhasil terpilih.

Saat itu Balikpapan Barat hanya memiliki enam kursi, turun dari tujuh kursi pada pemilu sebelumnya. Golkar sendiri meraih sekitar 11 kursi di DPRD Balikpapan.

Setelah terpilih, Alwi dipercaya menjadi Ketua Komisi III.

Komisi tersebut banyak bersentuhan dengan urusan pembangunan, termasuk pekerjaan umum, lingkungan hidup, dan perhubungan.

Aktivitasnya di struktur partai juga berlanjut.

Pada 2021, ia kembali dipercaya memimpin PTK Golkar Balikpapan Barat untuk periode 2021-2026.

Lima tahun setelah pemilu pertamanya, Alwi kembali maju sebagai petahana.

Hasil Pemilu 2024 mengubah skala perolehan suaranya. Golkar memperoleh 16 kursi di DPRD Balikpapan. Alwi sendiri meraih hampir 11 ribu suara.

Ia mengungkapkan angka tersebut sebagai perolehan tertinggi calon DPRD di Kalimantan Timur.

Balikpapan Barat memiliki daftar pemilih tetap sekitar 64 ribu orang. 

Jumlah itu jauh di bawah Balikpapan Utara yang mencapai sekitar 120 ribu.

Menurut Alwi, mendapatkan lebih dari 10 ribu suara di dapil dengan jumlah pemilih lebih kecil membutuhkan kerja yang panjang di lapangan.

Ia mengaitkannya dengan kepercayaan masyarakat.

Bertemu warga, berdiskusi, menghadiri kegiatan masyarakat, dan mendengar persoalan di daerah pemilihan menjadi bagian dari pekerjaannya.

Selama periode pertamanya, ia mengakui sejumlah hal yang berhasil diperjuangkan, mulai penerangan jalan, jalan lingkungan, hingga drainase. Belum semuanya maksimal.

Kendati begitu, hubungan dengan konstituen itulah yang kemudian ikut menentukan posisinya setelah Pemilu 2024.

Setelah Abdullah menyelesaikan masa jabatannya sebagai Ketua DPRD Balikpapan periode sebelumnya, posisi ketua kembali ditentukan dari internal Golkar.

Ada pemahaman bahwa anggota Golkar dengan perolehan suara tertinggi akan dipercaya menduduki posisi pimpinan.

Dari 16 anggota DPRD Balikpapan yang berasal dari Golkar, Alwi menjadi peraih suara terbanyak.

Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua DPRD Balikpapan periode 2024-2029.

Alwi tidak pernah membayangkan akan duduk di kursi itu. Ia juga mengatakan tidak pernah terlalu mengejar jabatan.

Meskipin ia menyebut dirinya punya “jiwa petarung”. Kalau mempunyai tujuan, ia akan berusaha mengejarnya. 

Soal hasil, ia menyakini, tetap ada keputusan Tuhan.

Hampir setahun memimpin DPRD, tantangan yang dihadapinya berbeda dari ketika ia mengurus perusahaan.

Yang paling terasa sekarang adalah efisiensi anggaran. 

APBD Perubahan ikut mengalami pemangkasan. DPRD juga terkena pengurangan kegiatan dan perjalanan dinas.

Alwi mengungkapkan, persoalan itu bukan sekadar angka di dokumen anggaran.

Ada masyarakat yang datang membawa kebutuhan, tokoh masyarakat dan organisasi kemasyarakatan yang berharap bantuan. 

Bahkan permintaan sederhana seperti penyediaan nasi kotak untuk kegiatan masyarakat pun kini tidak mudah dipenuhi.

Pada masa sebelumnya, Alwi mengingat bahwa kondisi anggaran tidak seketat sekarang.

Ia juga menyinggung pemangkasan Dana Bagi Hasil yang menurutnya mencapai sekitar 50 hingga 60 persen. 

Dampaknya, ujar Alwi, tidak hanya dirasakan pemerintah daerah, tetapi ikut terasa pada aktivitas ekonomi.

Jadi, ia menggambarkan kondisi sekarang dengan kalimat yang bertahan saja.

“Kita sekarang mengkencangkan ikat pinggang. Pokoknya sekarang bertahan aja.”

Di titik ini, pengalaman sebagai pengusaha dan politisi bertemu dalam bentuk yang berbeda.

Saat menjadi pengusaha, Alwi memiliki keleluasaan mengatur waktunya sendiri. 

Misalnya ia bisa menentukan kapan bekerja dan kapan beristirahat. 

Tanggung jawabnya terutama berada pada perusahaan dan karyawan. Namun sebagai politisi, tanggung jawab itu menyebar.

Ada konstituen yang harus ditemui, janji-janji yang harus diperjuangkan, masyarakat yang datang membawa persoalan, hingga suatu kewajiban berkomunikasi dengan organisasi masyarakat, tokoh masyarakat, maupun aparat penegak hukum.

Ruang untuk memenuhi semuanya semakin terbatas ketika anggaran dipangkas.

Di Balikpapan Barat, salah satu persoalan yang paling sering dibawa warga kepadanya adalah air bersih.

Balikpapan tidak seperti Samarinda atau daerah lain yang relatif mudah mengandalkan sungai sebagai sumber air baku. 

Kota ini mengandalkan sumur dan Waduk Manggar.

Masalahnya, untuk melakukan pengeboran sumur kini dibutuhkan izin dari pemerintah pusat. 

PTMB tidak bisa begitu saja mencari sumber air baru. Sementara permintaan sambungan baru terus ada.

Warga Balikpapan Barat datang meminta bantuan pemasangan sambungan air maupun pipa induk. 

Alwi bisa membawa persoalan itu ke ruang pembahasan, tetapi ada batas yang tidak bisa ia lewati. 

Sumber airnya memang belum cukup.

“Kalau ada orang mau beli kita dengan senang hati, cuma airnya nggak ada,” imbuhnya.

Banjir, ungkapnya, masih terjadi di beberapa titik.

Namun kondisinya sudah jauh berkurang dibandingkan masa sebelumnya.

Untuk pembangunan kota secara umum, Alwi melihat Balikpapan terus berkembang. 

Ia menilai kota itu semakin maju dan nyaman ditinggali. Apalagi pembangunan di bawah kepemimpinan Rahmad Mas’ud berjalan cukup baik.

Tetapi pembangunan kota, baginya, tetap harus berhadapan dengan kebutuhan dasar yang belum selesai. 

Air menjadi salah satunya.

Soal politik setelah masa jabatannya berakhir, Alwi belum memiliki kepastian.

Ia belum tahu apakah akan kembali maju. Alwi hanya menyerahkan keputusan itu kepada masyarakat.

“Kalau dikasih kesempatan dan dipercaya sama masyarakat ya saya maju. Tapi kalau masyarakat tidak mau pilih saya ya saya juga gak bisa paksa.”

“Kan kita ini kan hanya dipilih oleh masyarakat. Kalau dipercaya lanjut lagi. Kalau enggak ya istirahat aja jadi masyarakat biasa,” imbuhnya. 

Alwi mengatakan tantangan saat ini bukan lagi bagaimana membesarkan usaha dengan modal yang pas-pasan.

Yang dihadapinya adalah bagaimana memenuhi harapan masyarakat ketika uang pemerintah daerah justru semakin terbatas.

Kursi Ketua DPRD memberinya kewenangan untuk ikut menentukan kebijakan. 

Namun pengalaman hidupnya menunjukkan bahwa kewenangan tidak selalu berarti bisa memenuhi semua keinginan.

Ada batas anggaran, sumber daya. Dan ada batas bahwa pada akhirnya ia tetap bergantung pada suara masyarakat.

Seperti ketika ia pertama kali masuk politik, keputusan berikutnya pun bukan sepenuhnya berada di tangannya.

Salsa

Exit mobile version