Indeks
Tokoh  

BAGIAN 3 — Idealisme yang Turun dari Meja Gambar ke Ruang Politik

Wahyullah dalam sebuah forum diskusi arsitektur. Di luar proyek dan ruang kelas, ia juga aktif membangun jejaring serta merumuskan gagasan tentang perkembangan kota. (Dok.pribadi)

SIVANA, BALIKPAPAN – Di meja gambar, seorang arsitek terbiasa bekerja dengan garis, ukuran, dan perhitungan. Setiap ruang dirancang sesuai fungsi. Setiap bagian bangunan dipikirkan agar dapat berdiri dan digunakan sebagaimana mestinya.

Namun, pekerjaan tidak selalu berhenti di atas kertas.

Ketika gagasan tentang ruang dan kota dibawa ke politik, persoalannya menjadi lebih rumit. Ada kepentingan warga, keterbatasan anggaran, aturan pemerintah, hingga kepentingan kelompok yang harus dipertemukan.

Situasi itulah yang kini dihadapi Wahyullah Bandung sebagai anggota DPRD Balikpapan periode 2024-2029.

Latar belakangnya sebagai arsitek membuat Wahyullah terbiasa memikirkan ruang, fungsi, dan kebutuhan manusia.

Sementara politik mempertemukannya dengan kepentingan yang lebih luas. Tidak semuanya bisa disusun serapi gambar kerja.

“Meskipun tidak ideal, suatu saat saya perlu membawa pokok-pokok idealisme itu ke dalam ruang politik praktis sarat kepentingan,” tuturnya.

Baginya, merancang arsitektur dan kota memiliki kemiripan dengan menjalankan politik. Keduanya bermula dari gagasan, lalu berhadapan dengan kenyataan.

“Merencanakan arsitektur dan kota juga demikian, penuh dengan pikiran-pikiran tentang idealisme yang khayal dan fantasi, bertemu dengan kenyataan tentang kepentingan rakyat, penguasa, dan pengusaha,” ujarnya.

Kini, gagasan itu tidak lagi hanya berada di ruang kerja seorang arsitek.

Sejak terpilih sebagai anggota DPRD Balikpapan, Wahyullah membawanya ke ruang parlemen.

Ia duduk di Komisi III DPRD Balikpapan, salah satu komisi yang berkaitan dengan persoalan lingkungan dan persampahan.

Menurut Wahyullah, terpilih sebagai anggota dewan bukanlah garis akhir. Justru setelah duduk di parlemen, pekerjaan yang sesungguhnya dimulai.

“Bab satu itu bagaimana kamu bisa duduk. Bab dua adalah apa yang kamu kerjakan setelah duduk di parlemen,” terangnya.

Ia pun memandang proses memperoleh suara dan pekerjaan setelah terpilih sebagai dua hal yang sama penting. Mendapatkan kepercayaan warga merupakan satu pekerjaan. Menjawab kepercayaan itu adalah pekerjaan berikutnya.

“Orang yang berlatar belakang profesi dan akademik itu selalu berpikir di bab dua ini, seakan-akan kita sudah duduk jadi anggota dewan. Padahal harus ada hal yang dituntaskan di proses mencari suara supaya bisa duduk,” lanjut Wahyullah.

Ia mengibaratkannya sebagai sebuah buku yang terdiri atas dua bab.

“Dua-duanya harus dilakukan. Ilmu bab satu, bab dua itu seperti satu buku.”

Politik yang Diukur dari Manfaat

Ia menyakini, politik tidak cukup diukur dari jabatan atau banyaknya kegiatan. Ukurannya adalah manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.

“Kalau saya, politik itu kebermanfaatan. Semakin bermanfaat, semakin politik,” katanya.

Pandangan tersebut ia jalankan melalui sejumlah kegiatan yang bersentuhan langsung dengan warga. Salah satunya lewat program bank sampah.

Ia mengatakan persoalan sampah tidak bisa seluruhnya dibebankan kepada pemerintah. Pengelolaan harus dimulai dari rumah tangga, lingkungan rukun tetangga, hingga kawasan yang lebih luas.

Wahyullah pun mendorong agar setiap RT memiliki bank sampah. Selanjutnya, bank sampah induk dapat dibentuk pada tingkat kelurahan atau kecamatan.

Dengan pola itu, sampah tidak langsung dibawa ke tempat pemrosesan akhir. Sampah dipilah sejak dari sumbernya. Barang yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan, dijual, atau diolah kembali.

Idealnya, sebut Wahyullah, hanya sampah residu yang dibawa ke tempat pembuangan akhir. Jumlahnya sekitar 20-30 persen dari total sampah.

Sementara sisanya masih bisa dimanfaatkan. Sebagian dapat dijual, sebagian diolah, dan sebagian lainnya menjadi kegiatan ekonomi tambahan bagi rumah tangga.

Program bank sampah tersebut telah berjalan sekitar satu tahun. Respons masyarakat, menurut Wahyullah, cukup baik.

Adapun, bank sampah bukan hanya perkara kebersihan. Program itu juga mengubah cara warga melihat benda-benda yang selama ini dianggap tidak berguna.

Sampah memang bisa menjadi persoalan ketika dibuang sembarangan. Namun, melalui pemilahan dan pengelolaan, sampah juga dapat memiliki nilai ekonomi.

Di lingkungan warga, gagasan tersebut dijalankan melalui kebiasaan sederhana. Mulai dari memilah dari rumah, mengumpulkan, lalu mengelola.

Sebanyak 1.000 bibit tanaman dibagikan kepada warga dalam kegiatan Sebaru Fun Run di Perumahan Sepinggan Pratama, Balikpapan, Minggu (30/8/2026). (Sivanamedia)

Dari Lapangan Olahraga hingga Kebun Warga

Kegiatan Wahyullah bersama masyarakat tidak hanya berkaitan dengan lingkungan.

Ia juga mendorong kegiatan olahraga melalui Sebaru Cup, kompetisi sepak bola usia dini, dan turnamen bola voli berdasarkan kelompok umur. Ada pula Sebaru Fun Run yang dibuat untuk mendorong warga berolahraga.

Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan warga. Anak-anak mendapat kesempatan bermain dan berkompetisi. Orang tua berkumpul. Lingkungan pun menjadi lebih hidup.

Selain olahraga, Wahyullah mengembangkan urban farming.

Program itu mendapat respons baik. Sejumlah warga bahkan mulai menjalankannya secara mandiri. Urban farming, ungkap Wahyullah, bukan sekadar menanam sayuran di lahan terbatas.

Kegiatan itu juga berkaitan dengan cara warga memanfaatkan ruang, membangun kebiasaan produktif, dan menciptakan aktivitas bersama di lingkungan tempat tinggal.

Ia percaya, program masyarakat tidak selalu harus dimulai dari pemerintah.

“Harusnya bukan top down, tapi bottom up. Masyarakat sudah punya, tinggal pemerintah membantu dengan regulasi dan mendorong supaya itu bisa dilakukan,” urainya.

Ia berpandangan, pemerintah tidak harus selalu menjadi pihak yang menciptakan seluruh kegiatan.

Banyak inisiatif telah tumbuh di tengah masyarakat. Pemerintah cukup memberikan dukungan, aturan, dan ruang agar kegiatan tersebut berkembang.

Hubungan Wahyullah dengan masyarakat juga tidak baru dimulai setelah ia duduk di DPRD.

Sejak menjabat Ketua LPM Sepinggan Baru pada Februari 2020, ia telah memiliki ruang untuk berinteraksi langsung dengan warga.

Dari sana, ia mengenal lebih dekat persoalan lingkungan dan kebutuhan masyarakat. Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika menjalankan tugas sebagai anggota DPRD.

Wakaf Pengetahuan untuk Masjid dan Pondok

Di luar ruang parlemen, Wahyullah juga menjalankan pekerjaan yang tidak selalu terlihat dalam agenda politik.

Sebagai arsitek, ia membantu sejumlah masjid dan pondok pesantren. Bantuan itu berupa rancangan bangunan, gambar teknis, hingga perencanaan konstruksi.

Pekerjaan tersebut diberikan tanpa memungut biaya.

Ia juga membantu pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung atau PBG serta Sertifikat Laik Fungsi atau SLF. Wahyullah mengamati masih banyak masjid dan pondok pesantren memiliki keterbatasan tenaga ahli.

Akibatnya, bangunan terkadang dikerjakan tanpa gambar teknis yang memadai atau perhitungan konstruksi yang benar. Padahal, bangunan ibadah dan lembaga pendidikan tetap membutuhkan aspek keamanan dan legalitas.

Wahyullah menyebut kegiatan itu sebagai “wakaf pengetahuan”.

Pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman profesional tidak seluruhnya digunakan untuk pekerjaan komersial. Sebagian ia berikan kepada lembaga dan masyarakat yang membutuhkan.

Bagi Wahyullah, keahlian arsitektur juga memiliki ruang pengabdian. Tidak semua pekerjaan harus berakhir pada honorarium. Ada pengetahuan yang bisa dibagikan sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Ia juga membantu merancang sejumlah fasilitas publik, seperti ruang bermain anak dan ruang terbuka hijau.

Di sana, arsitektur tidak hanya berbicara tentang bentuk bangunan. Ia berkaitan dengan kebutuhan warga untuk bermain, berkumpul, beristirahat, dan menggunakan ruang kota dengan lebih layak.

Wahyullah saat menjadi pembicara dalam kegiatan Lakara 1.0 bertajuk “Mempersiapkan Arsitek Masa Depan” di Program Studi Arsitek Universitas Mulawarman, Samarinda. (Dok.pribadi)

Pengalaman sebagai arsitek dan konsultan membuat Wahyullah terbiasa bekerja dengan lingkaran yang relatif terbatas. Ada klien, staf, pimpinan perusahaan, pemerintah, atau pemilik proyek.

Dunia politik mempertemukannya dengan masyarakat yang lebih beragam.

Ada warga dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan kepentingan yang berbeda. Mereka tidak selalu datang dengan kebutuhan yang sama. Bahkan, kepentingan satu kelompok bisa bertabrakan dengan kelompok lainnya.

Persoalan pedagang kaki lima, misalnya, tidak cukup dilihat dari sisi ketertiban kota. Di balik lapak dan gerobak, ada keluarga yang menggantungkan penghasilan.

Namun, ruang publik juga tetap membutuhkan aturan agar tidak berubah menjadi kawasan yang semrawut dan mengganggu pengguna lainnya.

Wahyullah mencoba mencari titik temu melalui gagasan ruang publik yang dapat digunakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah serta pedagang kaki lima, tetapi tetap tertata.

Menurutnya, kota harus menyediakan ruang bagi aktivitas ekonomi warga. Ketertiban dan penghidupan tidak seharusnya selalu ditempatkan sebagai dua hal yang berlawanan.

Gagasan itu berangkat dari keyakinan bahwa warga tidak boleh diperlakukan hanya sebagai objek kebijakan.

Wahyullah menyebutnya sebagai politik yang memanusiakan. Hubungan antara pejabat dan warga, baginya, perlu dibangun melalui sikap saling mendengar dan memahami.

Warga bukan hanya pihak yang menerima keputusan. Mereka juga perlu diajak berbicara, didengar kebutuhannya, dan dilibatkan dalam mencari jalan keluar.

“Dengan sesama sahabat terbangun saling memahami dan saling mengerti apa-apa yang diinginkan atau yang tidak diinginkannya,” demikian gagasan yang ia sampaikan.

Kemudian, Wahyullah mengatakan keberhasilan politik dapat dilihat dari luasnya manfaat yang diterima masyarakat.

“Makin banyak yang menikmati, makin berhasil politik itu,” imbuhnya.

Arsitek Kota di Ruang Parlemen

Latar belakang arsitektur membuat Wahyullah melihat persoalan Balikpapan sebagai bagian yang saling berhubungan.

Banjir, transportasi, ruang publik, lingkungan, dan permukiman tidak berdiri sendiri. Semuanya berkaitan dengan cara sebuah kota tumbuh dan digunakan oleh warganya.

Pembangunan, menurutnya, tidak cukup hanya mengejar proyek fisik. Ada hubungan antarruang, mobilitas warga, kebutuhan masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan yang juga perlu diperhatikan.

Sebagai anggota DPRD, ia berharap dapat memberikan masukan kepada pemerintah kota mengenai arah perkembangan arsitektur dan masa depan Balikpapan.

Pengalaman sebagai arsitek membuatnya terbiasa membaca ruang. Pengalaman sebagai pengusaha membuatnya memahami risiko. Sementara politik membawanya berhadapan dengan kepentingan masyarakat yang lebih beragam.

Semua pengalaman itu kini bertemu dalam pekerjaan yang dijalaninya.

Wahyullah memahami bahwa membawa idealisme ke ruang politik bukan perkara mudah.

Di dunia arsitektur, gagasan dapat disusun melalui konsep, gambar, dan perhitungan. Di ruang politik, gagasan harus berhadapan dengan anggaran, aturan, kepentingan kelompok, keputusan pemerintah, dan kompromi.

Ia tidak menutup mata bahwa politik sarat kepentingan. Namun, kepentingan tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan gagasan tentang manfaat bagi masyarakat.

Ia menyakini, keputusan yang baik adalah keputusan yang mampu mengakomodasi sebanyak mungkin kepentingan dan memberikan manfaat seluas-luasnya.

Karena nya, warga tidak cukup dilihat sebagai pemilih yang datang ketika pemilu berlangsung. Setelah pemilu selesai, hubungan dengan warga tetap harus dijaga.

Wahyullah sendiri tidak ingin terlalu jauh memastikan arah politiknya ke depan. Ia memilih menjalani proses dan melihat ke mana perjalanan membawanya.

Ia menyampaikan politik dipengaruhi banyak hal. Mulai dari popularitas, elektabilitas, kehendak masyarakat, dan kehendak Tuhan.

“Tidak semuanya berada dalam kendali seseorang. Yang bisa dilakukan adalah menjalani pekerjaan dengan sungguh-sungguh selama masih diberi kesempatan,” tandasnya.

Di usia sekitar 50 tahun, Wahyullah merasa masih memiliki pengetahuan dan tenaga yang dapat digunakan untuk masyarakat.

Ia telah melewati dunia pendidikan, pekerjaan profesional, usaha, organisasi, serta pemilu yang tidak selalu berakhir dengan kemenangan.

Kini, semua pengalaman itu membawanya ke ruang parlemen.

Di sana, gagasan tentang kota tidak lagi berhenti sebagai gambar. Ia harus dibicarakan dalam kebijakan, dipertemukan dengan anggaran, dan diuji melalui kebutuhan warga.

Sementara di luar gedung dewan, gagasan itu berjalan melalui bank sampah, kegiatan olahraga, urban farming, ruang publik, serta bantuan teknis untuk masjid dan pondok pesantren.

Wahyullah mungkin tidak lagi menghabiskan seluruh waktunya di depan meja gambar.

Kendati demikian, cara berpikir seorang arsitek masih ia bawa dalam pekerjaan politiknya dengan melihat kebutuhan, menyusun ruang, dan mencari bentuk yang bisa digunakan sebanyak mungkin orang.

Satu hal yang sangat penting bagi Wahyullah, pekerjaan setelah memperoleh kursi parlemen adalah memastikan kepercayaan warga tidak berhenti sebagai hasil pemilu.

Salsa

Exit mobile version