Tokoh  

Lebih Dekat dengan Lurah Telagasari Satya Nugraha, Perempuan Muda dari Kaltara

Lurah Telagasari Satya Nugraha
Lurah Telagasari Satya Nugraha. (Sivanamedia)

SIVANA, BALIKPAPAN – Siapa sangka, kelurahan Telagasari di Kecamatan Balikpapan Kota dipimpin perempuan muda nan anggun jelita.

Usianya baru menginjak Kepala tiga. Namanya, Satya Nugraha, S. STP. Alumnus Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor, Jawa Barat, angkatan ke-17.

Ia dilahirkan di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara tahun 1987. Masa kecil dan sekolahnya dihabiskan di Kaltara.

Kemudian masuk ke STPDN tahun 2005 dan lulus tahun 2009. Ia meraih gelar Sarjana Sains Terapan Pemerintahan alias S.STP.

“Dari 900 mahasiswa angkatan saya, sekitar 200 an mahasiswa asal Papua. Teman-teman saya berasal dari seluruh Indonesia,” ujarnya.

Lantaran itu, Satya mengaku bisa meniru logat dan bahasa dari beragam daerah. Dialek Papua, Manado sampai Sulawesi.

Ia pun menirukannya dengan fasih.

Tapi, kalau berbincang agak lama dengannya, sekilas Satya justru tampak mahir menggunakan dialek Sunda.

“Orangtua saya Jawa, tapi saya lahir di Bulungan Kaltara. Kalau kelihatannya bahasa saya kayak orang Sunda, mungkin karena kuliahnya dulu di Jatinangor Jawa Barat,” terang Satya.

Di ruang kerjanya yang tertata apik, pada Rabu 9 September 2026 siang, ia berbagi banyak hal.

Satya didapuk jadi Lurah Telagasari Kecamatan Balikpapan Kota terbilang baru. Belum sampai setahun.

“Oktober bulan depan, pas setahun saya diangkat jadi lurah,” ujar Satya.

Satya berkisah, ia menikmati perannya sebagai lurah. Meski waktunya lebih padat dan kerjanya melelahkan.

Jam kerjanya bisa dibilang 24/7 alias harus selalu standby selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu.

Berbeda dengan penugasan sebelumnya.

Awal menjejak Kota Minyak, Satya ditugaskan di Setda Pemkot di bidang organisasi. Lalu dipindah mengurus pengadaan barang dan jasa.

Selanjutnya pindah lagi ke Dinas Pendapatan Daerah, saat ini berganti nama menjadi Badan Pengelola Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Setelah beberapa tahun tugas di sana, ia diangkat menjadi Lurah Telagasari.

“Masing-masing penugasan selama empat tahun,” ujarnya.

Kalau di dinas atau Organisasi Perangkat Daerah (OPD), ia lebih sering berkutat pada urusan administratif dan regulasi.

Berbeda saat menjadi lurah, yang lebih banyak dihabiskan dengan berinteraksi langsung dengan masyarakat.

“Kalau di OPD hari Sabtu-Minggu kan kita bisa santai di rumah. Sekarang lebih banyak dihabiskan ketemu warga, tapi justru di sini enjoynya,” imbuhnya.

Ia sering turun ke bawah. Berinteraksi langsung dengan beragam karakter masyarakat.

Sehari-harinya, amanah sebagai lurah lebih banyak dihabiskan untuk pendataan awal, pendampingan, penyaluran, sampai laporan akhir.

“Apapun program pemerintah, lurah pasti terlibat di dalamnya,” papar Satya.

Karena itu, Satya terlihat rajin keliling wilayah di Kelurahan Telagasari.

Sampai-sampai ia hafal betul karakteristik wilayahnya.

“Warga RT 33 membudidayakan anggur. Di RT 24 membudidayakan terong, tomat, cabe, dan tanaman-tanaman inflasi,” jelasnya.

Di RT 45 lebih lengkap lagi. Warga di sana gencar melakukan penanaman buah, membudidayakan lele, dan beragam jenis ketahanan pangan lain.

Hal itu diamini Gandung Kiswanto, Ketua LPM Telagasari yang juga Ketua RT 45.

Pada kesempatan tersebut, Gandung ikut mendampingi Lurah Satya.

Satya kemudian bercerita karakteristik wilayah di RT 36. Di sana menggencarkan tanaman hidroponik yang hasilnya sudah bisa masuk ke minimarket.

“Hasil pangan mereka sudah masuk ke minimarket Yova. Kapan-kapan kita main ke RT 36 ya,” ajak Satya.

Lantas apa tantangan lurah yang paling berat?

Satya terdiam, sejenak berpikir. Lantas mengatakan pada dasarnya tidak ada.

Kata Satya, selama melayani warga dengan hati, bersikap humanis, semua tantangan bisa diselesaikan.

“Yang saya takutkan kalau musim hujan. Kenapa? Karena di sini wilayah perbukitan , saya takut warga tertimpa musibah longsor,” ujar Satya.

Menurutnya topografi perumahan di Telagasari rentan longsor. Bahkan ada rumah yang dindingnya perbukitan.

Kelurahan Telagasari memang dikenal sebagai wilayah yang punya topografi perbukitan.

Karakteristiknya khas, permukaannya memiliki elevasi atau ketinggian lebih tinggi dibanding daerah sekitarnya.

Banyak perumahan yang dibangun di dinding-dinding perbukitan.

“Bencana longsor masih menjadi salah satu ancaman di sini,” jelasnya.

Menukil catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Balikpapan, di Kelurahan Telagasari memang beberapa kali terjadi longsor.

Misalnya pada Juni 2025 longsor terjadi di RT 43, kemudian pada November 2025 kejadian serupa menimpa wilayah RT 25.

Kala itu, longsor mengancam bangunan mushola serta rumah warga di bawah tebing.

Kasus yang menjadi perhatian adanya pergerakan tanah yang berdampak di sekitar Jalan Tanjungpura RT 25, dekat Mushola Sirotul Mustaqim.

Kondisi kontur tanah yang curam dan curah hujan tinggi memicu potensi longsor susulan. Ini mengancam pemukiman di bawah tebing.

“Makanya suka takut kalau musim hujan ada warga saya yang tertimpa bencana longsor.”

Meski begitu, ia tetap optimistis membawa Telagasari lebih baik dari sebelumnya.

Dengan keramahan warga di sana, Satya meyakini seluruh program pemerintah bisa dilakukan dengan baik.

Ia pun terus berkomitmen, berupaya melayani masyarakat agar mampu memberi banyak manfaat.

Sekaligus menunaikan tugas dan tanggungjawabnya secara profesional.

Menjalani amanah sepenuh hati, dengan terus merangkul setiap warga Telagasari.

Taufik Gopek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *