Indeks

Pasokan Pangan Melimpah Tekan Inflasi di Balikpapan, Deflasi Muncul di Januari 2026

0-0x0-0-0#

SIVANA, BALIKPAPAN – Stabilnya pasokan bahan pangan menjadi faktor utama meredanya tekanan inflasi di Kota Balikpapan pada awal 2026.

Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat mengalami deflasi sebesar 0,11 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Januari 2026, setelah sejumlah komoditas hortikultura mengalami penurunan harga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan turunnya harga pangan terutama dipicu oleh meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi yang mulai memasuki periode panen.

“Pasokan cabai rawit dan cabai merah meningkat dari wilayah produksi di Jawa dan Sulawesi. Kondisi ini membuat harga di pasar Balikpapan terkoreksi dan memberi kontribusi besar terhadap deflasi Januari,” ujar Robi.

Selain komoditas hortikultura, deflasi juga diperkuat oleh penurunan tarif angkutan udara seiring normalisasi mobilitas masyarakat pasca libur Natal dan Tahun Baru.

Adapun, kelompok transportasi tercatat menjadi penekan inflasi terbesar dengan andil minus 0,28 persen (mtm), disusul penurunan harga bensin yang terjadi setelah kebijakan penyesuaian harga Pertamax sejak awal Januari 2026.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat sebesar 3,26 persen (year on year/yoy), masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen. Robi menilai terjaganya distribusi pangan menjadi faktor kunci stabilitas harga di awal tahun.

“Ketersediaan pasokan yang lancar membuat tekanan harga relatif terkendali, terutama pada kelompok makanan. Ini menunjukkan peran distribusi dan produksi sangat menentukan pergerakan inflasi daerah,” jelasnya.

Meski demikian, sejumlah komoditas tetap memberi tekanan inflasi, terutama emas perhiasan dan daging ayam ras.

Harga emas meningkat mengikuti tren kenaikan harga emas global, sementara daging ayam ras naik akibat berkurangnya pasokan dari Jawa dan wilayah sekitar Balikpapan di tengah permintaan yang masih kuat.

Bank Indonesia mencatat stabilitas pangan akan terus menjadi fokus pengendalian inflasi ke depan, khususnya menjelang periode permintaan musiman.

Exit mobile version