SIVANA, BALIKPAPAN – Kalau mencari Aguslimin di Gunung Guntur, jangan buru-buru menyebut nama lengkapnya. Coba panggil Ateng.
Nama itu sudah lebih dulu dikenal warga, jauh sebelum ia duduk di kursi DPRD Kota Balikpapan.
Gunung Guntur berada di kawasan Balikpapan Tengah, dengan permukiman yang membentang di wilayah perbukitan.
Jalan-jalannya terhubung dengan sejumlah kawasan di sekitarnya, termasuk arah Jalan Letjen S. Parman, Jalan D.I. Panjaitan, hingga Gunung Malang. Di lingkungan yang sebagian jalannya menanjak dan padat penduduk itulah Ateng tumbuh.
Bagi warga setempat, Aguslimin bukan pendatang baru yang baru mengenal lingkungan ketika menjadi calon anggota legislatif.
Ia bersekolah, berteman, dan menjalani masa muda di kawasan tersebut.
Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap kampung yang ingin ia lihat berubah.
Lahir pada 26 Agustus 1973, Aguslimin merupakan anak ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh pelabuhan, sedangkan ibunya mengurus rumah tangga.
Ia bersekolah di kawasan Gunung Guntur, mulai dari SD 071 hingga SMA Kosgoro.
Masa kecilnya ia ceritakan dengan sederhana. Ia pernah menggemari softball, sebelum akhirnya meninggalkan olahraga tersebut ketika usianya memasuki sekitar 35 tahun.
Selepas sekolah, Aguslimin menjalani pekerjaan dan pergaulan yang membawanya mengenal dunia politik.
Usianya sekitar 22 tahun ketika mulai terlibat dalam aktivitas tersebut.
Salah satu sosok yang disebutnya berperan dalam perjalanan awalnya ialah Bang Syarif Andong. Sosok tersebut turut mengenalkan dan mengajarinya berbagai hal dalam dunia politik.
Aguslimin juga pernah menjadi Ketua MPG di tingkat kecamatan. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Pengurus Tingkat Kecamatan (PTK) Partai Golkar Kecamatan Balikpapan Tengah, Kota Balikpapan.
Perjalanan politik itu tidak langsung membawanya ke kursi legislatif. Ada proses panjang, pergaulan, serta sejumlah pengalaman yang ia jalani sebelum akhirnya berhasil menjadi anggota DPRD Kota Balikpapan melalui Pemilu 2024.
Aguslimin tidak menutup mata terhadap masa lalu Gunung Guntur.
Ia mengingat kawasan tersebut sebagai lingkungan yang pernah memiliki kehidupan sosial cukup keras.
Namun, cerita itu tidak ia sampaikan untuk merendahkan warga atau kampungnya sendiri.
Justru dari pengalaman tersebut, muncul keinginan untuk melihat perubahan.
“Saya sekarang ini hanya berpikir bagaimana cara merubah imagenya orang, merubah kampung-kampung saya,” ucap Aguslimin saat berbincang bersama Sivanamedia, pada Kamis (24/9/2026).
Keinginannya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik kawasan.
Ia juga ingin masyarakat, terutama anak muda, memiliki pandangan yang lebih baik mengenai pilihan hidup dan lingkungan pergaulan.
Aguslimin mengaku pernah menjalani kehidupan jalanan selama sekitar 25 tahun.
Pengalaman tersebut membuatnya memilih berbicara berdasarkan apa yang pernah ia alami, bukan sekadar memberikan larangan.
Ia bahkan bercerita masih sering berkumpul di tempat orang minum.
Dalam situasi tersebut, ia menyampaikan nasihat dengan cara yang menurutnya lebih mudah diterima.
“Dari kamu nantinya, bukan dari saya. Yang nanggung akibat nanti kamu tua, kamu sendiri,” ujarnya, mengingat percakapan yang ia lakukan dengan orang-orang di lingkungannya.
Menurut Aguslimin, seseorang tetap harus memahami konsekuensi dari pilihan hidupnya.
Maka itu, ia tidak ingin tampil seolah-olah paling tahu atau paling benar ketika berbicara dengan orang-orang yang memiliki pengalaman pergaulan serupa.
Aguslimin pernah mencalonkan diri pada pemilu sebelumnya, termasuk pada 2014 dan 2019, tetapi belum berhasil. Pada Pemilu 2024, ia kembali mencoba.
Dorongan dari sahabat menjadi salah satu hal yang membuatnya terus berjalan.
Ketika masa kampanye tiba, ia memilih mendatangi keluarga, teman sekolah, dan kawan lama secara langsung.
“Saya dikenal di sana bukan nama Aguslimin. Tapi Ateng,” tuturnya.
Nama panggilan tersebut menjadi bagian dari hubungan yang telah dibangun sejak lama.
Ia tidak datang sebagai orang yang baru ingin mengenal warga, melainkan sebagai seseorang yang pernah tumbuh dan bergaul di lingkungan tersebut.
Dari pertemuan dengan warga, ia mendengar berbagai harapan, termasuk keinginan agar kondisi kampung mendapat perhatian. Jalan, penerangan, dan kebutuhan lingkungan menjadi beberapa persoalan yang dibicarakan.
Kini, Aguslimin duduk sebagai anggota DPRD Kota Balikpapan dan tergabung dalam Komisi III, yang membidangi pembangunan, lingkungan hidup, dan perhubungan.
Posisi tersebut berkaitan dengan sejumlah persoalan yang juga menjadi perhatiannya di kawasan tempat ia tumbuh.
Setelah terpilih menjadi anggota DPRD, Aguslimin membawa sebagian aspirasi warga ke dalam pembahasan pembangunan.
Ia menyebut sejumlah usulan, mulai dari jalan lingkungan, perbaikan jalan raya, hingga penerangan.
Ia mengungkapkan, ada bagian kawasan Gunung Guntur yang telah cukup lama membutuhkan perhatian.
“Lampunya harus diganti kan. Puluhan tahun kan dia nggak pernah diperhatikan di situ,” ujarnya.
Bagi kawasan permukiman dengan kontur berbukit dan sejumlah akses jalan menanjak, kondisi jalan serta penerangan menjadi bagian dari kebutuhan warga sehari-hari.
Aguslimin ingin kawasan tersebut lebih tertata dan memiliki wajah yang lebih baik.
Namun, ia menyadari bahwa pembenahan harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran. Tidak semua usulan dapat direalisasikan dalam waktu bersamaan.
“Yang penting ada berbuat di situ aja,” katanya.
Ia ingin memulai langkah tersebut dari lingkungan yang paling dikenalnya. Komunikasi dengan para ketua RT menjadi salah satu cara untuk mengetahui persoalan dan kebutuhan warga.
Dalam wawancara, Aguslimin menyebut kawasan Gunung Guntur hingga Beler terdiri dari sekitar 27 RT.
Kemudian, baginya, informasi dari pengurus lingkungan diperlukan agar kebutuhan yang ada dapat disampaikan dan dikoordinasikan sesuai prioritas.
Tidak Mau Menjadi Orang Lain karena Jabatan
Ketika membahas posisinya sebagai anggota dewan, Aguslimin mengatakan tidak ingin terlalu berjarak dengan warga.
Ia mengaku tetap menjalani pergaulan seperti sebelumnya.
“Saya enggak pernah membanggakan diri ke bawah. Saya orang anggota dewan di DPRD, saya tetap si A,” tekannya.
Jabatan tidak membuatnya merasa harus menunjukkan diri sebagai seseorang yang berbeda.
Ia masih berkomunikasi dengan masyarakat dan tetap menjalani aktivitas yang sebelumnya sudah menjadi bagian dari kesehariannya, termasuk kegiatan di masjid.
Meski demikian, menjadi anggota dewan tetap menghadirkan pengalaman baru.
Ia mengakui masih banyak hal yang harus dipelajari, terutama ketika berhadapan dengan persoalan masyarakat yang beragam.
Pengalaman hidup dan hubungan dengan warga menjadi bagian dari proses tersebut.
Ia tidak ingin meninggalkan cara bergaul yang telah membentuk dirinya sejak lama.
Di antara cerita tentang politik dan Gunung Guntur, Aguslimin juga berbicara mengenai keluarga.
Sebagai anak ketiga dari 11 bersaudara, ia memiliki tanggung jawab terhadap adik-adiknya. Dua kakaknya telah meninggal dunia.
Ketika ditanya mengenai nasihat yang masih diingat dari ibunya, Aguslimin tidak berpikir panjang.
“Jagain saudara.”
Hanya dua kata, tetapi pesan tersebut terus melekat dalam ingatannya.
Ia menyampaikan bahwa sebagai saudara yang lebih tua, ada tanggung jawab untuk menjaga dan memperhatikan adik-adiknya.
Pesan itu menjadi bagian dari kehidupan Aguslimin yang tidak selalu terlihat ketika ia menjalankan aktivitas politik.
Di tengah pembicaraan tentang pembangunan dan masyarakat, keluarga tetap menjadi tanggung jawab pribadinya.
Menjelang akhir wawancara, Aguslimin ditanya mengenai target yang ingin dicapai dalam kehidupan.
Ia mengatakan tidak memiliki banyak hal yang ingin dikejar secara khusus. Keinginannya lebih sederhana, yakni tetap dapat berbuat bagi masyarakat, terutama lingkungan yang telah membesarkannya.
“Saya biasa-biasa aja mbak. Enggak ada yang kukejar. Yang penting aku sudah berbuat di situ aja,” tandasnya.
Ia tidak menyusun hidupnya semata-mata berdasarkan daftar pencapaian. Jika ada kesempatan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat, ia ingin menjalaninya.
Bagi Aguslimin, menjadi anggota DPRD bukan alasan untuk menjaga jarak dari lingkungan yang telah membesarkannya.
Ia ingin tetap dikenal sebagai Ateng, nama yang sudah melekat jauh sebelum dirinya terjun ke dunia politik.
Salsa












