SIVANA, BALIKPAPAN – Bedu punya masalah besar. Beruang madu yang rajin menanam pohon itu justru mendapati rumahnya semakin kehilangan pepohonan. Hutan yang selama ini menjadi tempatnya mencari makan perlahan menyusut. Bedu mulai gelisah. Haruskah ia ikut merantau seperti manusia yang meninggalkan kampung halaman?
Bedu merupakan tokoh utama dalam buku cerita bergambar Hutan Hilang, Bedu Bimbang, karya Kanehaya Kamil Arezi, yang akrab disapa Kane.
Di usia sembilan tahun, Kane menuangkan imajinasinya tentang beruang madu dan hutan yang kian menyusut melalui cerita yang dibalut humor dan ilustrasi buatannya sendiri.
Buku keduanya ini dapat diakses publik melalui platform BukuBuku by me di byme.bookabook.id.
Melalui Bedu, Kane mengajak pembaca melihat persoalan kehilangan hutan dari sudut pandang satwa yang semakin terdesak oleh perubahan lingkungan.
Ada satu bagian yang paling disukai Kane, yakni ketika Bedu mengaku sebagai saudara jauh Winnie the Pooh, tokoh beruang kuning yang terkenal itu.
Ekspresi Bedu saat mengaku memiliki hubungan kekerabatan dengan karakter tersebut menjadi salah satu bagian yang dianggap Kane paling lucu.
Namun, di balik kelucuan itu, terselip kegelisahan yang tidak sederhana.
Kane melihat semakin banyak hutan dibuka untuk berbagai kepentingan, mulai dari penjualan kayu, industri kertas dan tisu, pertambangan, hingga perkebunan kelapa sawit.
Padahal, bagi beruang madu, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan tempat tinggal sekaligus sumber kehidupan.
Jika menjadi Bedu, Kane punya cara sendiri untuk menghadapi persoalan itu. Ia tetap ingin makan banyak, sebab biji-bijian dari makanannya bisa disebarkan agar tumbuh menjadi pohon baru.
Ia bahkan membayangkan Bedu mengambil kayu yang sudah ditebang, menggunakan pewarna alami, lalu menuliskan sebuah peringatan.
“JANGAN TEBANG POHON-POHON INI NANTI BEDU CAKAR!”

Begitulah cara Kane membayangkan seekor beruang madu melindungi rumahnya. Sedikit mengancam, tetapi tetap menggemaskan.
Bedu mungkin tidak punya kekuatan untuk menghentikan alat berat atau menentukan izin pembukaan lahan.
Meski demikian, melalui imajinasi Kane, ia punya cara untuk menyampaikan protes kepada manusia.
Ketertarikan Kane pada menggambar sudah terlihat sejak kecil.
Renata, ibunya, melihat potensi tersebut dari kebiasaan Kane membuat gambar dan menghabiskan waktu melihat berbagai konten di media sosial.
Ia kemudian mengenal platform BukuBuku, yang menyediakan kesempatan bagi anak-anak untuk membuat dan menerbitkan buku sendiri.
Renata mencoba mengajak Kane mengikuti proses tersebut. Ternyata, Kane menyambutnya dengan antusias. Dari sana, keduanya mulai membangun cerita, menggali ide, dan menyusun kerangka buku.
Renata membantu merapikan alur dan mengembangkan gagasan, tetapi tidak mengambil alih seluruh keputusan kreatif.
Kane tetap memiliki ruang untuk menentukan cerita, menambahkan ide, serta mengembangkan tokoh-tokohnya.
Buku pertamanya mengangkat kisah jerapah. Untuk menyusun cerita, Kane melakukan riset mengenai kehidupan satwa tersebut, mulai dari bentuk leher hingga makanannya.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian dituangkan ke dalam gambar dan narasi.
Karya pertamanya berhasil terpilih menjadi salah satu dari 10 buku dari sekitar 1.900 karya yang diikutsertakan. Buku tersebut kemudian dipamerkan sebagai koleksi tetap di perpustakaan di Jakarta.
Kane juga meraih penghargaan kategori humor dalam ajang Karyaraya.
Renata mengungkapkan, pencapaian itu menjadi pengalaman yang memperlihatkan bagaimana kegemaran anaknya dapat berkembang ketika diberi kesempatan.
Kane tidak hanya menghasilkan gambar, tetapi juga belajar membangun cerita, melakukan riset, dan menyampaikan gagasannya kepada pembaca.
Ketika Hutan Menjadi Cerita
Dalam proses pembuatan buku kedua, Kane kembali mengangkat kisah satwa. Kali ini, tokohnya adalah beruang madu, hewan yang lekat dengan hutan Kalimantan.
Gagasan tersebut bermula dari tema yang ditentukan penyelenggara, yakni mengangkat kebaikan di tengah berbagai persoalan yang terjadi di sekitar.
Renata dan Kane berdiskusi tentang hal-hal yang mereka lihat, mulai dari perang hingga bencana.
Akan tetapi, Kane pada dasarnya tidak perlu mencari cerita terlalu jauh. Ia menyukai hewan, sementara persoalan hutan dan satwa liar juga dekat dengan lingkungan tempat mereka tinggal.
Kane mulai mencari tahu tentang beruang madu, habitatnya, serta ancaman yang dihadapi.
Dari proses itu, lahirlah Bedu, beruang madu yang gemar menanam pohon, tetapi harus menghadapi kenyataan bahwa pepohonan di sekitarnya semakin berkurang.
Renata turut mendampingi proses tersebut, termasuk menjaga agar cerita tetap memiliki unsur humor.
Meski mengangkat persoalan lingkungan yang serius, buku ini tetap mempertahankan cara bertutur yang dekat dengan dunia anak-anak.
Bedu boleh saja menghadapi persoalan besar, tetapi ia tetap bisa tampil jenaka.
Bahkan, dalam imajinasi Kane, beruang madu itu punya cara sendiri untuk menyampaikan protes. Yakni dengan mengancam akan mencakar siapa pun yang menebang pohon.
Kane sendiri beranggapan, cerita tersebut bukan semata-mata tentang seekor beruang yang kehilangan tempat tinggal.
Ada pesan tentang bagaimana manusia memperlakukan alam dan bagaimana kehidupan satwa ikut terdampak oleh perubahan fungsi hutan.
Ibu yang Memberi Ruang
Di balik buku yang lahir dari imajinasi Kane, ada peran Renata yang tidak hanya menjadi ibu, namun ada pendamping proses kreatif.
Ia membantu anaknya menyusun ide tanpa menghilangkan kebebasan untuk bereksplorasi.
Renata melihat perubahan pada Kane setelah melalui dua proses pembuatan buku. Salah satunya adalah tumbuhnya rasa percaya diri.
Kane semakin berani menyampaikan ide dan mulai memiliki lebih banyak gagasan untuk dikembangkan.
“Percaya diri bahwa ternyata bisa. Terus semakin banyak ide yang keluar,” ujar Renata saat berbincang dengan Sivanamedia.
Renata mengaku, pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa anak perlu diberi kesempatan mencoba berbagai kegiatan positif.
Kemudian, Renata menuturkan, orang tua tidak selalu bisa mengetahui sejak awal kemampuan apa yang dimiliki anak.
Maka itu, memberi ruang untuk bereksperimen menjadi salah satu cara menemukan potensi yang mungkin selama ini tersembunyi.
“Kita enggak pernah tahu dia itu sebenarnya punya potensi apa. Makanya dicobain semua hal positif, kita cari dan gali potensinya,” ungkapnya.
Menurutnya, mendampingi Kane bukan berarti menentukan seluruh arah kreativitas anaknya.
Ia justru berusaha memberikan kesempatan kepada Kane untuk mengambil keputusan, mengembangkan gagasan, dan menemukan caranya sendiri dalam berkarya.
Di usia sembilan tahun, Kane sudah punya cara sendiri untuk membicarakan persoalan yang lebih besar daripada dunianya.
Ia memilih beruang madu, memberinya nama Bedu, lalu membiarkannya bercerita tentang hutan yang semakin kehilangan pohon.
Bedu mungkin belum bisa menghentikan penebangan hutan. Namun, dalam cerita Kane, ia tidak tinggal diam. Ia tetap menanam pohon, menyebarkan biji, bahkan menyiapkan peringatan bagi siapa saja yang hendak menebang rumahnya.
Kane pun punya cara serupa untuk menyampaikan kegelisahannya. Bukan dengan mencakar, melainkan melalui gambar dan cerita yang bisa dibaca siapa saja.
Dari imajinasi seorang anak, Bedu menjadi lebih dari sekadar tokoh beruang madu. Ia membawa pesan tentang rumah yang semakin menyusut dan kehidupan yang bergantung pada hutan.
Sebuah cerita jenaka yang menyisakan pertanyaan sederhana, bahwa jika hutan terus hilang, ke mana satwa-satwa itu harus pergi?
Salsa












