Wahyullah Bicara Konsep Taman Kota: Lima Unsur yang Dibutuhkan Warga

Warga mengabadikan momen di bawah pohon tabebuya yang tengah bermekaran di kawasan Gunung Malang, Balikpapan. (Sivanamedia)

SIVANA, BALIKPAPAN – Tabebuya tengah bermekaran di sejumlah ruas jalan Balikpapan. Bunga berwarna putih, merah muda hingga kuning itu belakangan ramai menarik perhatian warga dan menambah warna pada lanskap sejumlah kawasan perkotaan.

Tabebuya sendiri bukan tanaman baru di Balikpapan. Pada 2020, keberadaan tabebuya kuning yang telah lama ditanam di kawasan Gunung Sari sudah diberitakan.

Setahun kemudian, Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Balikpapan menyebut tabebuya pink dan kuning termasuk jenis tanaman yang dibibitkan untuk penghijauan kota.

Pembibitan tersebut telah dilakukan sejak 2009. Penanaman tabebuya juga muncul dalam sejumlah program penghijauan berikutnya.

Pada 2023, tabebuya termasuk dalam sekitar 1.500 pohon yang ditanam dalam kegiatan penghijauan Polda Kaltim.

Kemudian pada 2024, sekitar 1.300 pohon berbagai jenis, termasuk tabebuya, ditanam di kawasan olahraga terpadu Balikpapan.

Terbaru, Pemerintah Kota Balikpapan kembali memasukkan tabebuya dalam Gerakan Menanam Bersatu pada 23 Agustus 2026.

Sebanyak 4.200 bibit pohon ditanam di sejumlah titik ruang terbuka kota, dengan jenis yang antara lain terdiri dari trembesi, ketapang kencana, tabebuya dan tanaman peneduh lainnya.

Di tengah penghijauan tersebut, Anggota Komisi III DPRD Balikpapan Wahyullah Bandung berbicara mengenai konsep ruang terbuka publik.

Baginya, taman kota perlu dirancang dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat yang menggunakannya, termasuk ketersediaan prasarana pendukung.

“Prasarana juga harus dibangun. Masyarakat yang datang menikmati ruang terbuka tentu membutuhkan tempat untuk duduk. Kalau tidak berjalan kaki, mereka harus duduk di mana?” kata Wahyullah, pada Senin (28/9/2026).

Ia mengatakan kebutuhan tersebut semestinya sudah dipikirkan sejak tahap perencanaan.

Ruang terbuka harus memberikan pilihan bagi masyarakat, baik untuk duduk, berjalan, berkumpul maupun beraktivitas bersama keluarga.

Wahyullah juga menyoroti penataan taman yang menurutnya cenderung dipenuhi berbagai aksesori.

Padahal, kebutuhan dasar masyarakat di ruang terbuka tidak harus selalu diwujudkan melalui banyak ornamen.

“Taman-taman kita itu terlalu banyak diberikan aksesori. Padahal, yang dibutuhkan masyarakat sebenarnya sederhana,” tuturnya.

Salah satu elemen utama yang disebut Wahyullah adalah pohon sebagai tempat berteduh.

Meski demikian, keberadaan tanaman juga perlu ditata agar tidak menghilangkan ruang terbuka yang dapat digunakan masyarakat.

Ia kemudian mencontohkan konsep ruang publik yang menurutnya menarik untuk diperhatikan, salah satunya Tebet Eco Park di Jakarta Selatan.

Tebet Eco Park merupakan ruang terbuka hijau seluas sekitar 7,3 hektare yang menggabungkan fungsi ekologi, sosial, edukasi dan rekreasi.

Taman tersebut memiliki sejumlah zona, termasuk Community Lawn, Forest Buffer, Children Playground, Community Garden dan Wetland Boardwalk.

Community Lawn menjadi salah satu area terbuka untuk berkumpul dan melakukan berbagai aktivitas masyarakat.

Konsep ruang yang terbuka tersebut sejalan dengan pandangan Wahyullah mengenai taman publik.

“Kalau ruang publik itu seluas mungkin dan selapang mungkin. Kalau perlu anak-anak bisa berlari di situ tanpa halangan,” sebut Wahyullah.

Menurutnya, konsep taman publik juga berbeda dengan taman pribadi di rumah.

Ia menjelaskan bahwa ruang publik memiliki pengguna yang lebih beragam, sehingga desainnya perlu mempertimbangkan kebutuhan masyarakat secara luas.

“Mindset taman itu kan beda antara taman private, taman di depan rumah dengan taman milik publik. Itu berbeda cara melihatnya,” ujarnya.

Dari konsep tersebut, Wahyullah menyebut lima unsur dasar yang menurutnya dibutuhkan dalam sebuah taman kota.

Pertama, pohon sebagai tempat berteduh. Kedua, rumput yang luas dan lapang agar masyarakat dapat duduk atau menggelar tikar. Ketiga, kursi taman bagi warga yang ingin duduk.

Keempat, jalur pejalan kaki atau jogging track. Kelima, lampu taman untuk mendukung penggunaan ruang publik.

“Jadi sebenarnya ruang terbuka atau taman kota itu cukup lima poin ini saja. Ada pohonnya tempat mereka berteduh, ada rumputnya supaya mereka bisa gelar tikar di situ,” terangnya.

Ia kemudian menambahkan, kursi taman diperlukan bagi masyarakat yang tidak ingin duduk di rumput. Sementara jalur aktivitas dan penerangan melengkapi fungsi dasar ruang publik.

“Ketika ada kursi-kursi tamannya, bagi yang nggak mau gelar tikar bisa duduk-duduk di situ. Yang keempat ada jalur trek berjalan kaki atau jogging track-nya. Terus yang kelima harus ada lampunya, lampu tamannya,” lanjut Wahyullah.

Kelima unsur tersebut, menurut dia, berkaitan dengan fungsi dasar taman sebagai ruang aktivitas masyarakat.

Wahyullah juga menyoroti aspek pemeliharaan dalam penataan taman.

Baginya, penggunaan terlalu banyak jenis tanaman dapat menambah kebutuhan perawatan.

“Kita cenderung terlalu banyak bunga. Bunga memang bagus, tetapi semakin banyak jenisnya, semakin repot pemeliharaannya,” ucap Wahyullah.

Karena itu, perencanaan taman perlu memperhitungkan kemampuan pemeliharaan setelah ruang publik selesai dibangun.

Sebagai contoh, ia mengungkapkan Bukit Kebo yang dikelola pihak swasta.

Kawasan tersebut menunjukkan bahwa ruang terbuka yang sederhana tetap dapat dimanfaatkan masyarakat untuk berkumpul dan beraktivitas bersama keluarga.

Selain fasilitas taman, Wahyullah juga menilai ruang bagi pedagang kaki lima (PKL) perlu diperhitungkan dalam penataan ruang publik di Indonesia.

“Kalau Indonesia plus ada area PKL. Itu harus dicatat, itu yang penting. Ada ruang yang disiapkan,” imbuhnya.

Fasilitas untuk membuang sampah juga perlu disiapkan sebagai bagian dari ruang publik.

Dengan konsep tersebut, Wahyullah menekankan bahwa perencanaan taman perlu memperhatikan fungsi, kenyamanan pengguna, ruang aktivitas serta kemudahan pemeliharaan.

Jadi, pembahasan mengenai taman kota tidak berhenti pada jenis tanaman yang ditanam.

Lebih jauh, ruang publik perlu disiapkan agar masyarakat memiliki tempat untuk berteduh, duduk, bergerak, berkumpul dan beraktivitas dengan nyaman.

 

Salsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *