SIVANA, BALIKPAPAN – Nama Chacaos.id lahir dari masa yang serba tidak menentu. Ketika pandemi Covid-19 membuat banyak aktivitas berpindah ke rumah, Nurlinda mulai membuat brownies untuk mengisi waktu sekaligus menciptakan suasana yang lebih hangat bersama keluarga.
Brownies itu mula-mula hanya ditawarkan kepada saudara, keluarga, dan teman. Tidak ada rencana besar untuk membangun usaha.
Kendati demikian, pesanan terus datang hingga kegiatan membuat kue di rumah berkembang menjadi usaha makanan ringan.
“Waktu itu kami cuma ingin bikin suasana rumah lebih hangat. Tidak menyangka dari dapur kecil bisa lahir usaha. Saya menawarkan terlebih dahulu kepada saudara, keluarga, dan teman sebelum perlahan dikenal lebih luas,” ucap Nurlinda kepada Sivanamedia.
Nama Chacaos.id diambil dari kata chaos, yang menggambarkan keadaan saat pandemi. Kata tersebut kemudian diolah menjadi nama yang dekat dengan cokelat. Nurlinda ingin produk yang dibuatnya justru menghadirkan rasa tenang bagi pelanggan.
“Namanya dari chaos, tapi kami maunya yang datang ke pelanggan justru rasa tenang,” ujarnya.
Produk pertama Chacaos.id adalah Brownies Sekat. Dari produk itu, Nurlinda mulai mengenali kebutuhan pasar. Brownies tidak hanya harus memiliki rasa yang enak, tetapi juga perlu mudah dibawa dan dapat bertahan lebih lama.
Masukan penting ia dapatkan ketika mengikuti sebuah pameran bersama pelaku usaha yang menjual Wedang Dayak.
Dalam kegiatan tersebut, Nurlinda mendapat gambaran mengenai keterbatasan produk basah. Masa simpannya pendek dan pemasarannya tidak mudah jika ingin menyasar pasar oleh-oleh.
Sejak itu, ia mulai mengembangkan produk kering, seperti brownies kering, brownies stik, dan kukis.
Pengembangan tersebut kemudian membawa Chacaos.id pada penggunaan bahan lokal. Salah satu produknya adalah Brownies Sekat Mangrove dan Mangrove Stick Brownies. Ada pula Kukis Kelor serta Kukis Pisang Mauli.
Untuk produk mangrove, Nurlinda menggunakan buah mangrove jenis Rhizophora mucronata yang diperoleh dari kawasan mangrove Graha Indah, Balikpapan.
Sebelum diolah, buah tersebut harus direndam sekitar tujuh hari untuk menghilangkan getah. Setelah dikupas, bahan dikeringkan, diproses menggunakan oven, lalu dihaluskan menjadi bubuk.
Nurlinda mendiskusikan pemilihan bahan tersebut dengan Agus Bai, pengelola Mangrove Center sekaligus pegiat konservasi mangrove.
Walhasil, langkah tersebut dilakukan untuk memastikan bahan yang digunakan sesuai dan dapat diolah sebagai bagian dari produk pangan.
“Banyak yang awalnya heran mangrove bisa dimakan. Setelah dicoba, biasanya mereka kembali beli,” kata Nurlinda sembari tersenyum.
Bagi pembeli, kata mangrove pada kemasan sering kali menjadi pemancing rasa ingin tahu. Rasa produknya sendiri tetap dibuat dekat dengan makanan ringan yang sudah dikenal, seperti cokelat dan kukis.
Pertanyaan yang paling sering muncul justru berkaitan dengan keamanan. Karena itu, Chacaos.id melakukan pengujian laboratorium untuk memeriksa aspek keamanan pangan, kandungan nutrisi, dan kemungkinan logam berat seperti timbal.
“Kalau soal aman, kami jawab dengan uji laboratorium. Biar produk yang bicara,” tekannya.
Selain mengembangkan bahan mangrove, Nurlinda juga membuat produk bebas gluten. Ia tidak menjadikan klaim kesehatan sebagai daya tarik utama, melainkan memperkenalkan mangrove sebagai bahan lokal yang dapat diolah menjadi makanan ringan.
Pasar Chacaos.id pada awalnya masih terbatas di Balikpapan dan sekitarnya. Pesanan datang dari rumah tangga, teman, serta pekerja kantoran. Produk kemudian mulai dititipkan di toko oleh-oleh di Balikpapan, Samarinda, dan Kalimantan Selatan.
Aktivitas pemerintahan dan berbagai kegiatan di kawasan Ibu Kota Nusantara turut membawa jenis pesanan baru. Chacaos.id mulai menerima permintaan dari instansi dan kegiatan dalam jumlah lebih besar, termasuk untuk kebutuhan hampers.
“Kalau dulu dominan pembeli lokal dan pesanan kecil, sekarang mulai ada order dalam jumlah besar dari instansi dan event,” tutur Nurlinda.
Perluasan pasar itu diikuti dengan perubahan cara berjualan. Chacaos.id memanfaatkan Shopee, TikTok, dan Instagram untuk menjangkau pembeli di luar wilayah Balikpapan. Pembayaran juga mulai menggunakan QRIS.
“Sekarang pembeli bisa pesan lewat ponsel dari mana saja. Kami yang harus sigap mengejar pesanannya,” sebut perempuan kelahiran 1980 itu.
Menurut Nurlinda, QRIS membantu transaksi sekaligus pencatatan pemasukan.
“QRIS itu sederhana, tapi sangat membantu. Transaksi jadi cepat, kami juga lebih mudah mencatat pemasukan,” imbuhnya.
Saat ini, Chacaos.id memproduksi sekitar 500 kemasan per bulan dengan bantuan dua pekerja lepas.
Nurlinda masih terlibat langsung dalam proses produksi, terutama pada bagian pemanggangan dan pengemasan. Omzet usahanya berada di kisaran Rp12 juta hingga Rp15 juta per bulan.
Di sisi lain, Bank Indonesia turut mendukung pengembangan Chacaos.id melalui pelatihan, bootcamp, promosi, dan bantuan peralatan produksi. Materi pelatihan mencakup pemasaran, kemasan, digitalisasi, serta cara membaca kebutuhan pasar.
“Kadang UMKM punya produk bagus, tapi bingung menjualnya. Dari pelatihan, kami jadi lebih paham membaca pasar,” ungkap Nurlinda.
Chacaos.id juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Salah satunya berupa bantuan peralatan produksi melalui Jospoll.
Di kawasan IKN, produk Chacaos.id dipasarkan melalui Nusantara Corner, sebuah stan yang difasilitasi Bank Indonesia dan ditempati bersama tiga pelaku UMKM lainnya.
Meski pasar bertambah, Nurlinda masih menghadapi kenaikan harga bahan baku, pasokan yang tidak selalu stabil, dan persaingan dengan produk sejenis. Ia memilih mempertahankan bahan lokal sambil memperbaiki kualitas rasa, kemasan, dan pemasaran.
Target berikutnya adalah memperluas pasar ke tingkat nasional dan membuka peluang ekspor.
Untuk itu, Nurlinda menyiapkan pengembangan tempat usaha, peningkatan kapasitas produksi, serta kelengkapan legalitas dan sertifikasi, termasuk BPOM dan HACCP.
“Kalau ingin naik kelas, kami harus berani melengkapi legalitas dan menatap pasar lebih jauh,” tandasnya.
Salsa




