SIVANA, BALIKPAPAN – Musik tidak hanya hadir sebagai pertunjukan dalam Apocalyptour Vol. 2: Kalamantana Arc di Ketimoer Kopi, Manggar, Balikpapan Timur, Selasa malam, 27 Oktober 2026.
Lewat kegiatan yang melibatkan sejumlah kolaborator itu, Majelis Sukaramai turut menyediakan ruang untuk mengangkat persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Salah satu penampilnya adalah Sukatani, duo musik punk asal Purbalingga, Jawa Tengah, yang dikenal melalui lagu-lagu bermuatan kritik sosial.
Grup yang terdiri dari Twister Angel dan Alectroguy ini memiliki lagu Kebangkitan yang mengangkat kritik terhadap eksploitasi alam dan dampaknya bagi manusia.
Dalam wawancara bersama Sivanamedia, personel Sukatani berbicara tentang karhutla yang mereka dengar dan amati selama berada di Kalimantan.
Mereka juga mengangkat persoalan pengelolaan lahan serta pengetahuan masyarakat adat dalam tata kelola hutan.
Sebelum tiba di Balikpapan, Sukatani telah mendengar kabar tentang kebakaran yang meluas, asap, dan lahan yang sulit dipadamkan.
Selama berada di Kalimantan, mereka melihat sejumlah titik di perjalanan dan menemukan komunitas musik yang turut membicarakan karhutla melalui kegiatan mereka.
Bagi Sukatani, pertunjukan musik dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan persoalan lokal kepada pendengar di daerah lain.
Pesan tidak hanya disampaikan melalui lirik, tetapi juga melalui poster dan kegiatan yang menyertai pertunjukan.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Matt Sakakeeny dalam Music, Sound, Politics (2024), yang membahas hubungan musik dengan ekspresi politik, perlawanan, dan solidaritas.
Yakni, musik dapat menjadi ruang penyampaian kritik dan pembentukan solidaritas, meskipun dampaknya terhadap perubahan sosial tidak bisa diasumsikan terjadi hanya melalui sebuah pertunjukan.
Di Balikpapan, Majelis Sukaramai menyediakan ruang bagi isu karhutla untuk hadir dalam kegiatan musik dan kolaborasi komunitas.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sejumlah kolaborator, pedagang, dan media yang turut meramaikan acara.
Selain fungsi musik dalam menyampaikan isu sosial, Sukatani menaruh perhatian pada perbedaan cara masyarakat mengelola lahan.
Mereka menyebut praktik tradisional yang dilakukan dalam skala terbatas dan memberi kesempatan bagi vegetasi untuk tumbuh kembali.
Praktik itu mereka bedakan dari kebakaran berskala besar yang mereka dengar dan amati selama berada di Kalimantan.
“Tapi kalau yang terjadi saat ini, ini beda dengan hal itu. Ini pasti ada maksud lain. Karena ini masif besar, dan polanya terlihat,” kata salah satu personel Sukatani saat diwawancara langsung.
Pernyataan itu merupakan pandangan personel Sukatani berdasarkan pengamatan mereka.
Ketika ditanya cerita apa dari Kalimantan yang ingin mereka sampaikan kepada pendengar di kota lain, salah satu personel Sukatani menekankan pentingnya pengetahuan masyarakat adat dalam mengelola hutan.
“Kalau aku pengen menyampaikan soal bagaimana cara masyarakat adat mengelola hutan sih. Pengennya itu. Jadi mengembalikan tata kelola dengan cara-cara adat yang kayak gitu,” tuturnya.
Menurut Sukatani, pengetahuan masyarakat adat tentang pengelolaan hutan merupakan salah satu hal yang ingin mereka bawa kepada pendengar di luar Kalimantan.
Mereka melihat komunitas lokal telah menyuarakan persoalan karhutla melalui berbagai kegiatan.
Dengan adanya rangkaian tur di Kalimantan, Sukatani berharap cerita mengenai pengelolaan hutan oleh masyarakat adat dapat menjangkau pendengar di daerah lain.
Salsa












